
"Gak papa, minta aja sama Allah.
Kalau kita enggak punya harta gak apa-apa, kita punya Doa.
Kalau kita tampangnya biasa aja gak apa-apa, doa kita itu sudah menarik di sisi Allah.
Pokoknya kalau kita gak punya modal atau apapun dalam hidup, kita masih punya Allah tinggal minta saja."
"Udah kamu ambil aja ayah cuma punya uang segini, dari pada kamu tidak ada uang jajan." Ayah menyuruh Zai untuk mengambil selembar uang kertas yang bernominal 5 ribu rupiah tersebut.
"Ya udah kalau gitu aku ambil." Dengan terpaksa Zai mengambil uang kertas dengan nominal 5 ribu rupiah dari tangan ayah, setelah itu Zai berjalan pergi dengan wajah yang cemberut.
Zai sudah berada di samping motornya Aska, Aska melihat ke arah Zai yang wajahnya terlihat cemberut.
"Kamu kenapa?" tanya Aska.
"Masak aku cuma di kasih uang jajan segini." Zai memperlihatkan selembar uang kertas yang bernominal 5 ribu rupiah kepada Aska.
"Harus kamu bersyukur." Aska menasehati Zai untuk bersyukur mendapatkan uang sebesar 5 ribu rupiah.
"Masak aku harus bersyukur dapat uang jajan segitu, segitu itu dapat apa Aska?" Zai yang berubah wajah berubah menjadi kesal karena Aska menasehati dia.
"Dapat gorengan, ayo cepat naik ke motor aku!" Aska menyuruh Zai untuk segera naik ke atas motornya.
"Ya elah cuma dapat gorengan doang gak bisa buat aku kenyang, nih aku mau naik ke atas motor kamu." Setelah itu Zai segera naik keatas motor Aska.
"Om kami berangkat dulu kesekolah." Aska melihat ke arah ayah Zai yang masih berdiri di teras rumahnya.
"Jangan ngebut bawa motornya Aska, Hati-hati di jalan." Ayah menasehati Aska untuk tidak ngebut bawa motornya di jalan raya.
"Om tenang aja motor aku ini buntut jadi gak bisa di bawa ngebut di jalan raya." Aska berbicara sambil tersenyum ke arah ayah Zai. Setelah itu dia menyalakan motornya, dia mengendarai motor tersebut.
Di Kampus
__ADS_1
Ucup yang sudah berada di parkiran kampus, setelah memikirkan motornya dia segera berjalan terburu-buru meninggalkan parkiran kampus tersebut. Ucup berjalan ke arah ke kelas saat dia berjalan ke arah kelasnya dia melewati beberapa kelas yang ada di kampus tersebut.
Saat Ucup sedang berjalan tiba-tiba seorang mahasiswi menyapa Ucup.
"Assalamu'alaikum abang Ucup." Seorang mahasiswi yang sedang berdiri di depan pintu kelas menyapa Ucup.
"Walaikumsalam." Ucup yang berjalan melewati seorang mahasiswi tersebut tanpa menoleh ke arah seorang mahasiswi tersebut.
"Tunggu dulu abang Ucup." Seorang mahasiswi melihat Ucup berjalan melewati dia begitu saja lalu dia berjalan menyusul Ucup.
Ucup terus saja berjalan tanpa memperdulikan mahasiswi tersebut.
"Abang Ucup kok sombong sih ama aku."Seorang mahasiswi tersebut berjalan terburu-buru agar bisa mendahului Ucup. Setelah itu seorang mahasiswi tersebut berdiri di hadapan Ucup, dia sengaja melakukan hal itu untuk menghalangi jalan Ucup.
" Kamu kenapa menghalangi jalan aku?" Ucup berhenti berjalan menoleh ke arah seorang mahasiswi yang sedang berdiri di hadapan nya.
"Abang Ucup jawab dulu pertanyaan aku, baru abang boleh lewat," kata mahasiswi tersebut.
"Cepatan kamu mau tanya apa?" Ucup yang berbicara dengan nada ketus kepada mahasiswi tersebut.
"Iya aku ingat, kamu Aqila kan. Sekarang kamu minggir aku mau lewat." Ucup menyuruh Aqila untuk mengeserkan badannya agar dia bisa lewat.
