
"Jangan mencari tahu tentang seseorang kepada orang lain, sebab yang baik padanya akan merahasiakan keburukannya. Dan yang membencinya membuat kamu tidak suka padanya."
Gustaf dan Feri sudah menyelesaikan tugas Ucup. Tidak lama kemudian ibuk dosen menyuruh seluruh mahasiswa untuk mengumpulkan tugas tersebut.
"Ucup biar aku aja yang ngumpulin tugasnya." Feri berdiri dari bangku lalu dia mengambil tugas Ucup, tugas Gustaf dan tugas miliknya. Feri berjalan ke arah ibuk dosen sambil membawa tiga buah buku.
"Apa kepala kamu masih pusing?" tanyan Gustaf.
"Masih," jawab Ucup.
"Setelah ini kamu mau kemana?" tanya Gustaf.
"Pulang ke rumah," jawab Ucup.
"Emang kamu sanggup bawa motor?" Gustaf melihat ke arah Ucup dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
"Sanggup gak sanggup sih," jawab Ucup.
"Ya udah kalau aku aja yang bawa motor kamu." Mendengar perkataan Ucup yang seperti membuat Gustaf makin di buat khawatir.
"Emang kamu gak bawak motor?"tanya Ucup.
"Aku bawak motor tadi," jawab Gustaf.
"Kalau kamu bawak motor aku lalu motor kamu siapa yang bawak?" tanya Ucup.
"Iya juga kok aku gak mikir sampai situ tadi."Setelah mendengarkan perkataan Ucup, baru lah Gustaf berfikir siapa yang akan membawa motornya.
"Udah motor kamu biar aku aja yang bawak."Feri yang sudah selesai mengantarkan tugas ke meja ibuk dosen lalu dia berjalan kembali ke tempat duduknya. Saat Dia sudah berada di dekat Ucup dan Gustaf, dia mendengar pembicaran mereka. Feri sudah berdiri di samping Ucup.
"Emang kamu gak bawak motor?"tanya Ucup.
"Gak, tadi dia nebeng ama aku kekampus," jawab Gustaf.
"Terus kita mau pulang sekarang atau nantik?" tanya Feri.
__ADS_1
"Emang kita udah boleh pulang?" tanya Ucup.
"Udah," jawab Feri.
"Masak sih?" Ucup yang terlihat ragu dengan perkataan Feri.
"Kalau kamu gak percaya lihat aja tuh." Feri yang menujukan jarinya ke arah depan.
"Ternyata ibuk dosen sudah keluar dari kelas." Ucup melihat ke arah depan, dia melihat ibuk dosen sudah tidak berada di kelas tersebut. Dia juga melihat beberapa mahasiswa keluar dari kelas tersebut dengan melewati pintu.
Mereka sudah berada di parkir kendaraan roda dua di kampus. Mereka berada di samping motor Ucup.
"Ucup kunci motor kamu mana?" Gustaf mengulurkan tangannya ke arah Ucup.
"Tunggu sebentar, tadi aku taruk kunci motor dimana ya?" Ucup yang sedang memeriksa saku celana dan saku bajunya untuk mencari kunci motornya.
"Ya mana aku tahu." Gustaf mengangkat kedua bahunya.
"Tunggu biar aku cari dulu." Ucup yang sedang berusaha mencari kunci motornya.
"Coba ingat-ingat tadi kamu taruk di mana kunci motornya." Feri menyuruh Ucup untuk mengingat dimana dia meletakkan kunci motor nya.
"Udah periksa di dalam tas ransel kamu?" tanya Gustaf.
"Belum." Ucup segera melepaskan tas ransel dari punggung nya lalu dia membuka resleting tas ransel tersebut.
"Gimana ketemu?" Gustaf yang melihat Ucup masih memeriksa tas ranselnya.
"Alhamdulillah ketemu juga, nih kunci motor aku."Akhinya Ucup menemukan kunci motor nya berada di dalam tas ransel setelah mendapatkan kunci motornya di dalam tas ranselnya. Ucup menutup kembali reseleting tas ransel lalu dia memberikan kunci motornya ketangan Gustaf.
