
"Kita ini sebenarnya apa? tanah dan hujan yang saling merindukan? Atau senja dan hujan yang saling meniadakan."
"Mau, apa Aska mau ngajarin aku untuk memperbaiki semua yang salah itu?" tanya Lea.
"Lea sini pindah duduk biar bisa aku ajarin." Aska yang menyuruh Lea untuk pindah duduk di sampingnya.
"Iya Aska." Lea yang berdiri dari tempat duduk lalu dia berjalan mendekat ke arah Aska.
"Lea duduk di samping aku saja." Aska menepuk lantai yang berada di sampingnya.
"Baiklah, aku duduk di sini." Lea yang sudah duduk di samping Aska.
"Lea kamu perhatikan ya." Aska menjelaskan kepada Lea cara untuk mengerjakan tugas kelompok tersebut.
"Baiklah Aska."Lea memperhatikan wajah Aska yang sedang menjelaskan tugas kelompok tersebut. Lea lebih fokus memandang wajah Aska dari pada dia mendengarkan penjelasan Aska tentang tugas kelompok tersebut. Saat Lea lebih fokus memandangi wajah Aska, dia baru menyadari bahwa Aska juga memiliki wajah yang tidak kalah tampan di bandingkan Zai.
"Apa Lea sudah mengerti?" Aska yang sudah selesai menjelaskan tentang tugas kelompok tersebut.
"Aku belum paham coba Aska jelaskan lagi." Lea meminta Aska untuk menjelaskan lagi tentang tugas kelompok tersebut.
"Ya udah aku jelaskan lagi,setelah itu Lea kerjakan sendiri ya.Soalnya aku harus ngerjakan tugas punya aku yang belum selesai." Aska yang menjelaskan lagi cara untuk mengerjakan tugas kelompok tersebut kepada Lea.
"Percuma aja kamu jelaskan ke dia." Zai yang menoleh ke arah Aska dan Lea, dia memperhatikan Lea yang sedang fokus melihat ke arah wajah Aska. Bahkan Lea juga tidak mendengarkan penjelasan Aska tentang cara menyelesaikan tugas kelompok tersebut.
"Kenapa begitu?" Aska sudah selesai menjelaskan cara menyelesaikan tugas kelompok tersebut kepada Lea.
"Dari tadi aku perhatikan dia gak fokus saat kamu menjelaskan cara menyelesaikan tugas kelompok tersebut," jawab Zai.
"Apa itu benar Lea?" Aska yang menatap ke arah Lea.
"Itu gak benar." Lea yang berbicara sambil mengelengkan Kepalanya.
"Kalau gitu kamu suruh dia untuk mengerjakan tugas itu lagi," kata Zai.
"Lea nih kerjakan lagi." Aska memberikan buku tulis kepada Lea.
__ADS_1
"Baiklah aska." Lea mengambil buku tulis dari tangan Aska. Lea kembali mengerjakan tugas kelompok tersebut.
Mereka mulai mengerjakan tugas kelompok sesuai dengan tugas yang telah di bagi oleh Zai. Zai yang merupakan kedua dari kelompok tersebut. Zai sengaja membagi tugas kelompok tersebut kepada anggota kelompok nya agar semua anggota kelompok tersebut berkerja.
Lea yang sudah menyelesaikan tugas yang di berikan oleh Zai. Tetapi Lea terlihat ragu untuk memberikan tugas tersebut kepada Zai. Lea takut kalau tugas yang di kerjakan nya salah maka Zai akan kembali marah kepada Lea.
"Gimana udah selesai Aska?" tanya Zai.
"Udah nih coba Zai periksa." Aska memberikan buku tulis miliknya kepada Zai.
"Good job Aska." Zai mengambil buku dari tangan Aska lalu dia memeriksa tugas yang Aska kerjakan. Tugas yang Aska kerjakan semuanya benar.
"Makasih Zai." Aska yang tersenyum setelah mendapatkan pujian dari Zai. Zai itu jarang memuji orang lain sehingga pujian dari Zai membuat Aska merasa senang.
"Gimana tugas kalian berdua?" Zai yang menoleh ke arah dua orang temannya. Keduanya orang teman Zai yang bernama Anton dan Ridho.
"Nih udah siap." Ridho yang menyerah buku tulis kepada Zai.
