Perjuangan Ucup

Perjuangan Ucup
Lowongan Pekerjaan


__ADS_3

"Dari segala kecemasan yang tampak di permukaan, Ry menyadari hanya manusia biasa yang bisanya khawatir tanpa bertindak. Tetapi yang paling Ry inginkan itu agar kamu tetap baik-baik saja. Ry titip peluk dari jauh dengan segala doa buat kamu."


Sebulan Kemudian..........


Setelah mata kuliah selesai Ucup segera berjalan meninggalkan kelas. Feri dan Gustaf merasa heran melihat tingkah Ucup yang selama sebulan ini langsung keluar kelas setelah mata kuliah selesai.


"Apa kami merasa ada yang berbeda dengan Ucup?" Feri yang memutar badannya sehingga posisinya telah berubah, sekarang posisi Feri tepat di hadapan Gustaf.


"Iya, apa kamu merasakan hal yang sama?" Gustaf yang belik bertanya kepada Feri.


"Aku juga merasakannya,sebenarnya aku penasaran kenapa Ucup tiba-tiba berubah seperti itu?" tanya Feri.


"Kalau begitu, ayo kita cari tahu tentang perubahan sikap Ucup!" Gustaf yang tampak bersemangat lalu dia berdiri dari kursinya.


"Bagaimana cara kita mencari tahunya?" tanya Feri.


"Dengan mengikuti Ucup," jawab Gustaf.


"Kita bakal jadi penguntit dong, kalau ngikutin Ucup," kata Feri.


"Emang kamu punya ide lain?" tanya Gustaf.


"Mendingan kita tanya langsung aja ama Ucup, gimana?" tanya Feri.


"Percuma Ucup tidak akan mau cerita ama kita." Gustaf merasa yakin bahwa Ucup tidak akan mau menceritakan tentang berubahan sikapnya kepada Feri dan Gustaf.


"Kamu jangan ngomong kayak gitu kitakan belum mencoba berbicara dengan Ucup." Feri yang merasa yakin bahwa Ucup akan mau bercerita kepada Feri dan Gustaf.


"Kalau gitu kapan kita mau bicara ama Ucup?" tanya Gustaf


"Gimana kalau natik malam kita kerumah Ucup?" tanya Feri.


"Aku ngikut kamu aja," jawab Gustaf.


Setelah itu Feri berdiri dari kursinya lalu dia berjalan meninggalkan Gustaf yang masih berdiri.


"Eh, tunggu dulu. Kamu mau kemana?" Gustaf segera berjalan menyusul Feri yang sudah berada di dekat pintu kelas.


"Aku mau pulang." Feri yang terus berjalan melewati pintu kelas tersebut tanpa menoleh ke arah Gustaf.


"Tunggu aku ikut." Gustaf yang berlari mengejar Feri yang sudah keluar dari kelas.


Setelah pulang dari kampus Ucup tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan dia berkeliling kota Pekanbaru. Ucup mencari lowongan pekerjaan, saat Ucup sedang mencari lowongan pekerjaan dia melihat sebuah kertas yang tertempel di tembok. Ucup membaca kertas tersebut yang berisi lowongan pekerjaan.

__ADS_1


Setelah Ucup membaca kertas tersebut lalu dia mengambil kertas yang menempel di dinding tersebut. Ucup memasukkan kertas tersebut ke dalam saku bajunya. Ucup mengendarai motor ke arah alamat yang ada di kertas tersebut.


Ucup sudah sampai di depan sebuah ruko yang sesuai dengan tulisan yang ada pada kertas tersebut. Ucup memikirkan motornya lalu dia mengeluarkan kertas tersebut dari saku bajunya. Ucup membaca alamat yang ada di kertas tersebut sesuai dengan alamat dia sekarang berada.


Setelah Ucup merasa benar dengan alamat tersebut lalu dia turun dari motornya. Ucup berjalan ke arah ruko tersebut, sesampai di depan ruko tersebut Ucup masuk ke dalam nya. Ucup yang sudah berada di dalam ruko tersebut berjalan menghampiri seorang pria yang sedang duduk di kursi yang berada di depan meja kasir.


"Selamat siang, mau cari apa?" Si pria yang menyadari kedatangan Ucup kedalam rukonya lalu dia segera menoleh ke arah Ucup.


