Perjuangan Ucup

Perjuangan Ucup
Makanlah Sebelum Lapar Berhentilah Sebelum Kenyang


__ADS_3

"Dengan terluka, kamu akan belajar bagaimana cara untuk menjadi pribadi yang lebih kuat."


Beberapa Bulan Kemudian.........


Usaha keripik singkong Ucup dengan tiga varian rasa yaitu original, balado dan jagung manis di Terima oleh lidah para konsumen. Sehingga pesanan keripik singkong tersebut meledak dalam jumlah banyak. Sekarang Ucup tidak hanya menitip kan di kantin sekolah Zai dan kantin kampus melainkan di beberapa warung bakso dan warung kecil lainnya.


Ucup juga memperkerjakan teman-teman Zai untuk membantu memproduksi keripik singkong buatan Ucup. Mereka begitu senang mendapatkan pekerjaan sampingan membuat keripik singkong. Setelah pulang sekolah mereka pulang dulu makan siang baru pamit kepada orang tuanya untuk kerumah Zai berkerja sampingan membuat keripik singkong.


Dalam seminggu Ucup harus memproduksi keripik singkong sebanyak-banyaknya 3 kali. Hasil dari Usaha keripik singkong Ucup, dia telah bisa membayar uang ujian dan uang SKSS yang di bayar selama 6 bulan. Ucup merasa lebih senang bisa membantu meringankan beban teman Zai.


Teman-teman Zai yang ikut berkerja di usaha keripik singkong Ucup sudah tidak minta uang jajan kepada orang tua mereka. Mereka sudah bisa mandiri dengan menghasilkan uang sendiri dengan bekerja sampingan.


"Assalamu'alaikum." Ucup yang baru saja pulang dari kampus menghampiri Zai dan teman-temannya.


"Walaikumsalam abang bos." Mereka menoleh ke arah Ucup lalu mereka serentak menjawab salam Ucup.


"Apa kalian sudah makan?" Ucup yang sudah berdiri di hadapan mereka.


"Udah abang bos," jawab Aska, Ridho dan Zai.


"Belum," jawab Anton.


"Jadi yang benar itu mana udah atau belum?" Ucup melihat ke arah mereka satu persatu.


"Anton bohong abang bos, dia udah makan tadi," kata Ridho.


"Aku gak bohong abang bos, aku benar belum makan dua kali. Perut aku masih lapar nih abang bos." Anton yang tersenyum sambil nyegir ke arah Ucup, sambil memegangi perut yang sudah buncit seperti ibuk-ibuk hamil 5 bulan.


"Hahahaha." Mendengarkan perkataan Anton mereka semua tertawa bahak-bahak kecuali Anton.


"Isisis kalian kok ngetawain aku sih." Anton yang wajahnya cemberut melihat teman-temannya mengetawain dirinya.


"Gimana gak ketawa itu perut atau gentong sih?" Ridho yang menujukan jarinya ke arah perut Anton.


"Perut lah," jawab Anton.


"Tapi kok dari tadi gak kenyang-kenyang udah ngemil keripik singkong juga," kata Ridho.


"Abang bos sebaiknya Anton gak usah di boleh kerja di sini lagi," kata Aska.


"Kenapa begitu Aska?" Ucup melihat ke arah Aska.


"Habis Anton lebih banyak ngemil keripik singkong nya, dari pada kerjanya kalau begini terus abang bos bisa rugi." Aska memberitahukan kepada Ucup bahwa Anton lebih banyak makan dari pada bekerja.

__ADS_1


"Nah betul tuh yang Aska katakan abang Bos, mulut Anton dari tadi gak berhenti mengunyah terus," kata Ridho.


"Ahahah kalian benar-benar jahat ama aku, abang bos yang ganteng, baik hati, rajin beribadah dan gemar menabung jangan dengerin omongan mereka berdua." Anton yang merasa takut di berhentikan berkerja sampingan di keripik singkong buatan Ucup, dia segera merayu Ucup dengan rayuannya.


"Udah-udah kalian gak boleh ngomong seperti itu, Anton boleh makan keripik singkong di sini tapi yang sotiran kalau yang bagusnya harus kita jual," kata Ucup.


"Baiklah abang bos aku cuma akan memakan kripik singkong yang sotiran," kata Anton.


