
"Relakan apa yang sudah terjadi, yang salah segera di perbaiki. Tinggalkan hal yang tak terlalu penting, dan hiduplah dengan damai tanpa mengantukan harapan di pundak orang lain."
Saat ketua kelas hendak berbicara tiba-tiba terdengar bunyi bel sekolah. Bel sekolah berbunyi menandai jam istirahat. Siswa yang berada di dalam kelas bersorak gembira saat mendengarkan bunyi bel istirahat.
"Hore." Teriakan siswa yang berada di dalam kelas
Setelah itu beberapa siswa berbondong-bondong berjalan ke arah pintu kelas. Mereka berdesak-desakan di depan pintu kelas. Mereka saling dorong-dorongan untuk bisa melewati pintu kelas.Ketua kelas yang melihat hal itu langsung angkat bicara.
"Kalian kalau mau keluar itu satu persatu, jangan saling dorong mendorong." Ketua kelas bicara dengan nada suara keras.
Sementara di taman sekolah Aska dan Zai lagi duduk di bangku taman sekolah. Mereka berdua duduk di bangku sambil melihat ke arah sekeliling taman sekolah. Merek juga mendengar bel sekolah berbunyi.
"Apa kamu lapar?"Aska yang lebih dahulu bertanya kepada Zai.
"Tidak,"jawab Zai.
"Apa kamu haus?"tanya Aska.
" Iya,"jawab Zai.
"Kamu mau minum apa?"Zai yang sudah berdiri dari bangku taman.
"Apa aja yang penting segar-segar," jawab Zai.
"Segar-segar itu apa?"tanya Aska.
"Cool," jawab Zai.
"Oo.... dingin bilang dong dari tadi biar aku ngerti, ya sudah kalau gitu aku pergi beli minum yang segar-segar." Setelah mengatakan itu Aska berjalan pergi dari taman.
Zai yang duduk sendirian di bangku taman sekolah menjadi pusat perhatian beberapa Siswi yang sedang berada di taman. Beberapa siswi yang berada di taman berjalan mendekat ke arah Zai yang sedang duduk di bangku. Beberapa siswi tersebut sudah berada di dekat Zai.
"Hai, boleh kenalan?" Seorang siswi yang berani berjalan mendekat ke arah Zai. Si siswi tersebut sudah berdiri di hadapan Zai.
"Tidak," jawab Zai.
"Lah kok gitu sih." Si cewek tersebut terkejut saat Zai menolak dengan mentah-mentah buat berkenan dengan dirinya.
"Lebih baik kamu pergi dari sini." Zai menatap tajam si siswi tersebut sambil berbicara dengan nada yang ketus.
"Aku tidak mau pergi dari sini sebelum aku mengetahui nama kamu." Si siswi tersebut meengancam Zai bahwa dia tidak akan pergi dari tempat tersebut sebelum Zai memberitahukan namanya kepada si siswi tersebut.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau pergi, lebih baik aku yang akan pergi." Zai yang sudah berdiri dari bangku taman tersebut, lalu dia hendak berjalan.
"Tunggu, biar aku saja yang pergi."Melihat Zai yang hendak berjalan pergi meninggalkan taman tersebut, si siswi tersebut mencegah kepergian Zai. Setelah itu mengatakan itu lalu dia berlalu pergi meninggalkan Zai di situ.
Malam Harinya.........
Setelah selesai makan malam ayah dan ibu sedang berada di ruangan keluarga. Zai berjalan ke arah ruangan keluarga, setibanya Zai di ruangan keluarga dia menghampiri ayah dan ibu yang lagi duduk di atas tikar sambil menonton televisi.
"Ayah ibu." Zai menyapa ke dua orang tanya.
__ADS_1
"Iya dek."Ayah menoleh ke arah Zai yang sedang berdiri di samping dia.
"Anak ibu udah ganteng mau kemana?"Ibu yang menyadari keberadaan Zai lalu dia menoleh ke arah Zai.
"Aku mau ke rumah teman ibu,"jawab Zai.
"Teman apa demen?"tanya ibu.
"Ah ibu kayak gak pernah muda aja."Ayah yang tersenyum melihat ke arah ibu.
"Ya ibu pernah muda lah ayah, masak ibu langsung jadi tua kayak gini."Ibu yang tidak terima di dengan perkataan ayah.
