Perjuangan Ucup

Perjuangan Ucup
Kedatangan Fiqrie Dan Dinda


__ADS_3

"Kita hadapi ya, kita selesaikan satu persatu. Yang rumit akan segera pamit, yang sedih akan segera sudah. Terus maju ya, jangan menyerah semua akan baik-baik saja."


Zai melihat sepasang suami istri yang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Kakak Dinda." Zai yang maju selangkah lalu memeluk badan Dinda.


"Hmmm." Fiqrie yang sengaja berdehem agar Zai menyadari keberadaan abang.


"Dek." Dinda yang berusaha melepaskan pelukan Zai.


"Iya kakak." Zai yang masih saja memeluk badan Dinda.


"Dek kalian itu bukan muhrim jadi tidak boleh berpelukan." Fiqire yang mencoba melepaskan pelukan Zai dari Dinda.


"Bilang aja kalau abang cemburu ama aku." Zai yang melepaskan pelukannya ama Dinda.


"Nah itu adek tahu, ingat jaga batasan adek dengan kakak Dinda. Kakak Dinda itu istri abang maka dia itu kakak ipar adek." Fiqrie yang menasehati Zai.


"Ckckck dasar posesif." Zai yang terlihat tidak suka dengan sikap Fiqrie yang begitu posisi terhadap kedekatan dia dengan Dinda.


"Ayah ibu mana dek?" Dinda yang tidak ingin terjadi perdebatan antara abang dan adek akhir berbicara, Dinda mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Dapur, Ayo kita masuk kakak!" Zai menggandeng tangan Dinda lalu Zai membawa Dinda berjalan masuk ke dalam rumah.


Fiqrie yang tidak habis pikir dengan kelakuan Zai. Sehingga Fiqrie menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Zai menggandeng tangan Dinda berjalan masuk ke dalam rumah. Fiqrie yang berjalan di belakang mereka mencoba melepaskan tangan Zai dari Dinda.


"Abang apa-apaan sih." Zai berhenti berjalan, lalu dia melihat gandeng tangannya dan Dinda sudah berhasil di lepaskan oleh Fiqrie.


"Dek itu yang apa-apan masak istri abangnya di gandeng." Fiqrie yang berjalan sambil menggandeng tangan Dinda.


Fiqrie berjalan sambil bergandengan tangan ama Dinda ke arah dapur. Zai berjalan mengikuti Fiqrie dan Dinda. Sesampainya di dapur ayah,ibu dan Ucup melihat ke arah Fiqrie dan Dinda.


"Selamat malam ayah, ibu dan Ucup." Fiqrie dan Dinda berjalan menghampiri mereka.


"Eh ada Fiqrie dan Dinda, kapan kalian datang?" tanya ibu.


"Kita baru saja datang ibu." Fiqrie dan Dinda yang sudah berada di hadapan ayah dan ibu. Mereka lalu menyalim punggung tangan ayah dan ibu secara bergantian.


"Bagaimana kabar abang dan kakak Dinda?" Ucup yang berdiri dari kursi.


"Alhamdulillah kabar kami sehat." Fiqrie dan Dinda berjalan menghampiri Ucup. Mereka sudah berdiri di hadapan Ucup.


"Syukurlah kalau abang dan kakak sehat." Ucup menyalim punggung tangan Fiqrie dan Dinda secara bergantian. Setelah itu Ucup kembali duduk di kursinya.

__ADS_1


"Apa kalian berdua sudah makan?" tanya ayah.


"Belum ayah," jawab Fiqrie.


"Ayo kita makan bersama!" ajak ayah.


"Baiklah ayah." Fiqire mengangguk kepalanya karena menyetujui ayah nya untuk makan bersama.


Fiqrie dan Dinda berjalan melewati kursi yang Ucup duduk, mereka berjalan ke arah kursi yang kosong.Dinda dan Fiqrie duduk di kursi yg berada di hadapan ayah ibu. Zai yang baru saja datang ke dapur duduk di kursi kosong sebelah kiri Dinda. Mereka semua sudah berkumpul di meja makan maka ayah mempersilahkan mereka untuk makan.


Ibu memasukkan nasi berserta lauk pauk ke dalam piring lalu menyerahkan piring tersebut kepada ayah. Ayah mengambil piring tersebut dari tangan ibu. Ibu kembali mengambil piring lalu memasukkan nasi dan lauk pauknya ke dalam piring.


