
"Semesta itu lucu yang gak terpikirkan bisa jadi malah terjadi. Jalani aja dulu, nikmati setiap prosesnya jangan meminta lebih, bersyukur dan merasa cukup adalah kuncinya."
Setelah Dinda keluar dari kamar, Fiqrie yang masih merasa kantuk menutup kembali matanya lalu dia tertidur di atas tempat tidur. Fiqrie tidak menyadari kalau Ucup masuk ke dalam kamarnya. Ucup yang berbaring di atas tempat tidur lalu menutup ke dua matanya, dia mulai tertidur masuk ke dalam mimpinya.
Ucup yang tidur di samping Fiqrie, mereka tertidur dengan nyenyak. Fiqrie membalikkan badannya lalu dia merentangkan tangannya ke arah Ucup, Fiqrie tidak mengetahui bahwa yang tidur di sampingnya Ucup. Fiqrie berpikir Dinda yang tidur di sampingnya.
Sehingga Fiqrie memeluk erat badan Ucup, Ucup yang sudah nyenyak tidur di kamarnya tidak menyadari bahwa badannya di peluk oleh Fiqrie. Sedangkan Fiqrie yang masih tertidur dia merasa sedang memeluk Dinda.
Dinda yang baru saja keluar kamar mandi terkejut melihat ibu yang sudah berada di dapur.
"Ibu lagi ngapain?" Dinda berjalan menghampiri ibu.
"Mau masak." Ibu yang sedangkan berdiri di depan westafel sambil mengupas bawang.
"Ibu mau masak apa? sini biar aku bantu." Dinda yang sudah berdiri di samping ibu.
"Nasi goreng, gak usah sebaiknya Dinda duduk aja." Ibu yang menolak Dinda untuk membantunya.
"Biar Dinda aja yang masak nasgornya, sini pisaunya ibu." Dinda yang mengulurkan tangannya ke arah ibu.
"Ini." Ibu memberikan pisau ama Dinda.
"Nah sebaiknya ibu duduk di kursi itu." Dinda mengambil pisau dari tangan ibu, dia mulai membuka bawang yang belum selesai di buka oleh ibu.
"Baiklah ibu duduk di kursi." Ibu yang berjalan ke arah kursi yang tsrsebut, sesampainya ibu menarik kursi lalu ibu duduk di kursi sambil memperhatikan Dinda yang sedang membuat bumbu nasgor.
Setelah selesai membuat bumbu nasgor terdengar suara adzan dari mesjid yang berada di dekat rumah.
"Dinda bangunankan abang Fiqrie dulu ya ibu." Dinda berjalan pergi meninggalkan ibu yang sendirian di dapur.
Dinda berjalan ke arah kamar ibu lalu dia melihat pintu kamar ibu yang terbuka ayah keluar dari kamar. Ayah berjalan keluar dari pintu kamar, Dinda yang sudah berdiri di hadapan ayah.
"Selamat pagi ayah." Dinda yang menyapa ayah mertua nya.
"Selamat pagi Dinda, Fiqrie mana Dinda?" tanya ayah.
"Masih tidur ayah, ini mau aku bangunankan," jawab Dinda.
"Ya sudah bangunkan Fiqrie suruh dia siap-siap kita akan melakukan shalat subuh berjamaah di ruangan keluarga," kata ayah.
"Baiklah ayah, aku bangunkan abang Fiqrie dulu." Dinda yang berjalan ke arah kamar Ucup.
Dinda yang sudah berdiri di kamar Ucup dengan pintu kamar yang masih terbuka. Dinda masuk ke dalam kamar lalu dia berjalan masuk ke dalam kamar Ucup. Dinda yang audah berada di dalam kamar berjalan ke arah tempat tidur.
Dinda sudah berdiri di samping tempat tidur, dia melihat ke arah tempat tidur. Fiqrie yang sedang berpelukan ama Ucup.
"Abang bangun." Dinda membangunkan Fiqrie.
"Abang udah adzan subuh," kata Dinda.
__ADS_1
Fiqrie yang mendengarkan adzan subuh si telinganya lalu dia mulai membuka kedua matanya.
"Astafirallah kenapa istri aku jadi Ucup?" Fiqrie yang terkejut melihat bahwa di memeluk Ucup, dia segera melepaskan pelukannya dari Ucup.
"Istri abang gak berubah jadi Ucup kok." Dinda yang tersenyum mendengar perkataan suaminya.