"Teman ibu." Zai mengelengkan kepalanya melihat tingkah ayah dan ibu yang terlihat romantis.
"Teman adek cowok atau cewek?"tanya ayah.
"Cowoklah ayah,"jawab Zai.
"Berarti adek mau ke rumah Aska ya?"tanya ibu.
"Bukan ibu,"jawab Zai.
"Adek mau kerumah siapa?"tanya ibu.
"Anton ibu,"jawab Zai.
"Adek ke rumah Anton mau apa?"tanya.
"Tidak boleh."Ayah tidak mengizinkan Zai untuk pergi kerumah Anton.
"Ayo lah ayah izin aku pergi kesana soalnya aku udah janji ama mereka, mereka pasti nungguin aku di sana."Zai yang mencoba membujuk ayah, agar ayah mau memberikan izin kepada Zai.
"Sekali ayah bilang tidak tetap tidak Zai." Ayah yang membentak Zai.
"Kenapa aku tidak boleh pergi kerumah Anton ayah?" tanya Zai.
"Soalnya ini sudah malam Zai,"jawab ayah.
"Ini masih jam 8 yah," kata Zai
"Coba kamu lihat Ucup, apa dia pernah nongkrong ama temannya?"tanya ayah.
"Gak ayah."Zai mengelengkan kepalanya.
"Ucup aja gak pernah nongkrong ama teman-temanya, masak kamu mau nongkrong ama teman,"kata ayah.
"Ibu bantu aku bujuk ayah."Zai mencoba meminta bantuan ama ibu untuk membujuk ayah.
"Ayah kan baru malam ini adek mau pergi nongkrong, jadi tolong kasih izin yah."Ibu yang mencoba membujuk ayah.
Ayah yang sedang diam sambil memikirkan perkataan ibu.Ibu yang terus saja menyakinkan ayah untuk memberikan izin kepada Zai.
__ADS_1
"Jadi gimana ayah?"tanya ibu.
"Tunggu masih ayah pikirkan."Ayah masih memikirkan perkataan ibu.
"Yah jangan lama-lama memikirkannya, kasihan adek dari tadi nungguin."Ibu mendesak ayah untuk tidak lama-lama memikirkan perkataan ayah.
"Ayah sudah mengambil keputusan."Ayah sudah selesai mengambil keputusan lalu dia menarik nafasnya.
"Apa keputusan ayah?"Tanya ibu dan Zai serentak.
"Ayah izinkan, tapi ada syarat nya,"Jawab ayah.
"Apa syaratnya katakan ayah?"Zai yang tampak senang dan bersemangat saat untuk mengetahui syarat yang ayah berikan.
"Sekarang kamu panggil Ucup kesini," jawab ayah.
"Baiklah yah." Zai segera berjalan pergi meninggalkan ruangan keluarga.
Zai berjalan ke arah kamar Ucup sesampainya dia di depan pintu kamar Ucup.Dia langsung membuka pintu kamar Ucup.
Ceklek......... Ceklek
"Abang."Setelah membuka pintu kamar Ucup dia berjalan masuk ke kamar Ucup.
"Zai kalau masuk kamar itu permisi dulu, jangan main nyelonong aja masuk kedalam kamar abang, "Ucup yang sedang duduk di kursi sambil menghisap sebatang rokok.
"Iya,"Jawab.
"Tumben kesini, ada apa Zai?"Tanya Ucup.
"Abang di panggil ayah,"Jawab Zai.
"Ada apa ayah manggil abang Zai?"Tanya Ucup.
"Ntlah aku tidak tahu abang." Zai mengangkat bahunya.
"Ya sudah kalau begitu,"kata Ucup.
"Abang kenapa masih diam di situ, ayo cepat temui ayah!"Zai berjalan mendekat ke arah Ucup, setelah itu Zai menarik tangan Ucup.
"Zai jangan tarik-tarik tangan abang juga." Ucup segera mematikan rokok lalu dia meletakkan puntung rokoknya di dalam asbak.
Mereka sudah berada di ruangan keluarga, Zai dan Ucup berdiri di samping ibu.
"Aku sudah membawa abang Ucup berarti aku sudah boleh pergi yah?" tanya Zai.
"Belum,"Jawab ayah.
" Lah kenapa begitu yah?"tanya Zai.
...~Bersambung~...
__ADS_1