
"Ada yang lebih parah dari lost contact, yaitu lost respect. Dia tau tapi dia tidak peduli."
"Abang ini uang lebih 300 ribu," kata Ucup.
"Apa kamu yakin uangnya lebih? coba kamu hitung sekali lagi." Agus menyuruh Ucup untuk menghitung kembali uangnya.
"Udah aku hitung lagi uangnya emang lebih 300 ribu abang." Setelah mendengarkan perkataan Agus Ucup kembali menghitung uang tersebut ternyata uang tersebut memang berlebihan 300 ribu.
"Berarti aku yang salah hitung nih," kata Agus.
"Ini uangnya abang." Ucup menyodorkan tiga lembar uang berwarna merah kepada Agus.
"Tidak usah, ambil saja itu uang buat kamu." Agus menolak uang tersebut.
"Lah, kok buat aku abang?" tanya Ucup.
"Itu uang bonus buat kamu," jawab Agus.
"Apa bos buat aku?" Ucup terkejut saat mengetahui uang tersebut bonus dari Agus.
"Iya, karena kamu rajin bekerja maka aku kasih bonus," jawab Agus.
Seminggu Kemudian.........
Ucup membantu ayah di kebun singkong, Ucup memetik daun singkong untuk di jual. Sedangkan ayah membersihkan rumput yang mulai tumbuh di kebun singkong tersebut. Ayah mencangkuli rumput yang tumbuh di kebun singkong tersebut.
Matahari begitu terik hari ini sehingga keringat yang berada di kening Ucup telah bercucuran. Baju Ucup juga basah terkena keringat, untung saja Ucup memakai pakaian yang berlengan panjang agar kulit tidak terkenak matahari secara langsung.
Ucup juga memakai topi sehingga kepala tidak terkena cahaya matahari secara langsung. Kalau terkena cahaya secara langsung kepala Ucup akan pusing.
"Ucup istirahat dulu." Ayah yang sudah berada di pondok memanggil Ucup, dia menyuruh Ucup untuk beristirahat.
"Masih nanggung ayah." Ucup menolak beristirahat karena dia belum mendapatkan daun singkong yang banyak sehingga dia masih memetik daun singkong tersebut.
"Udah tinggalkan aja dulu, natik bisa di lanjutkan lagi." Ayah menyuruh Ucup untuk berhenti memetik daun singkong, karena natik bisa di lanjutkan lagi memetik daun singkong nya.
"Ayah kalau mau makan duluan aja, tidak usaha menunggu aku." Ucup yang mengerti maksud ayahnya lalu dia menyuruh ayahnya untuk makan terlebih dahulu tanpa menunggu dia.
Esokan Harinya......
Ucup mengendarai motor ke arah sekolah Zai, saat mengendari motornya. Ucup mendengarkan bunyi klakson motor, Ucup melambat kecepatan motor lalu dia mengeserkan motornya ke arah pinggir agar motor yang berada di belakang nya biasa melewati motor yang Ucup kendarai.
__ADS_1
"Ucup." Gustaf membuka kaca helemnya, lalu dia memanggil Ucup.
"Eh, kalian." Ucup menoleh ke arah motornya yang berada di samping. Ternyata motor yang berada di samping tersebut motor Feri, Gustaf yang duduk di belakang Feri.
"Kamu mau kemana?" Feri mendekatkan motor agar bisa sejajar dengan motor Ucup.
"Kesekolah Zai, kalian mau kemana?" tanya Ucup.
"Kita mau nongkrong ke cafe, kamu mau ikut?" tanya Gustaf.
"Gak, aku duluan ya." Ucup menambah kecepatan motornya, motor yang Ucup kendarai sudah jauh meninggalkan motor yang Feri kendarai.
"Hati-hati di jalan Ucup." Gustaf melambaikan tangan ke arah Ucup.
Motor yang Ucup kendarai sudah berada di jalan jalan ke arah sekolahan Zai. Ucup mulai menurunkan kecepatan motornya karena di jalan tersebut sudah penuh dengan siswa. Ada yang siswa yang berjalan kaki dan ada siswa mengendarai motor.