"Siang juga, pak saya mau bertanya. Apakah masih ada lowongan pekerjaan?" Ucup yang sudah berada di depan meja kasir melihat ke arah si pria tersebut.


"Kamu tahu dari mana di sini membuka lowongan pekerjaan?" tanya si pria tersebut.


"Saya tahu dari ini pak." Ucup memberikan selembar kertas yang berisi lowongan perkerjaan kepada si pria tersebut.


"Oo.... ternyata kamu tahu dari selebaran kertas yang aku tempel di dinding, " kata si pria tersebut.


"Apa masih ada lowongan pekerjaan yang tertulis di selebaran kertas tersebut pak?" tanya Ucup.


"Masih, apa kamu mau melamar pekerjaan itu? " tanya si pria tersebut.


"Iya, tapi saya tidak membawa surat lamar pekerjaan pak, bagaimana ini?" Ucup yang wajah mendadak berubah merasa sedih karena dia tidak membawa surat lamaran pekerjaan.


"Kamu tidak perlu membawa surat lamaran pekerjaan," jawab si pria tersebut.


"Iya benar, bagaimana kalau sekarang kita langsung saja mulai interview?" tanya si pria tersebut.


"Baikkanlah, apa yang ingin bapak tanyakan kepada saya?" tanya Ucup.


"Perkenalkan tentang diri kamu kepada saya," jawab si pria tersebut.


"Perkenalkan pak nama saya Muhammad Yusuf, biasa di panggil Ucup. Umur saya 23 tahun pak." Ucup mengulurkan tangan ke arah si pria tersebut.


"Nama saya Eko, Ucup tinggal dimana?" Eko menjabat tangan Ucup setelah itu dia melepaskan tangan Ucup.


"Simpang tiga pak," jawab Ucup.


"Apa kamu sudah pernah bekerja sebelum nya?" tanya Eko.


"Belum pak." Ucup mengelengkan kepalanya.


"Apa yang kamu lakukan setelah lulus sekolah?" Eko yang penasaran dengan Ucup yang seumuran segitu tetapi belum pernah bekerja.


"Saya kuliah sambil membantu ayah saya," jawab Ucup.

__ADS_1


"Apa pekerjaan Ayah kamu?" tanya Eko.


"Ayah saya seorang pertani," jawab Ucup.


"Ayah kamu petani apa?" tanya Eko.


"Singkong pak," jawab Ucup.


"Berarti kamu membantu ayah kamu di kebun singkong," kata Eko.


"Kalau bukan saya yang membantu ayah di kebun singkong ayah, siapa lagi pak?" Ucup yang bertanya balik kepada Eko.


"Bagaimana dengan saudara kamu yang lain?" tanya Eko.


"Abang saya sudah bekerja dan adek saya sedang sekolah, jadi tidak ada yang membantu ayah saya kecuali diri saya sendiri." Ucup yang menjelaskan kepada Eko bahwa abang dan adeknya tidak bisa membantu ayah nya di perkebunan singkong hanyan Ucup yang bisa membantu ayah di kebun singkong tersebut.


"Apa pekerjaan abang kamu?" tanya Eko.


"Dia seorang guru," jawab Ucup.


"Kamu kuliah sudah sementer berapa?" tanya Eko.


"5 pak," jawab Ucup.


"Kenapa kamu mau bekerja di sini?" tanya Eko.


"Saya ingin membantu kedua orang tua saya mencari uang pak," jawab Ucup.


"Apa kedua orang tua kamu tahu, kalau kamu sedang mencari pekerjaan?" tanya Eko.


"Tidak pak," kata Ucup.


"Kenapa kedua orang tua kamu tidak tahu?" tanya Eko.


"Saya tidak memberitahu mereka pak," kata Ucup.


"Apa alasan kamu tidak memberitahu mereka?" tanya Eko.


"Mereka tidak akan memberikan izin kepada saya untuk bekerja, mereka maunya saya fokus kuliah pak," kata Ucup.


"Apa kamu punya keahlian?" tanya Eko.


"Saya tidak punya keahlian pak, tolong terima saya bekerja di sini pak biar saya memiliki keahlian." Ucup yang wajah berubah menjadi memelas agar Eko mau menerima dia bekerja.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2