
"Terkadang berpura-pura bodoh sangat efektif untuk mengukur kepintaran orang lain."
Ayah, ibu dan Zai berjalan masuk ke dalam rumah. Sekarang ayah, ibu dan Zai sudah berada di ruangan tamu. Zai duduk di sofa yang berada di hadapan ayah dan ibu. Zai yang masih mengusap telinganya panas karena mendapatkan jeweran dari Ucup.
"Masih sakit adek?" Ibu yang melirik ke arah Zai yang mengusap telinganya.
"Iya ibu," jawab Ucup.
"Kamu dari mana?" Ayah yang berbicara dengan suara yang tegas.
"Rumah teman ayah." Zai yang tidak berani menatap matanya ke arah ayah lalu menundudukan kepalannya.
"Teman kamu yang mana?" Ibu yang penasaran Zai pergi kerumah teman yang mana.
"Aska ibu," jawab Zai.
"Kenapa kamu tidak ngomong tadi kalau mau kerumah Aska?" tanya ibu.
"Aku takut ibu tidak akan mengizinkan aku main ke rumah Aska." Zai sengaja tidak memberitahukan ibu kalau dia mau pergi main kerumah Aska.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" Ibu yang keningnya berkerut setelah mendengar perkataan Zai, ibu tidak habis pikir bahwa Zai akan berkata seperti itu.
"Karena orang tua teman-teman Aska yang lainnya, menyuruh anak-anak untuk tidak berteman dan tidak main ke rumah Aska." Zai yang wajahnya tampak sedih karena teringat kejadian saat Aska di jauhi oleh teman-temannya yang lain.
"Kenapa mereka melarang anak-anaknya berteman dengan Aska?" tanya ibu.
"Aska anak broken home selain itu____," jawab Zai.
"Selain itu apa?" tanya ayah.
"Anak kurang mampu ayah," jawab Zai.
"Dengarkan ayah dan ibu tidak akan pernah melarang Zai untuk berteman dengan siapa saja. Hanya saja ayah dan ibu akan melarang Zai berteman dengan teman-teman yang membawa pengaruh buruk bagi Zai," kata ayah.
"Apa ayah dan ibu tidak melarang aku dan Aska berteman?" Zai mengangkat kepalannya lalu melihat ke arah ayah dan ibu secara bergantian.
"Iya kami tidak melarang dek berteman dengan Aska, lagian Aska itu anak yang pintar dan sholeh," jawab ibu.
"Terima kasih ayah dan ibu tidak melarang aku berteman dengan Aska. Apa ayah dan ibu sudah tidak marah lagi ama aku?" tanya Zai.
__ADS_1
"Ayah masih marah dengan kamu, kamu telah membuat kami semua khawatir." Ayah menatap tajam ke arah Zai.
"Maafkan aku ayah dan ibu." Zai berdiri dari sofa lalu dia berjalan ke arah ayah dan ibu, dia berjongkok di hadapan ayah dan ibu sambil menyalim punggung tangan ayah dan ibu secara bergantian.
"Kenapa ponsel dek tidak bisa di hubungi?" tanya ibu.
"Maaf ibu ponsel aku habis baterainya." Zai mengeluarkan ponsel dari saku celana lalu dia memperlihatkan ponselnya kepada ibunya bahwa ponsel sudah mati karena kehabisan baterai.
"Makanya lain kali kalau main itu ingat waktu ini udah malam belum pulang juga buat ayah, ibu dan Ucup khawatir," kata ayah
"Aku janji ayah gak bakal lupa waktu kalau main." Zai yang menatap mata ayahnya dengan tatapan yang bersungguh-sungguh.
"Baiklah ayah pegang janji kamu," kata ayah.
"Apa ayah dan ibu udah memaafkan aku?" tanya Zai.
"Kami sudah memaafkan Zai." Ayah dan ibu serentak menjawab.
"Terimakasih ayah dan ibu sudah memaafkan aku." Zai yang wajah terlihat senang karena sudah di maafkan oleh ayah dan ibu.