"Lah adek kok sudah ada disini." Fiqrie yang membalikkan badannya lalu melihat ke arah Dinda.
"Dek bangunkan abang buat shalat subuh berjamaah," kata Dinda.
"Abang udah bangun dek." Ucup bangun dari posisi tidurnya sekarang lalu duduk di atas tempat tidurnya.
"Abang cepatan mandi soalnya udah di tunggu ama ayah," kata Dinda.
"Kenapa ayah nunggu abang?" tanya Fiqrie.
"Ayah mau shalat subuh berjamah bersama kita," jawab Dinda.
"Kalau begitu abang mandi dulu." Fiqrie yang berdiri dari tempat duduknya.
"Ucup di bangunkan juga abang, adek mau ke dapur dulu dapur dulu bantu ibu masak." Dinda yang berjalan pergi meninggalkan mereka berdua dikamar.
Fiqrie membangunkan Ucup sampai tiga kali, tetapi Ucup tidak bangun juga. Akhirnya Fiqrie berjalan ke arah belakang pintu kamar mengambil handuk Ucup. Fiqrie mengambil handuk lalu berjalan ke arah kamar mandi yang terletak di dapur.
Fiqrie yang sudah berada di depan kamar mandi tetapi masih ada orang yang berada di kamar mandi. Pintu kamar mandi terbuka ayah berjalan keluar dari kamar mandi.
"Iya ayah." Fiqrie yang melihat ayah yang sudah ada di luar pintu kamar mandi.
"Ucup mana?"tanya ayah.
"Ucup masih tidur di kamarnya, aku masuk ke kamar mandi dulu ayah." Fiqrie yang berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Ayah sudah berdiri di depan kamar Zai, ayah mengetuk pintu kamar Zai.
Tok......Tok......Tok
"Ucup Zai bangun," teriak ayah.
Ayah mencoba membuka pintu kamar Zai tetapi terkunci. Ayah berjalan ke arah pintu rumah, ayah membuka pintu rumah yang terkunci lalu pintu rumahnya terbuka. Ayah berjalan keluar melewati pintu tersebut lalu ayah berjalan ke arah samping rumah.
Ayah yang sudah sampai di depan jendela kamar Zai. Ayah mengetuk kaca jendela kamar Zai.
"Zai bangun."
"Zai buka pintunya."
"Zai ini ayah."
Zai yang mendengar suara berisik dari kamarnya lalu membuka matanya.
__ADS_1
"Zai cepat bangun."
"Aku sudah bangun ayah." Zai yang bangun dari tidurnya, dia duduk di atas tempat tidur.
"Apa Ucup sudah bangun Zai?" Ayah yang berjalan kembali ke dalam rumah.
"Aku gak tahu ayah." Zai yang berdiri dari tempat tidur, dia mengambil baju kaos oblong lalu memakainya kembali.
"Zai buka pintunya." Ayah yang sudah berdiri di pintu kamar.
"Iya ayah." Zai membuka pintu kamarnya yang terkunci.
Ceklek...... Ceklek
"Ucup mana Zai?" ayah yang masuk ke dalam kamar Zai.
"Ya di kamarnya lah ayah," jawab Zai.
"Kamar Ucup di pakai ama Fiqrie dan Dinda, kalau dia gak tidur di kamar Zai tadi malam. Terus Ucup tidur di mana?" tanya ayah.
"Mana aku tahu tahu ya," jawab Zai.
"Zai mandi sana, ayah tunggu di ruangan keluarga kita akan melakukan shalat subuh berjamah." Ayah keluar dari kamar Zai.
"Iya ayah," kata Zai.
Pagi ini kami sudah berada di ruangan keluarga. Kami berkumpul di ruangan keluarga untuk sarapan pagi bersama. Kami duduk di atas beralaskan tikar di ruangan keluarga.
Kami sudah bersiap-siap untuk sarapan pagi, lalu terdengar suara seorang yang mengetuk pintu rumah.
Tok.....Tok.....Tok
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Kami yang bersamaan menjawab salam tersebut.
"Siapa ya pagi udah bertamu?" tanya Dinda.
"Paling-paling itu Lea," jawab Fiqrie.
"Lea siapa abang?" tanya Dinda.
"Pacar Zai," jawab Ucup
"Bukan siapa-siapa kakak Dinda," kata Zai.
"Apa kalian tidak ada yang mau membuka pintu?" tanya ayah.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1