"Punya kamu mana?" Zai mengambil buku tulis dari tangan Ridho. Setelah itu dia menoleh ke Anton.
"Kalau kamu gak bisa mengerjakannya setidaknya kamu mencoba dulu mengerjakan nya walaupun salah jawab nya. Jangan seperti ini kamu ngasih kembali soal yang telah aku berikan tadi." Zai membuka buku dari Anton lalu mata dia membulat saat melihat buku Anton tersebut. Anton sama sekali tidak mengerjakan tugas yang Zai berikan sehingga dia menjadi marah.
Zai marah kepada Anton lalu dia melemparkan buku tulis yang berada di tangannya ke arah Anton. Anton yang terkejut tidak bisa menghindar sehingga buku tersebut mengenai mukanya.
"Aduh sakit." Anton yang merasa kesakitan saat buku tulis tersebut mengenai wajahnya.
"Rasain emangnya enak." Ridho yang mengejek Anton karena dilempar buku tulis ama Zai.
"Kamu gak apa-apakan?" Aska yang melihat ke arah Anton.
"Coba kamu lihat sendiri nih." Anto yang mengambil buku yang menutupi wajahnya.
Ucup yang sedang tertidur di dalam kamarnya mendengarkan suara berisik tersebut. Dia membuka kedua matanya lalu dia mendengarkan suara Zai yang terdengar seperti sedang merah kepada teman-temanya. Ucup segera bangun dari tempat tidur lalu dia berjalan keluar dari kamar.
Ucup yang sudah berada di ruangan tamu melihat Zai yang sedang berdiri sambil marah-marah kepada Anton. Zai mengeluarkan kata-kata yang begitu kasar Ucup yang tidak tahan mendengar kata-kata kasar dari Zai. Ucup segera berjalan menghampiri Zai, dia yang sudah berada di samping Zai.
__ADS_1
"Aww, lepaskan telinga aku abang." Zai meringis kesakitan saat telinganya di jewer oleh Ucup.
"Kamu pantas di jewer kayak gini." Ucup yang masih menjewer telinga Zai.
"Salah aku itu apa abang?" Zai yang bertanya kesalahan nya kepada Ucup.
"Masih berani kamu tanya salah kamu itu apa?" Ucup yang kesal ama sikap Zai tidak menyadari ke salahannya.
"Habisnya, seingat aku itu gak ada salah apa-apa ama abang," jawab Zai.
"Salah kamu itu banyak," kata Ucup.
"Lepasin dulu tangan abang dari telinga aku, entar telinga aku bisa lepas nih." Zai yang telinga nya memerah karena di jewer oleh Ucup. Zai menatap Ucup dengan tatap yang memelas.
"Baiklah abang lepaskan." Ucup yang tidak tega melihat Zai lalu dia melepaskan tangannya dari telinga Zai.
"Alhamdulillah, untung aja gak lepas telinga aku." Zai mengelus telinganya yang bekas di jewer oleh Ucup. Walaupun telinga Zai sudah di lepas dari jeweran Ucup tapi rasa sakit karena bekas jeweran itu masih terasa di telinga Zai.
"Sakit kan rasanya?" tanya Ucup.
"Udah tahu pakai nanya lagi abang." Zai yang menatap tajam ke arah Ucup.
"Kalau gak mau di jewer lagi, perbaiki sikap kamu itu." Ucup juga membalas tatap tajam Zai dengan tatapan yang sama.
"Sikap aku yang mana abang?" Zai berbicara dengan tampang merasa bersalah.
"Sikap kamu yang berbicara dengan kata-kata kasar kepada teman-teman kamu. Ingat setinggi apapun pendidikan kamu tidak bisa membeli sikap sopan santun," kata Ucup.
"Abang kan ada sebabnya aku bicara seperti itu kepada mereka," kata Zai.
"Apapun sebabnya kamu tidak sepantasnya berbicara kasar seperti itu kepada teman-teman kamu," kata Ucup.
"Aku seperti itu karena dia tidak mengerjakan tugas yang aku berikan malah dia memberikan kembali soal yang aku berikan tadi." Zai yang mencoba membela dirinya.
"Apapun alasannya kamu tetap salah, sekarang kamu minta maaf ama dia." Ucup yang menyuruh Zai untuk meminta maaf kepada Anton.
__ADS_1
...~ Bersambung~...