
"Sebenarnya kita ini apa? semacam diberi harapan namun tidak di prioritaskan. Seperti di pertahankan tapi tidak di perhatikan."
Seminggu Kemudian.....
Pagi ini setelah mengantarkan Zai ke depan pintu gerbang sekolah. Zai turun dari motor lalu berpamitan ama Ucup. Saat Zai berjalan ke arah gerbang sekolah.Beberapa siswi yang berada di belakang Zai, mereka membicarakan ketampanan dan kepintaran Zai.
Ucup yang masih berada di depan gerbang sekolah Zai mendengarkan perkataan beberapa siswi tersebut yang memuji Zai. Ucup tersenyum mendengarkan perkataan mereka, Ucup juga sependapat ama beberapa siswi tersebut kalau Zai itu ganteng dan pintar di antara mereka bertiga.
Ucup yang terus saja melihat ke arah Zai yang berjalan masuk melewati gerbang sekolah. Seorang siswi menghampiri Ucup yang masih berada di atas motornya.
"Abang." Seorang siswi yang berdiri di hadapan Ucup.
"Iya." Ucup yang menoleh ke arah suara tersebut, dia melihat ke arah seorang siswi yang memakai seragam sekolah memakai jilbab berwarna putih.
"Aku perhatikan dari tadi abang ngelihat Zai, Zai itu siapa nya abang?" tanya siswi tersebut.
"Adek aku," jawab Ucup.
"Jadi abang itu abangnya Zai." Si cewek tersebut tersenyum melihat ke arah Ucup.
"Iya." Ucup mengangguk kepalanya.
"Kalau aku boleh tahu siapa nama abang?" tanya Si cewek tersebut.
"Emang untuk apa kamu tahu nama aku?" tanya Ucup.
"Untuk aku masukin ke dalam Kartu Keluarga kita abang," kata siswi tersebut.
"Hehehe." Ucup yang tertawa terpingkal-pingkal mendengar perkataan si siswi tersebut. Ucup yang tidak menyangka mendapatkan gombalan dari si siswi tersebut.
"Abang tambah ganteng kalau tertawa seperti itu." Si siswi tersebut yang terpesona melihat Ucup yang tertawa, kegantengan Ucup makin bertambah ketika tertawa.
"Akukan laki-laki udah pasti ganteng gak mungkin aku cantikkan," kata Ucup.
"Ah abang bisa aja nih, terus nama abang siapa?" tanya si cewek tersebut.
"Apalah artinya sebuah nama?" tanya Ucup.
"Kalau aku bisa manggil abang dengan panggilan Sayang," jawab siswi tersebut.
Ting......Tong
Mendengar bel berbunyi si siswi tersebut berpamitan ama Ucup. Dia harus segera masuk ke dalam sekolah karena pintu gerbang sekolah akan di tutup oleh pak Satpam.
"Sampai ketemu lagi Sayang." Si cewek tersebut berlari ke arah pintu gerbang sekolah yang sudah di tarik oleh pak Satpam.
Ucup yang mendengar panggilan Sayang dari siswi tersebut mengelengkan kepalanya. Ucup tidak habis pikir dengan tingkah laku si siswi tersebut.
__ADS_1
Sore Harinya.......
Ucup yang sedang duduk di kursi yang berada di dalam kamarnya senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi pagi. Ketika Ucup mengingat kejadian tersebut dia mulai mengingat Lea.
Sudah seminggu ini Ucup tidak pernah melihat Lea. Ucup juga merasa aneh seminggu ini Lea tidak pernah ke rumahnya. Padahal Zai dan Lea itu sudah bersahabat kira-kira tiga tahun yang lalu. Saat itu Lea baru saja pindah rumah ke rumah yang berada di depan rumah kami.
Lea juga pindah ke sekolah yang sama dengan Zai bahkan mereka berada di kelas yang sama. Sehingga Lea dan Zai menjadi dekat, mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersama-sama.
Kemana ada Lea pasti ada Zai bisa di bilang mereka itu seperti perangko, Lea yang selalu saja menempel ama Zai. Karena Lea tidak punya teman selain Zai sehingga Lea selalu saja mengikuti Zai.
