
"Di sisa tahun ini just want to have fun.
Sudah tidak ingin melakukan hal-hal yang berat, sudah ingin menutup buku pencapaian, tidak ingin lagi menuntut diri untuk melakukan hal luar biasa. Sudah berjuang dengan hebat. Been fighting great and that's enaugh."
"Iya ayah," jawab Ucup.
Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, Ucup berjalan keluar dari rumah. Ucup yang sudah sampai diteras rumahnya lalu dia berjalan ke arah motor. Ucup yang sudah duduk di atas motornya lalu dia menyalakan motornya. Ucup melajukan motornya dengan kecepatan standar.
Ucup sudah tiba di halaman rumah Gustaf, Ucup memakirkan motornya di samping motor Feri yang sudah terpakir di halaman rumah Gustaf. Mendengar suara motor yang datang Feri dan Gustaf yang berada di ruangan tamu segera berdiri dari tempat duduk.
"Itu pasti Ucup." Gustaf yang berjalan ke arah pintu rumahnya.
"Ya siapa lagi kalau bukan dia." Feri berjalan mengikuti Gustaf yang berada di depannya.
Ucup turun dari motor lalu di berjalan ke arah rumah Gustaf. Gustaf dan Feri yang sudah berdiri di teras rumah sambil melihat ke Ucup yang berjalan ke arah mereka.
"Assalamu'alaikum." Ucup yang sudah berdiri di depan teras rumah Gustaf.
"Waalaikumsalam, akhirnya kamu nyampai juga," kata Gustaf.
"Kami dari tadi nungguin kamu," kata Feri.
"Maafin aku, sudah buat kalian menunggu." Ucup yang masih berdiri di depan teras rumah Gustaf, Ucup yang wajah terlihat merasa bersalah telah membuat mereka menunggu diri nya.
"Iya udah kita maafin kok." Setelah melihat wajah Ucup seperti itu Gustaf merasa seperti tidak enak.
"Lah terus kamu kok masih berdiri di situ." Feri yang melihat Ucup masih berdiri di depan teras rumah Gustaf.
Ucup berjalan menghampiri mereka yang sudah berdiri di teras rumah Gustaf.
"Ayo kita masuk ke dalam rumah!" Gustaf yang mengajak Feri dan Ucup untuk. masuk ke dalam rumahnya.
"Ya udah kalau gitu kita masuk duluan ke dalam rumah." Ucup dan Feri berjalan ke arah pintu, mereka melewati pintu tersebut secara bergantian.
Ucup dan Feri sudah berada di ruang tamu ruang Gustaf. Feri duduk di sofa yang panjang yang berada di ruangan tamu tersebut.
"Ucup kamu duduk di sini." Feri menepuk sofa yang sama tepat berada di samping dia.
"Iya." Ucup berjalan ke arah Feri, setelah itu dia duduk di samping Feri.
Gustaf berjalan masuk ke dalam rumahnya, Gustaf sudah berada di ruangan tamu.
__ADS_1
"Kalian mau minum apa?" Gustaf yang berdiri melihat ke arah Feri dan Ucup.
"Kopi." Feri dan Ucup menjawab secara serentak.
"Mau kopi hitam atau kopi sacsetan?" tanya Gustaf.
"Aku kopi hitam," jawab Ucup.
"Kalau kamu apa?" Gustaf melirik ke arah Feri.
"Aku samain aja kayak Ucup," jawab Feri.
"Kalau gitu Aku kedapur dulu." Gustaf berjalan meninggal mereka yang berada di ruangan tamu.
Setelah Gustaf pergi meninggal ruangan tamu, maka tinggalah mereka di ruangan tamu tersebut.
"Apa kalian sudah mulai mengerjakan tugas kampus?" tanya Ucup.
"Belum," jawab Feri.
"Kenapa kalian belum mengerjakan tugas kampus?" tanya Ucup.
"Karena kami tidak tahu cara mengerjakan tugas itu," jawab Feri.