"Ternyata abang Ucup ingat ama aku." Aqila yang tersenyum setelah mengetahui bahwa Ucup mengingat namanya.
"Aku tidak punya banyak waktu jadi sebaiknya kamu biarkan aku lewat." Ucup yang berbicara ketus kepada Aqila.
"Abang Ucup kok ketus sih bicara nya ama aku." Aqila mengeserkan badannya agar Ucup bisa melewati nya, dia bingung dengan sikap Ucup yang berbeda saat bertemu di Indo maret dan di kampus.
Ucup berjalan melewati Aqila dengan terburu-buru tanpa menoleh sedikit pun. Sedangkan Aqila yang terus saja melihat ke arah punggung Ucup. Aqila yang melihat punggung Ucup sampai menghilang dari pandangannya. Ucup yang terus saja berjalan ke arah kelas dengan terburu-buru, dia takut terlambat ke kelasnya.
Ucup sudah berada di depan pintu kelas lalu dia segera berjalan masuk ke dalam kelas tersebut. Beberapa mahasiswa yang melihat Ucup masuk ke dalam kelas tanpa mengucapkan salam merasa terkejut karena tidak seperti biasanya Ucup bersikap seperti itu.
"Assalamu'alaikum." Feri yang sengaja mengucapkan salam kepada Ucup.
__ADS_1
"Walaikumsalam." Ucup yang berhenti berjalan, dia sudah berada di dalam kelas.
"Kenapa berhenti Ucup?" Gustaf yang melihat ke arah Ucup.
"Itu aku lupa mengucapkan salam," jawab Ucup.
"Kalau lupa ulangin lagi aja." Gustaf memberikan ide agar Ucup mengulangi laginya.
"Ulangi kayak mana Gus?" Ucup melihat ke arah Gustaf yang duduk di kursi samping Feri.
"Kamu keluar dari kelas ini terus setelah itu kamu ngucapin salam dulu baru masuk kedalam kelas ini." Gustaf yang menjelaskan kepada Ucup.
"Baiklah aku keluar dulu dari kelas ini." Ucup membalikkan badannya lalu dia berjalan ke arah pintu kelasnya. Saat Ucup berjalan ke arah pintu kelasnya beberapa mahasiswa yang berada di dalam kelas tersebut mencoba menahan ketawa agar tidak terdengar ama Ucup.
Ucup sudah keluar dari kelasnya, dia sudah berdiri di depan pintu kelasnya.
"Assalamu'alaikum," kata Ucup.
"Walaikumsalam."Beberapa mahasiswa yang berada di dalam kelas menjawab secara serentak.
Setelah mendengar beberapa mahasiswa yang berada di dalam kelas menjawab salam nya Ucup berjalan masuk ke dalam kelas tersebut. Ucup yang sudah masuk ke dalam kelas lalu dia mendudukkan pantatnya di kursi yang berada di samping Gustaf.
"Kamu bawakan tugas kelompok kita?" tanya Ucup.
"Bawalah," jawab Gustaf.
"Tugas kelompok kita udah kamu buat kayak makalah kan?" tanya Ucup.
"Udah nih lihat." Gustaf membuka tasnya lalu dia mengambil tugas kelompok yang sudah berbentuk makalah dari dalam tasnya lalu dia memberikan tugas kelompok kepada Ucup.
"Kerja bagus kamu." Ucup memuji Gustaf lalu dia mengambil tugas kelompok yang sudah berbentuk makalah dari tangan Gustaf.
"Lah kok cuma Gustaf aja yang di puji, aku tadi yang ngasih ide ke Gustaf untuk membuat tugas kelompok kita jadi berbentuk seperti makalah." Feri yang merasa itu saat hanya Gustaf yang mendapatkan pujian dari Ucup, padahall dia yang memberikan ide kepada Gustaf untuk membuat tugas kelompok itu kedalam bentuk makalah.
__ADS_1
"Oo.... ternyataa kamu juga ikut.Kalian berdua itu emang hebat gak salah aku jadikan kalian berdua itu sebagai teman aku." Ucup yang memuji Gustaf dan Feri agar tidak ada yang merasakan iri tentang pujian Ucup.
...~ Bersamanbung ~...