Ucup berdiri dari kursi lalu Ucup keluar dari pintu kamarnya. Saat bersamaan Zai juga keluar dari kamarnya.
"Adek." Ucup yang melihat ke arah Zai.
"Iya abang." Zai yang berjalan ke arah kamar Ucup.
"Adek mau kemana?" tanya Ucup.
"Ke dapur ada apa abang?" Zai yang berhenti berjalan lalu melihat ke arah Ucup.
"Apa adek ada masalah dengan Lea?" tanya Ucup.
"Gak," jawab Zai.
"Lea kemana ya? kok abang gak pernah ngeliat dia seminggu ini," tanya Ucup.
"Gak tahu." Zai pergi berjalan ke arah dapur.
Zai yang sudah berada di dapur lalu membuka pintu kulkas. Dia mengambil sebuah botol yang berisi air dari dalam kulkas. Zai meminum air dari dalam botol tersebut setelah itu dia meletakan kembali botol tersebut ke dalam kulkas, dia menutup kembali kulkas nya.
Ibu yang sedang berada di dapur melihat ke arah Zai.
"Adek," kata ibu.
"Iya ibu." Zai yang melihat ke arah ibu yang sedang berdiri di depan kompor.
"Apa ibu boleh minta tolong?" tanya ibu.
"Ibu mau minta tolong apa?" tanya Zai.
"Adek beli kelapa sekalian di parut ya di warung, bisakan?" tanya ibu.
"Bisa ibu, mana uangnya?" Zai berjalan menghampiri ibu lalu dia mengulurkan tangannya untuk meminta uang kepada ibu.
"Nih uang." Ibu memberikan selembar uang berwarna ungu kepada Zai.
"Ibu ini uang kurang." Zai yang melihat ke arah selembar uang yang berwarna ungu di tangan.
__ADS_1
"Adek ini masih ada tiga ribu," kata ibu.
"Tapi itu gak cukup buat beli boba ibu," kata Zai.
"Jadi adek mau beli boba?" tanya ibu.
"Iya ibu," jawan Zai.
"Nih uangnya." Ibu memasukan kembali uang berwarna ungu ke saku baju sebelah kanan lalu ibu mengambil selembar uang dari saku baju sebelah kiri. Lalu ibu memberikan selembar uang berwarna hijau kepada Zai.
"Makasih ibu, aku pergi dulu."Zai menyalim punggung tangan ibu lalu berjalan pergi.
Zai berjalan melewati ruangan keluarga, Ucup yang sedang duduk di ruangan keluarga melihat Zai yang lewat.
"Adek." Ucup yang memanggil Zai.
"Eh ternyata abang di sini, aku tadi mau ke kamar abang nyariin abang." Zai yang berhenti berjalan lalu menoleh ke arah ruangan keluarga, dia melihat ucup yang sedang duduk di atas tikar.
"Emang ada apa adek nyariin abang?" tanya Ucup.
"Abang kunci motor mana?" Zai yang berjalan menghampiri Ucup.
"Ada ama abang, kenapa emangnya adek?" Ucup mengeluarkan kunci motor dari saku celana.
"Aku di suruh ibu beli kelapa di warung," kata Zai.
"Ya udah sana pergi ke warung," kata Ucup.
"Sini kunci motornya abang." Zai yang mengulurkan tangan ke arah Ucup.
"Jalan kaki aja adek warungnya kan dekat," kata Ucup.
"Biar cepat abang kalau naik motor," kata Zai.
"Ya udah nih kunci motornya, udah dari warung langsung pulang jangan kemana-mana." Ucup memberikan kunci motor kepada Zai.
"Iya, aku pergi dulu. Abang mau titip apa?" Zai menyalim punggung tangan Ucup.
"Abang titip sebungkus rokok," jawab Ucup.
"Uangnya mana abang?" tanya Zai.
"Nih uang." Ucup memberikan uang kepada Zai.
"Abang ini uang gak cukup." Zai yang melihat ke arah uang tersebut.
"Uang itu cukup untuk membeli sebungkus rokok S," kata Ucup.
__ADS_1
"Terus uang untuk upah aku pergi mana?" tanya Zai
...~ Bersambung ~...