Dinda berdiri dari kursi lalu melakukan hal yang sama seperti ibu. Dinda yang sedang memegang piring di tangannya.


"Abang apa nasinya segini?" Dinda yang lagi memasukkan nasi ke dalam piring.


"Tambah lagi dek." Fiqrie melihat ke arah piring yang sedang Dinda masukan nasi.


"Apa segini udah cukup abang?" Dinda yang memasukan kembali satu centong nasi ke dalam piring.


"Udah dek," kata Fiqrie.


"Abang mau makan pakai apa?" tanya Dinda.


"Baiklah abang." Dinda memasukan semua lauk- pauk yang ada di atas meja ke dalam piring.


"Dek udah cukup." Fiqrie yang melihat ke arah Dinda, dia menyuruh Dinda untuk berhenti mengambil lauknya karena sudah cukup bagi Fiqrie.


"Iya, ini piringnya abang." Dinda memberikan piring kepada Fiqrie.


"Terimakasih dek." Fiqrie Mengambil piring dari tangan Dinda. Fiqrie meletakan piring tersebut di atas meja yang berhadapan dengan kursi duduk dia.


"Sama-sama abang." Dinda yang tersenyum


"Kakak aku juga mau di ambilin." Zai menyerah sebuah piring kepada Dinda.


"Dek ambil sendiri, jangan merepotkan kakak Dinda," kata Fiqrie.


"Iya betul tuh kata abang Fiqrie biasanya Zai juga bisa ngambil sendiri makanannya. Malam ini aja dia kelihatan manja di hadapan kakak Dinda," kata Ucup.


"Sini biar kakak ambilin, aku gak merasa di repotkan ama Zai." Dinda mengambil piring dari tangan Zia.


"Dengar tuh abang, kakak Dinda gak merasa di repotkan ama aku." Zai yang tersenyum mengejek kepada Fiqrie dan Ucup.

__ADS_1


"Apa segini udah cukup dek?" Dinda memperlihat piring yang sudah berisi nasi kepada Zai.


"Udah, aku makan cuma pakai sambal ikan aja." Zai yang melihat ke arah piring yang ada di tangan Dinda.


"Apa dek gak makan sayur?" tanya Dinda.


"Gak, dek gak suka makan sayur." Zai menggeleng kepalanya.


"Nih dek." Dinda memberikan piring kepada Zai.


" Makasih kakak Dinda." Zai mengambil piring dari tangan Dinda.


"Sama-sama, apa Ucup mau kakak ambilkan juga?" Dinda melihat ke arah Ucup.


"Tidak, aku bisa ambil sendiri kakak," jawab Ucup.


"Ya sudah kalau begitu." Dinda mengambil piring dari atas meja makan lalu dia mengisi piring tersebut dengan nasi dan lauk pauk.


Ayah memimpin membaca doa sebelum makan bersama-sama. Setelah itu mereka mulai memakan nasi dan lauk pauk yang ada di piring. Mereka makan malam bersama tanpa ada yang berbicara saat makan. Ayah melarang istri, anak-anaknya dan menantunya berbicara saat mereka makan makanya saat makan di keluarga Ucup tidak akan ada yang berbicara.


Setelah selesai menikmati makan malam bersama. Ucup berdiri dari kursinya, lalu dia mulai membereskan peralatan makan yang berada di atas meja makan. Ucup yang sudah terbiasa membereskan peralatan makan setelah makan.


Dinda yang melihat itu langsung berdiri dari kursinya.


"Udah Ucup biar kakak aja yang membereskan semua ini." Dinda yang merasa tidak enak melihat Ucup yang membereskan peralatan makan di atas meja.


"Tapi kakak," kata Ucup.


"Ucup ini perkerjaan wanita jadi biarkan kakak Dinda yang mengerjakan semuanya," kata Fiqrie.


"Biar aku saja kakak, aku gak mau entar kakak kecapekan," kata Ucup.


"Ucup tenang aja kakak gak akan capek lagian ini pekerjaan yang biasa kakak lakukan di rumah," kata Dinda.


Visual Muhammad Fiqrie



Visual Dinda Puspitasari



...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2