
"Kenapa air mata dan keringat rasanya asin? karena sebuah perjuangan tidak ada yang manis."
"Iya aku mau ayah, biar ibu di rumah menemani Zai," jawab Ucup.
Setelah selesai sarapan ayah dan Ucup berangkat mengunakan motor ayah. Ucup yang mengendarai motor sementara ayah duduk di belakang Ucup.
Ucup yang mengendarai motor ke arah kebun singkong. Saat di jalan menuju ke arah kebun singkong ayah menyuruh Ucup melajukan motornya lurus.
"Lah kok kita lurus ayah, seharusnya kita belok ke arah kanan." Ucup yang mengendarai motor ke arah lurus.
"Kita mau ke kebun pak Joko," kata ayah.
"Mau ngapain kita kesana ayah?" tanya Ucup.
"Kita mau membantu pak Joko untuk memanen singkong," jawab ayah.
Setelah ayah dan Ucup berangkat ke kebun singkong ibu masuk ke dalam rumah. Ibu berjalan ke arah kamar Zai, ibu yang sudah berdiri di depan kamar Zai.
Tok.....Tok.....Tok
"Dek ini ibu."
"Dek buka pintunya ibu mau bicara."
Zai yang sedang berbaring sambil mendengarkan musik melalui ponselnya mengunakan headset di telinga, sehingga Zai tidak mendengar ibu yang sedang mengetuk pintu di kamarnya.
Ibu yang sudah berdiri lima menit di depan pintu kamar Zai. Ibu menunggu Zai untuk membuka pintu kamarnya yang terkunci dari dalam kamarnya. Tapi setelah lewat lima menit Zai tidak membuka kunci pintunya akhirnya ibu memutuskan untuk ke dapur.
Ibu berjalan ke arah kamarnya, ibu masuk ke dalam kamar. Ibu membawa keranjang yang berisi pakaian kotor milik ayah dan ibu keluar dari kamar. Ibu berjalan masuk ke dalam kamar Ucup.
Di dalam kamar Ucup ibu mencari pakai kotor milik Ucup tetapi ibu tidak menemukan pakaian kotor milik Ucup. Ibu melihat kesekeliling kamar Ucup yang terlihat tertata dengan rapi walaupun dia anak laki-laki. Ucup tipe cowok yang menyukai kerapian dan kebersihan, dia tidak suka dengan kamar yang berantakan dan kotor makanya dia selalu membersihkan dan merapikan kamarnya sendiri.
Ibu keluar dari kamar Ucup sambil membawa keranjang pakaian kotor. Ibu sudah berdiri di depan kamar Zai yang masih tertutup, ibu mencoba membuka kamar Zai ternyata masih terkunci dan ibu mengetuk pintu kamar Zai tetapi tidak ada jawaban dari kamar Zai.
Ibu yang berada di dalam kamar mandi membuka kran lalu mengisi air ke dalam mesin cuci. Setelah air terisi setengah di dalam mesin cuci ibu memasukan pakaian ayah dan ibu kedalam mesin cuci ibu memasukan deterjen ke dalam mesin cuci.
__ADS_1
Setelah itu ibu memutar waktu pengaturan pada mesin cuci 9 menit. Mesin cuci bergerak memutar pakaian yang ada di dalam mesin cuci. Ibu keluar dari pintu kamar mandi lalu berjalan ke arah dapur, saat ibu sudah berada di dapur lalu ibu melihat ke arah Zai yang sudah duduk di kursi.
"Dek." Ibu menghampiri Zai yang sedang duduk di kursi.
"Ibu." Zai menoleh ke arah suara tersebut lalu mendapati ibu yang berdiri di sampingnya.
"Dek ngapain aja di kamar? ibu tadi berdiri di depan pintu kamar adek manggil adek," tanya ibu.
"Tidur, makanya aku gak dengar waktu ibu manggil."Zai yang berbohong kepada ibunya padahal tadi Zai mendengarkan musik melalui ponsel mengunakan headset.