"Selain Anton apa ada yang lapar lagi?" tanya Ucup.


"Gak ada abang bos." Aska, Ridho dan Zai menggelengkan kepalanya.


"Kalau gitu begitu abang pergi dulu." Ucup membalikkan badan lalu dia hendak berjalan.


"Abang mau kemana?" tanya Zai.


"Mau beli nasi bungkus." Ucup membalikkan badan melihat ke arah Zai.


"Abang aku juga mau nasi bungkus," kata Zai.


"Kita juga mau abang bos masak cuma Anton aja yang di belikan," kata Ridho.


"Heleh gaya kalian tadi ngetawain aku, giliran aku mau di beliin nasi bungkus ama abang bos kalian semua pada iri." Anton yang mengejek teman-temannya.


"Ya udah kalau gitu abang beli dulu." Ucup membalikkan badan lalu dia berjalan meninggalkan mereka.


Malam ini ayah ibu Ucup dan Zai sudah duduk di lesehan sebuah restauran.


"Abang kita nunggu siapa dari tadi?" Zai yang merasa sudah lapar tapi mereka belum memesan makanan sama sekali.


"Bentar lagi kamu juga tahu," kata Ucup.


"Apa adek udah lapar?" tanya ibu.


"Iya aku udah lapar ibu," jawab Zai.


"Ucup sebaiknya kita pesan dulu makan dan minuman." Ayah menyarankan Ucup untuk memesan makan dan minum terlebih dahulu.


"Pelayanan." Ucup memanggil pelayanan restauran.


Setelah mereka memesan makan dan minuman, mereka mengobrol sambil menunggu pesanan makan dan minuman.


"Assalamu'alaikum," kata Fiqrie dan Dinda.

__ADS_1


"Walaikumsalam," kata mereka serentak.


"Ayah ibu apa kabar?" Fiqrie dan Dinda menyalim punggung tangan ayah ibu secara bergantian.


"Alhamdulillah kami sehat," jawab ayah.


"Kalian apa kabar?" tanya ibu.


"Kami alhamdulillah baik ibu," jawab Dinda.


Fiqrie dan Dinda duduk di tempat yang masih kosong. Ucup dan Zai menyalim punggung tangan Fiqrie dan Dinda secara bergantian.


"Sebenarnya ini ada acara apa?" Fiqrie yang penasaran karena tidak biasanya mereka sekeluarga makan malam di sebuah restauran.


"Tidak ada acara apa-apa Fiqrie," jawab ayah.


"Terus kenpa kita sekeluarga makan di sini ayah?" tanya Fiqrie.


"Abang gak usah banyak tanya yang penting malam ini kita bisa berkumpul dan makan malam bersama." Ucup memberitahukan Fiqrie untuk tidak banyak bertanya, Ucup meminta Fiqrie untuk menikmati kebersamaan mereka dengan makan malam bersama.


Pelayanan restauran datang membawakan makanan dan minuman yang telah keluarga Ucup pesan. Zai begitu tampak antusias dan tidak sabaran untuk menikmati makanan yang telah di sajikan di atas meja tersebut. Ayah memimpin membaca doa sebelum makan setelah itu mereka mulai menyatap hidang yang telah di sajikan di atas meja tersebut.


Setelah selesai makan malam bersama, mereka masih duduk di tempat lesehan tersebut.


"Alhamdulillah kenyang juga." Zai yang bersendawa karena kekenyangan.


"Adek mau makan apa lagi?" tanya ibu.


"Gak muat lagi perut aku ibu." Zai yang memegang perutnya sudah ke kenyangan.


"Hahahaha." Mereka yang sedang duduk di lesehan tersebut mentertawakan Zai yang kekenyangan.


"Makanya adek, makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang."Fiqrie yang menasehati Zai.


" Gak bisa berhenti lah abang kalau perut aku belum kenyang," kata Zai.


"Nah kalau udah kenyang gini, gimana rasanya perut kamu?" tanya Fiqrie.


"Ya sakitlah abang,"jawab Zai.


"Makanya itu kamu di suruh makan itu sedikit aja, biar gak kekenyangan," kata Fiqrie.


"Kalau aku makan sedikit ya lapar lah abang," kata Zai.

__ADS_1


"Kalau kamu lapar kan bisa makan lagi," kata Fiqrie.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2