
"Naik motor sama papa, pakainya motor matik, eh tadi kirain siapa, ternyata si Ry cantik."
Ucup terdiam sambil berpikir, Ucup yang masih terlihat ragu untuk menceritakan masalahnya kepada Zai.
"Abang, kenapa diam aja?" tanya Zai.
"Kamu gak belajar Zai?" Ucup yang mengalihkan topik pembicaraan.
"Abang gak usah mengalihkan pembicaraan, mendingan sekarang cerita ke aku. Apa masalah abang?" Zai yang mendesak Ucup agar mau bercerita.
"Abang bingung Zai penjualan keripik singkong kita menurun.Apa kamu punya solusi?" Ucup yang melihat ke arah Zai.
"Menurut pendapat aku konsumen merasa bosan dengan rasa kripik singkong buatan abang. Maka dari itu kita harus mencari inovasi untuk keripik singkong." Zai memberitahukan pendapat kepada Ucup.
"Yang kamu katakan itu emang benar Zai, kita harus mencari inovasi untuk keripik singkong buatan aku. Apa kamu ada ide untuk keripik singkong buatan aku?" tanya Ucup.
"Kita buat variasi rasa baru, gimana abang?" tanya Zai.
"Bagus juga ide kamu, variasi rasa apa yang ingin kita buat untuk keripik singkong?" tanya Ucup.
"Soal itu aku belum tahu abang," jawab Zai.
"Kamu kalau cari ide itu jangan setengah-setengah dong." Ucup yang wajahnya terlihat cemberut karena Zai memberikan ide setengah-setengah.
"Ya udah kalau gitu aku mau belajar dulu abang, sebaiknya abang juga cari ide mau buat rasa untuk keripik singkong tersebut." Zai berdiri dari bangku yang berada di bawah pohon mangga tersebut.
"Ya udah sana belajar yang pintar, abang mau cari ide dulu." Ucup menyuruh Zai untuk belajar, sedangkan dia masih duduk di bangku sambil menghisap sebatang rokok.
Esok kan Harinya........
Hari ini Ucup sengaja ke kantin kampus, dia duduk di bangku kantin sambil menunggu pesanan makanan dan minuman.
"Apa aku boleh duduk di sini?" Seorang cewek yang sudah berdiri di depan Ucup.
"Duduk aja gak ada yang ngelarang." Ucup yang menoleh ke arah suara tersebut.
"Terimakasih abang Ucup." Si cewek tersebut duduk di bangku yang berada di hadapan Ucup, mereka hanya terpisah oleh meja panjang yang berada di hadapan mereka.
"Kamu." Ucup mencoba mengingat nama si cewek yang duduk di bangku hadapannya.
"Pasti abang Ucup gak ingat ama nama aku kan," kata si cewek tersebut.
"Kamu Aqilakan?" tanya Ucup.
"Alhamdulillah abang masih ingat ama aku." Aqila tersenyum sambil melihat ke arah Ucup.
"Apa kabar kamu?" tanya Ucup.
"Alhamdulillah baik, kalau kabar abang gimana?" tanya Aqila.
__ADS_1
"Aku baik," jawab Ucup.
"Benaran abang baik?" Aqila yang memperhatikan wajah Ucup, Aqila merasa Ucup sedang tidak baik-baik.
"Iya aku baik, emangnya kenapa?" tanya Ucup.
"Tapi aku lihat dari wajah abang seperti ada masalah," jawab Aqila.
"Masak sih?" tanya Ucup.
"Kamu nanya, bertanya-tanya." Aqila yang berbicara dengan intonasi seperti Dilan Cemek.
"Au ah gelap." Ucup yang berbicara dengan ketus kepada Zai.
"Dor." Hana yang baru datang lalu dia mengejutkan Aqila.
"Astagfirullah Nana." Aqila yang terkejut langsung dia berucap.
"Ayo kalian lagi ngomong, apa?" Hana langsung duduk di bangku yang berada di samping Hana.
"Gak ngomong apa-apa." Aqila dan Ucup berbicara dengan serentak.
"Cie...... cie." Hana yang sengaja mengoda Aqila dan Ucup.
"Apaan sih Nana?" Aqila yang wajah tersipu malu mendengar Hana yang mengoda dirinya.