"Bukan tidak tahu, takutnya yang aku kerjakan itu salah makanya lebih kamu aja yang ngerjakan tugas kelompok tersebut." Feri yang menyadari tatapan Ucup berbeda seperti sedang mencurigai dia.
"Kalau salah kan bisa kita perbaiki bersama, terus sekarang mana tugas kelompoknya biar kita kerjakan bersama?" tanya Ucup.
"Sama Gustaf, makannya tunggu dia aja," jawab Feri.
"Ada apa kamu nyebut nama aku?" Gustaf yang sudah berada di ruangan tamu.
"Dimana tugas kampus kita?" tanya Ucup.
"Ada di dalam kamar, tunggu aku ambil sebentar." Gustaf berjalan ke arah kamarnya.
"Cepetan." Ucup menyuruh Gustaf segera mengambil tugas kampus.
Mereka duduk lesehan di lantai ruangan tamu Gustaf. Gustaf berada di sebelah kiri sedangkan kiri sedangkan Feri berada di di sebelah kanan. Ucup yang berada di tengah-tengah, dia yang membrwosing internet mengunakan laptop milik Gustaf. Mereka yang sedang fokus melihat ke arah laptop tidak menyadari seorang cewek berjalan ke arah mereka sambil membawa nampan yang berisi tiga gelas.
Si cewek tersebut meletakkan nampan yang berisi tiga gelas di atas meja. Si cewek tersebut melihat ke arah tiga orang pria yang sedang fokus melihat ke arah laptop.
__ADS_1
"Abang itu minum," kata si cewek tersebut.
"Letakan saja di atas meja." Gustaf yang masih fokus melihat ke arah laptop tanpa menoleh ke arah si cewek tersebut.
"Udah aku letakan di atas meja, jadi di minum dulu abang." Si cewek yang berdiri di hadapan mereka bertiga.
"Iya entar abang minum," kata Gustaf.
Feri yang mendengar suara si cewek tersebut lalu dia menoleh ke arah suara tersebut. Feri menatap ke arah si cewek yang berdiri di hadapan.
"Ini kopi kamu ya buat?" Feri yang mengambil segelas kopi dari nampan yang ada di atas meja sembil terus melihat ke arah si cewek tersebut.
"Iya, kenapa emangnya abang?" si cewek tersebut menoleh ke arah Feri.
"Pantasan kopi ini rasanya manis kayak yang buat." Feri menghembus segelas kopi tersebut baru setelah itu dia meminum kopi tersebut, sambil melihat ke arah si cewek yang membuat kopi tersebut.
"Heleh gombal," kata si cewek tersebut.
"Udah deh kamu jangan modusin adek aku." Gustaf melihat ke arah Feri dengan tatapan tajam.
"Wah ternyata dia adek kamu, kamu punya adek secantik ini kenapa tidak di kenalin ke aku?" tanya Feri.
"Ya gak mau lah aku." Gustaf yang tidak mau memperkenalkan adeknya kepada Feri.
"Kenapa kamu gak mau?" tanya Feri.
"Kamu kan play boy, entar adek aku kamu sakitin lagi," kata Gustaf.
"Ya enggak lah, aku gak mungkin nyakitin cewek secantik adek kamu." Feri yang berusaha untuk menyakinkan Gustaf bahwa dia tidak akan menyakiti adek Gustaf.
"Kalian bisa diam, dari tadi berisik sekali." Ucup yang berbicara dengan keras sambil fokus melihat ke arah laptop untuk menyelesaikan tugas kampus.
"Ini semua salah kamu." Gustaf yang mengalahkan Feri.
"Enak aja kamu nyalahin aku." Feri yang tidak terima di salahkan oleh oleh Gustaf.
"Kalau aku gak nyalahin kamu terus aku mau nyalahin siapa lagi?" tanya Gustaf.
"Kamu seharusnya mengakui kesalahan kamu sendiri tanpa melibatkan orang lain," kata Feri.
"Sudah-sudah kalian berdua itu sama-sama salah." Ucup yang sudah tidak tahan mendengar kan perdebatan kedua orang tersebut. Dia menghentikan perdebatan kedua pria tersebut.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...