Ucup melihat ke kanan kiri untuk melihat mencari keberadaan Zai. Makanya Ucup memperlambat kecepatan motornya, beberapa siswa yang mengendarai motor dengan ugal-ugalan di jalan tersebut. Sehingga Ucup harus berhati-hati mengendarai motor nya dia tidak ingin menabrak atau di tabrak oleh pengendara motor yang masih siswa.
"Abang." Zai melambaikan tangan ke arah Ucup.
"Itu Zai." Ucup yang mendengar suara Zai lalu dia menoleh ke arah suara tersebut dia melihat Zai yang sedang berjalan bersama Anton.
Ucup mengendarai motor ke arah Zai dan Anton yang sedang berjalan.
"Assalamu'alaikum." Ucup yang sedang duduk di atas motornya.
"Walaikumsalam abang." Anton terlebih dahulu menyalim punggung tangan Ucup, Zai mengikuti yang Anton lakukan yaitu dia menyalim punggung tangan Ucup.
"Apa kabar Anton?" Ucup melihat ke arah Anton.
"Sehat, abang apa kabar?" tanya Anton.
"Alhamdulillah baik. Kamu lagi makan apa?" Ucup memperhatikan Anton yang dari memakan sesuatu.
"Tela-tela, abang mau?" Anton menyodorkan sebuah bungkusan yang terbuat dari kertas.
"Mau." Ucup mengambil tela-tela yang berada di dalam bungkus.
"Gimana rasanya abang? " tanya Anton.
"Enak, ini terbuat dari apa?" Setelah Ucup mengambil tela-tela dari bungkus nya dia memakan tela-tela tersebut.
__ADS_1
"Singkong, nih kalau abang mau lagi." Anton yang menyodorkan kembali bungkus tela-tela.
"Kamu kok cuma nawarin abang Ucup aja, aku kok gak di tawarin," kata Zai.
"Ya elah Zai, kalau mau ya tinggal ambil aja," kata Anton.
"Aku ambil nih." Zai mengambil tela-tela yang berada di bungkus tersebut.
"Ayo kita pulang Zai!" Ucup mengajak Zai untuk pulang.
"Les go abang, Anton aku balik dulu ya." Zai pamit ama Anton setelah itu dia berjalan ke arah motor Ucup. Zai naik ke atas motor Ucup dia duduk di jok bagian belakang.
"Tumben tadi kamu jalan ama Anton, kenapa?" Ucup yang mengendarai motornya ke arah jalan raya.
"Tadi kita cepat pulang abang," jawab Zai.
"Kenapa kamu cepat pulang?" tanya Ucup.
"Gurunya ada urusan abang makannya kita cepat pulang." Zai menjelaskan kepada Ucup bahwa dia cepat pulang gara-gara gurunya ada urusan.
"Ooo.... begitu, siapa yang jualan tela-tela tadi?" tanya Zai.
"Ibuk kantin, kenapa abang?" tanya Zai.
"Gak ada abang cuma tanya aja," jawab Ucup.
Zai dan Ucup sudah berada di depan meja makan, mereka mau makan siang. Zai mengambil sedikit nasi, melihat lauknya dia menjadi tidak selera makan makanya dia mengambil sedikit nasinya.
"Kok sedikit makannya Zai?" Ucup melihat nasi dan lauk yang berada dalam piring Zai.
"Aku masih kenyang abang," jawab Zai.
"Kenyang makan apa?" tanya Ucup.
"Makan jajan di sekolahan." Zai yang sengaja. berbohong kepada Ucup, dia sebenarnya lagi tidak berselera makan karena melihat lauknya berupa sambel tempe dan tumis sawi.
"Bukan karena kamu gak selera makan karena lauknya cuma sambal tempe dan tumis sawi." Ucup yang mengerti bahwa Zai itu makannya pemilih. Sehingga Ucup tahu bahwa Zai tidak berselera makan dengan lauk yang hanya sambel tempe dan tumis sawi.
"Gak, aku emang masih kenyang abang." Zai terkejut saat Ucup sudah mengetahui alasannya sebenarnya bahwa dia hanya sedikit makannya.
"Heleh itu cuma alasan kamu aja Zai." Ucup yang tidak mempercayai alasan Zai.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...