"Mana ada wajah aku kayak tomat Nana." Aqila yang masih tersipu-sipu malu.
"Muka kamu emang merah, kenapa?" Ucup yang juga memperhatikan wajah Aqila yang terlihat memerah seperti tomat.
"Ah kalian ini," kata Aqila.
Pesan makanan dan minuman mereka pun telah tiba sehingga mereka memutuskan untuk memakan makan tersebut. Ucup melihat Aqila yang mengambil sebungkus keripik singkong dari atas meja tersebut.
"Kamu suka makan pakai keripik singkong?" tanya Ucup.
"Iya aku suka, apalagi keripik singkong di kantin ini enak rasanya aku suka." Aqila membuka bungkus keripik singkong tersebut lalu dia memasukkan ke dalam mangkok mie rebusnya.
"Aku juga suka keripik singkong ini tapi sayang gak ada variasi jadi aku bosan," kata Hana.
"Emang kamu mau rasa apa keripik singkong nya?" Ucup yang melihat ke arah Hana.
"Keripik singkong rasa pedas jangan cuma rasa asin aja," jawab Hana.
"Keripik singkong cabe gitu maksud kamu?" tanya Ucup.
"Keripik cabe," jawab Hana.
"Tapi harga cabe merah sekarang lagi mahal, kalau buat pedas pasti modal produksi bertambah besar," kata Ucup.
__ADS_1
"Lah kok kamu ngomong seperti itu, kayak kamu aja yang buat keripik singkong ini." Hana yang melihat ke arah Ucup.
"Kan emang aku yang buat keripik singkong ini, apa kalian tidak percaya?" Ucup melihat ke arah Aqila dan Hana secara bergantian.
"Hahahaha, kamu gak usah bercanda." Aqila dan Hana tertawa karena mereka tidak percaya bahwa yang membuat keripik singkong tersebut Ucup
"Kalau kalian tidak percaya, silahkan tanya aja ama ibu kantin," kata Ucup.
Setelah mengatakan itu Ucup melanjutkan memakan makanan yang berada di atas meja tersebut. Sedangkan Aqila dan Hana mereka saling menyenggol lengan.
"Kamu percaya kalau abang Ucup yang buat?" tanya Hana.
"Gak, kalau kamu gimana?" Aqila yang balik bertanya pada Hana.
"Gak juga, tapi aku jadi penasaran ama yang buat keripik singkong ini." Hana menjadi penasaran ama orang yang membuat keripik singkong.
"Kalau kalian penasaran tanya aja ama ibu kantin." Ucup yang tidak tahan mendengar perkataan Hana dan Aqila.
"Baiklah akan aku tanya ama ibu kantin." Hana berdiri dari bangkunya.
"Nana yakin?"Aqila memegang tangan Hana.
"Aku yakin Aqila, lagian biar aku gak penasaran lagi." Hana melepaskan tangan Aqila dari tangannya setelah itu Hana berjalan ke arah ibu kantin.
Aqila melihat ke arah Hana yang sudah berada di dekat ibu kantin. Hana sudah berdiri di hadapan ibu kantin.
"Ibuk ada yang mau saya tanya kan," kata Hana.
"Kamu mau tanya apa?" tanya ibuk kantin.
"Siapa yang buat keripik singkong?" tanya Hana.
"Itu dia." Ibuk kantin menujukan jarinya ke arah bangku yang ada Aqila dan Ucup.
"Yang laki-laki atau perempuan ibuk?" tanya Hana.
"Laki-laki," jawab ibuk kantin.
"Jadi benar Ucup yang buat keripik singkong ini?" Hana yang ingin memastikan bahwa memang benar bahwa Ucup yang membuat keripik singkong tersebut.
"Iya, ada apa emangnya?" Ibuk kantin yang penasaran jadinya.
"Tidak ada apa-apa, kalau begitu terimakasih ibu." Setelah mengatakan itu Hana berjalan ke arah Aqila dan Ucup.
Aqila yang terus saja melihat ke arah Hana yang berjalan ke arahnya. Hana yang sudah berjalan mendekati ke arah mereka.
"Gimana Nana?" Aqila yang terlibat tidak sabar menunggu jawaban dari Hana.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1