Perjuangan Ucup

Perjuangan Ucup
Nanggung


__ADS_3

"Rasa sakit membuat kamu lebih kuat, air mata membuat kamu lebih berani, patah membuat kamu lebih bijaksana, jadi terimakasih masa lalu untuk masa depan yang lebih baik."


Seminggu Kemudian.......


Pagi ini setelah selesai sarapan Zai berpamitan ama kedua orang tuanya untuk berangkat ke sekolah. Zai menyalim punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian. Lalu Zai berjalan pergi meninggalkan ruangan dapur tersebut.


"Ayah ibu aku pamit mau mengantarkan Zai ke sekolah." Ucup yang menyalim punggung tangan ayah dan ibu secara bergantian.


"Ucup hati-hati bawa motor," kata ayah.


"Iya ayah." Ucup berjalan pergi meninggalkan ayah dan ibu.


Sesampai Ucup di terasa rumah, dia melihat Zai yang sedang memakai sepatu. Ucup berjalan menghampiri Zai.


"Udah siap Zai?" Ucup yang sudah berdiri di samping Zai yang sedang duduk di bangku teras rumah.


"Udah." Zai yang sudah selesai memakai sepatu lalu dia berdiri dari kursi.


"Kalau begitu, ayo kita berangkat!" Ucup yang berjalan terlebih dahulu ke halaman rumahnya.


"Tunggu dulu abang," kata Zai.


"Emang kenapa Zai?" Ucup yang sudah berada di halaman rumah lalu dia berhenti berjalan. Ucup membalikkan badan melihat ke arah Zai.


"Apa boleh aku aja yang bawa motornya?" Zai yang berjalan menghampiri Ucup. Lalu Zai sudag berdiri di hadapan Ucup.


"Lah kenapa emangnya?" tanya Ucup.


"Aku pengen boncengin abang," jawab Zai.


"Apa cuma itu aja alasannya? gak ada yang lain."Ucup melihat ke arah Zai.


"Iya, jadi gimana abang?" tanya Zai.


"Nih kuncinya, kamu yang bawa motornya."Ucup memberikan kunci motornya kepada Zai.


"Iya abang." Zai mengambil kunci motor dari tangan Ucup. Setelah itu Zai berjalan ke arah motor.


Zai sudah berada di atas motor, Ucup berjalan ke arah Zai yang sudah duduk di atas motor. Ucup yang sudah berada di samping motor lalu naik ke atas motor. Zai menyalakan motornya, setelah itu Zai melajukan motornya.


"Tunggu dulu Zai." Ucup yang menepuk pundak Zai.


Zai yang terkejut dengan spontand menarik rem depan motornya, sehingga motor menimbulkan bunyi dari motor tersebut.


Chiit.......Chiit

__ADS_1


"Ada apa abang?" Setelah Zai mengerem motor tersebut sehingga motor tersebut berhenti. Zai menoleh ke arah Ucup yang berada di belakangnya.


"Kamu itu apa-apan sih kok ngerem mendadak sih?" Ucup melihat ke arah Zai dengan tatapan kesal, karena Zai mengerem mendadak menyebabkan basan Ucup terpelanting kedepan.


"Ini semua itu gara-gara abang," kata Zai.


"Lah kenapa kamu menyalahkan abang?" Ucup yang tidak terima Zai menyalakan dirinya.


"Aku gak bakal ngerem mendadak kalau tadi abang tidak mukul pundak aku tadi," kata Zai.


"Abang mukul pundak kamu kamu karena ada alasanya," kata Ucup.


"Apa alasanya?" tanya Zai.


"Kamu belum pakai helem, lebih baik sekarang kamu pakai helem dari pada entar kita kenak tilang ama pak polisi," jawab Ucup.


"Ya ampun aku lupa, terus helemnya mana abang?" Zai yang menepuk jidatnya karena lupa tidak memakai helem.


"Tuh ada di gantung motor bagian depan," kata Ucup.


"Oh iya ini helemnya." Zai membalikan badannya lalu dia menoleh ke arah gantung motor bagian depan. Dia melihat sebuah helem tergantung di sana. Dia mengambil helem yang di gantung tersebut, lalu dia memakai helem tersebut di kepalanya.