"Syukur lah udah ketemu, Feri kunci motor aku udah ama kamukan?" Kunci motor Ucup sudah berada di tangan Gustaf, lalu dia bertanya kepada Feri.
"Iya nih kunci motor kamu." Feri menujukan kunci motor milik Gustaf yang sudah berada di tangann.
Setelah melihat kunci motor miliknya berada di tangan Feri. Gustaf naik ke atas motor Ucup lalu dia mengeluarkan motor tersebut dari parkiran. Ucup duduk di atas motornya, yang berada di belakang Gustaf. Gustaf mengendarai motor milik Ucup, motor yang Gustaf kendarai melewati gerbang kampus.
__ADS_1
Gustaf mengendarai motor Ucup di jalan raya. Ucup memeluk pinggang Gustaf lalu dia menyadarkan kepalanya di bahu Gustaf.
"Tangan kamu jangan di pinggang aku." Gustaf merasa risih dengan tangan Ucup yang berada di pinggangnya sambil memeluk pinggang nya.
"Aku takut jatuh Gus." Ucup yang makin memeluk erat pinggang Gustaf.
"Tapi gak usah pakai peluk-peluk aja juga.Aku malu di lihatin ama pengendara motor lainnya." Gustaf yang merasa risih karena pengendara motor melihat ke arah Gustaf dan Ucup. Mereka senyum-senyum melihat Ucup memeluk pinggang Gustaf.
"Kamu gak usah pedulikan mereka, mendingan kamu cepat bawak motornya biar kita cepat sampai rumah aku." Ucup menyuruh Gustaf untuk tidak usah memperdulikan orang lain, lalu Ucup menyuruh Gustaf untuk ngebut membawa motor agar segera sampai ke rumah Ucup.
Mereka sudah tidak di depan rumah Ucup, Gustaf memikirkan motor milik Ucup di depan rumah Ucup. Mereka turun dari motor tersebut, mereka berjalan ke arah rumah Ucup. Ucup yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Kunci motor aku mana?" Ucup mengulurkan tangannya ke arah Gustaf.
"Nih kunci motor kamu." Gustaf memberikan kunci motor tersebut ke tangan Ucup.
Setelah kunci motor tersebut berada di tangan Ucup. Ucup mulai membuka pintu rumah dengan mengunakan kunci yang berada di gantung yang sama dengan kunci motor Ucup. Ucup sudah berhasil membuka kunci pintu rumahnya lalu dia membuka pintu rumah tersebut.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah Ucup, mereka berdua duduk di sofa yang berada di rungan tamu.
"Ayah ibu kamu mana?" tanya Gustaf.
"Biasa ke kebun." Ucup yang bergantung posisi dengan berbaring di atas sofa yang panjang tersebut.
"Ucup aku haus, boleh minta minum?" Gustaf yang memegang tenggorokan nya karena dia merasa haus.
"Boleh, tapi ambil aja sendiri di dapur." Ucup menyuruh Gustaf untuk mengambil sendiri minuman di dapur.
"Iya aku kedapur dulu." Gustaf bangkit dari sofa tersebut lalu di berjalan ke arah dapur.
Setelah sampai di dapur Gustaf membuka pintu kulkas dia mengambil sebotol yang berisi air putih. Gustaf membuka tutup botol tersebut lalu dia memimum air dari dalam botol tersebut. Gustaf menutup kembali pintu kulkas tersebut.
Gustaf yang melihat tudung saji di dalam meja makan tersebut lalu dia berjalan smabil membawa botol yang berisi air putih tersebut. Gustaf yang sudah berada di depan tudung saji tersebut lalu dia membuka tudung saji tersebut.
Ternyata di dalam tudung saji tersebut ada sambel telur campur tempe dan tumis kangkung.
__ADS_1
Gustaf menutup kembali tudung saji tersebut lalu dia mengeluarkan ponsel yang berada di dalam saku celananya. Gustaf menghubungi nomor ponsel seorang, tetapi panggil pertama telpon. tersebut tidak dia angkat oleh seorang tersebut.
...~ Bersambung ~...