"Sana adek minta maaf ama abang Ucup," kata ibu.
"Kamu udah membuat Ucup khawatir, bahkan dia sampai belum makan hanya untuk mencari kamu," jawab ayah.
"Tapi abang Ucup gak ada mencari aku." Zai merasa tidak yakin bahwa Ucup mencari keberadaannya tadi.
"Ucup tadi pamit mencari adek ama ayah ibu," kata ibu.
"Kamu udah makan?" tanya ayah.
"Belum ayah," jawab Zai.
"Ya sudah sana makan," kata ibu.
"Iya, ayah ibu aku makan dulu." Zai berdiri lalu dia berjalan ke arah dapur.
Esokan Harinya.......
Pagi ini Zai bangun sendiri tanpa di bangunkan oleh ibu. Setelah mandi Zai melaksanakan shalat subuh di dalam kamarnya. Setelah selesai shalat subuh Zai bersiap-siap untuk kesekolah, dia memakai pakaian seragam sekolah putih abu-abu.
__ADS_1
Zai berdiri di depan cermin, dia memakai minyak rambut lalu menyisir rambutnya mengunakan sisir. Dia menyisir rambut yang ada di kepala sehingga terlihat rapi. Setelah itu Zai mulai memasangkan dasi di kerah bajunya. Zai sudah memasang dasi di kerah bajunya. Dia melihat pantulan dirinya yang berada di dalam cermin tersebut.
Zai tersenyum melihat ke arah cermin, dia sudah terlihat begitu ganteng dengan memakai pakaian putih abu-abu. Zai berjalan ke arah pintu kamarnya, dia membuka pintu kamarnya lalu dia berjalan keluar dari kamar.
Zai keluar dari kamarnya saat yang bersamaan dengan Ucup yang juga keluar dari kamar.
"Pagi Zai." Ucup yang menoleh ke arah Zai yang berada di depan pintu kamarnya.
Zai berjalan melongos tanpa menyapa Ucup, Ucup yang melihat kelakuan Zai hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ucup merasa yakin bahwa Zai masih merasa marah kepada dia karena sudah menjewer kuping sampai merah. Ucup menjewer kuping Zai karena dia marah ama Zai. Marahnya Ucup kepada Zai karena rasa peduli dan sayangnya Ucup terhadap Zai yang merupakan adeknya.
Ucup marah kepada Zai juga ada sebabnya, karena Zai tidak tahu waktu ketika main kerumah Aska dari sore dia kesana sampai malam dia belum pulang kerumah. Selain itu nomor ponsel Zai juga tidak bisa di hubungi membuat ayah, ibu dan Ucup merasa khawatir mereka takut terjadi sesuatu kepada Zai.
Zai yang sudah berada di dapur lalu menghampiri ayah dan ibu.
"Selamat pagi ayah dan ibu." Zai yang berdiri di samping ibu.
"Pagi adek." Ayah dan ibu menjawab secara serentak.
"Ayo sarapan dek!" Ibu yang mengajak Zai untuk sarapan.
"Maaf ayah dan ibu aku gak bisa sarapan." Zai yang menolak ajakan ayah dan ibu untuk sarapan.
"Kenapa?" Ibu yang melihat ke arah Zai.
"Hari ini aku jadi petugas upacara bendera ayah ibu," jawab Zai.
"Wah hebat anak ayah, ayah bangga ama kamu." Ayah tersenyum melihat ke arah Zai.
"Makasih ayah. Ayah dan ibu aku berangkat kesekolah dulu." Zai menyalim punggung tangan ayah dan ibu secara bergantian.
Setelah selesai menyalim punggung tangan ayah dan ibu, Zai masih berdiri disamping ibu. Ayah dan ibu melihat kearah Zai.
"Lah kenapa kamu belum berangkat?" tanya ayah.
"Ayah dan ibu pasti melupakan sesuatu," Zai yang melihat ke arah ayah ibu.
"Ayah dan ibu melupakan apa?" Ibu yang keningnya berkerut karena binggung.
...~ Bersambung~...
__ADS_1