"Sekarang kamu bawa motornya takutnya natik kamu terlambat ke sekolah." Ucup menyuruh Zai untuk melajukan motornya.


Setelah mengantarkan Zai kesekolah Ucup mengendarai motor ke arah rumahnya. Akhirnya Ucup tiba di halaman rumahnya, dia melihat motor ayah masih terpakir di halaman rumah. Ucup memakirkan motornya di samping motor ayah.


Tok.....Tok


"Assalammualaikum," kata Ucup.


"Walaikumsalam, masuk aja pintunya gak di kunci." Ayah yang sedang berjalan ke arah keruangan tamu.


Ceklek.......Ceklek


Ucup membuka pintu rumahnya lalu dia berjalan melewati pintu rumah tersebut. Ucup sudah berada di ruangan tamu lalu dia melihat ayah yang mendekat ke arahnya.


"Udah pulang Ucup?" Ayah yang sudah berdiri di hadapan Ucup.


"Aku baru aja pulang, apa ayah udah mau berangkat ke kebun?" tanya Ucup.


"Iya, apa hari ini Ucup kuliah?" tanya ayah.


"Tidak, ada apa ayah?" Ucup melihat ke arah ayah.


"Apa Ucup mau membantu ayah ke kebun?" tanya ayah.

__ADS_1


"Udah pasti Ucup mau ayah." Ucup yang tersenyum melihat ke arah ayah.


"Kalau begitu ayah kasih tahu ibu dulu." Ayah yang membalikan badannya, ayah berjalan ke arah dapur untuk menemui ibu. Sesampainya ayah di dapur, ayah melihat ibu yang sedang sibuk memasukkan makanan ke dalam rantang.


"Ibu sedang apa?" Ayah berjalan menghampiri ibu.


"Menyiapkan bekal makan siang buat di bawa ke kebun," jawab ibu.


"Hari ibu tidak usah ikut ayah ke kebun." Ayah yang sudah berdiri di samping ibu.


"Kenapa ibu tidak usah kebun bersama ayah?" Ibu yang sudah selesai memasukan makanan ke dalam rantang.


"Biar ayah ke kebun ama Ucup," jawab ayah.


"Apa Ucup tidak kuliah?" tanya ibu.


"Ucup tidak kuliah hari ini, maka ayah akan pergi ke kebun bersama Ucup. Jadi ibu hari ini bisa di rumah," jawab ayah.


"Baiklah ayah, hari ini ibu akan tinggal di rumah," kata ibu.


"Kalau begitu ayah berangkat kebun dulu ya ibu." Ayah mengulurkan tangan ke arah ibu.


"Iya, hati-hati ayah. Ayah bawa ini untuk makan siang." Ibu menyalim punggung tangan ayah setelah itu ibu memberikan rantangan kepada ayah.


"Iya ibu ini ayah bawa, terima kasih ya ibu." Ayah mengambil rantang dari tangan ibu, lalu ayah berjalan sambil membawa rantang tersebut.


Siang Harinya......


Hari ini matahari begitu terik sehingga ayah dan Ucup merasakan ke panasan. Keringat ayah dan Ucup berceceran membasahi baju yang ayah dan Ucup pakai. Selain itu kening ayah dan Ucup di penuhi oleh keringat.


"Ucup, ayo kita istirahat dulu." Ayah menghampiri yang sedang memetik daun singkong.


"Nanggung ayah." Ucup yang belum mau beristirahat.


"Ucup natik bisa di lanjutkan lagi, jadi sebaiknya kita istirahat dulu." Ayah mencoba membujuk Ucup agar mau beristirahat terlebih dahulu.


"Sebaiknya ayah istirahat duluan biar aku menyiapkan ini dulu." Ucup yang menyuruh ayah untuk beristirahat terlebih dahulu.


"Tapi Ucup harus janji kalau udah siap jangan lupa nyusul ayah di gazebo," kata ayah.


"Insyallah ayah," kata Ucup.


"Ya udah ayah tunggu Ucup di gazebo." Ayah berjalan meninggalkan Ucup yang sedang memetik daun singkong.


"Iya ayah." Ucup yang sedang memetik daun singkongnya, dia terus saja memetik daun singkong agar terkumpul banyak di tanganya.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2