"Adek makan yang banyak biar cepat besar, ibu mau mencuci pakaian dulu." Ibu mengelus rambut Zai.
"Coba ibu lihat aku ini udah besar, jadi aku mau sebesar apa lagi ibu?" tanya Zai.
"Ah ternyata anak ibu sudah besar." Ibu yang melihat Zai dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
"Iya ibu aku udah besar, makanya ibu jangan menganggap aku anak kecil terus," kata Zai.
"Gimana tidak mau di anggap anak kecil, kalau sikap adek aja kayak anak kecil. Ibu mau mencuci pakaian dulu." Ibu yang ke arah kamar mandi.
"Tumben adek mau nyuci peralatan makan?" Ibu menghampiri Zai yang sedang mencuci peralatan makan.
"Aku cuma mau bantu meringankan pekerjaan ibu," kata Zai
"Adek pasti ada maunya, adek mau apa?" Ibu melirik ke arah Zai dengan tatapan yang mencurigakan.
"Hehehe, ibu tahu aja sih kalau aku ada maunya." Zai yang tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
"Mau sandal baru kan." Ibu yang berada di samping Zai.
"Iya, ibu emang ibu terbaik sedunia." Zai yang memeluk ibu dengan keadaan tangan yang masih ada sabun pencuci piring.
Zai yang sadar tangannya masih kotor lalu melepaskan pelukan dari ibu. Zai membasuh semua peralatan makan mengunakan air sehingga sabun pencuci piring yang ada pada peralatan makan menghilang.
Sore Harinya.......
__ADS_1
Ayah dan Ucup sudah berada di teras depan pintu rumahnya. Ayah dan Ucup melihat keadaan rumah yang tampak sepi seperti tidak ada orang yang berada di dalam rumah.
Ucup mengetuk pintu rumah tetapi tidak ada yang membukaan pintu rumah. Ucup mengeluarkan ponsel yang berada di saku celana lalu dia menghubungi nomor ponsel Zai. Zai tidak mengangkat panggil telpon dari Ucup.
"Ucup telpon siapa?" Ayah yang melihat ke arah Ucup yang sedang menelpon.
"Zai tapi tidak di angkat," jawab Ucup.
"Ibu dan Zai kemana?" Ayah yang duduk di atas kursi yang ada teras rumahnya.
"Apa ibu tidak minta izin ke ayah kalau mau pergi?" Ucup yang melihat ke arah ayah.
"Tidak makanya ayah khawatir." Ayah yang wajahnya berubah menjadi khawatir.
"Sebaiknya ayah tunggu di sini, aku mau memberi makan kambing dulu," kata Ucup.
Embek.......Embek
Kambing peliharaan ayah yang terus saja berbunyi sehingga Ucup berjalan ke arah kandang kambing. Sesampai di depan kandang kambing Ucup meletakan rumput di dalam tempat makanan kambing. Kambing mulai memakan rumput yang Ucup letakan pada tempat makanan kambing.
Motor yang di kendarai oleh Zai sudah sampai di halaman rumahnya. Ibu yang duduk di belakang Zai, ayah yang melihat ke arah ibu dan Zai. Zai memakirkan motor di samping motor ayah lalu ibu dan Zai turun dari motor.
"Assalamualaikum ayah." Ibu yang berjalan menghampiri ayah yang duduk di kursi teras rumah.
"Walaikumsalam ibu," kata ayah.
"Apa ayah udah lama nyampainya?" Zai yang menyalim punggung tangan ayah.
"Baru saja." Ayah yang melirik ke arag Zai dan ibu.
"Syukur lah kalau ayah baru nyampai." Ibu yang menyalim punggung tangan ayah.
"Kunci rumah mana?"tanya ayah.
"Ini kunci rumah ayah." Ibu mengeluarkan kunci rumah dari dalam tas nya. Ibu berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu dengan kunci.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...