
"Valentine itu bukan budaya kita, budaya kita itu nyerobot antrian dan hobi hutang tapi kalau di tagih marah-marah."
"Kalau abang ceritapun, apa kamu bisa membantu abang?" tanya Ucup.
"Mungkin aku tidak bisa membantu abang mencari solusi dari masalah abang, tapi paling tidak beban abang akan berkurang setelah bercerita kepada aku." Zai duduk di pinggir tempat tidur Ucup.
Akhirnya Ucup menceritakan kepada Zai tentang masalah pembayaran uang semester kuliah Ucup. Zai mendengarkan sambil meangagukan kepala nya. Dia sudah paham masalah keuangan yang sedang di hadapi oleh keluarga mereka.
"Sebaiknya abang shalat dan berdoa meminta petunjuk kepada Allah." Zai berdiri dari tempat duduknya, dia menepuk bahu Ucup.
"Tumben kamu ngomong kayak gini, kamu gak lagi kesambetkan?" Ucup terkejut saat mendengarkan perkataan Zai, tidak seperti biasanya malam ini Zai bisa bersikap seperti orang dewasa bahkan dia menasehati Ucup seperti dia sudah dewasa.
"Ya enggak lah, aku mau tidur dulu." Zai yang pergi dari kamar Ucup.
Seminggu Kemudian.........
Tok........... Tok
"Assalamu'alaikum." Fiqrie dan Dinda yang sudah berdiri di depan pintu rumah orang tua Fiqrie.
"Walaikumsalam, eh ternyata kalian." Ibu yang membuka pintu rumah melihat Fiqrie dan Dinda sudah berdiri di hadapan ibu.
"Ibu apa kabar?" Fiqrie yang segera mencium tangan ibunya. Setelah itu Dinda juga melakukan hal yang sama kepada ibu.
"Alhamdulillah ibu sehat, apa kalian ke sini karena di telpon ayah?" tanya ibu.
"Iya, sebenarnya ada apa ibu?" Fiqrie dan Dinda yang wajahnya terlihat khawatir.
"Sebaiknya kalian masuk dulu, natik di dalam kita bicarakan." Ibu menyuruh mereka untuk masuk kedalam rumah, mereka akan membicarakan semuanya di dalam rumah.
"Baiklah ibu." Fiqrie mengandeng tangan Dinda sambil berjalan melewati pintu tersebut.
Mereka semua sudah berkumpul di ruangan tamu kecuali Zai. Zai sedang berada di dalam kamar, keluarga sengaja tidak menyuruh Zai untuk berkumpul di ruangan keluarga. Mereka tidak ingin karena permasalahan ini membuat Zai tidak fokus bersekolah sehingga beasiswa Zai di cabut dari sekolah.
"Sebenarnya ada apa ayah menyuruh kita semua berkumpul di sini?" Fiqrie yang dari rumah sudah penasaran kenapa ayahnya tiba-tiba menyuruh dia untuk datang ke rumah ayahnya. Fiqrie merasa pasti ada suatu yang penting yang ingin mereka bicarakan kepada Fiqrie dan Dinda.
"Ada hal yang ingin ayah bicarakan," jawab Ayah.
"Apa yang ingin ayah bicarakan?" tanya Fiqrie.
"Ayah sedang mengalami masalah keuangan." Ayah berbicara dengan wajah yang lesu.
__ADS_1
"Apa ayah tidak ada yang untuk makan?" tanya Fiqrie.
"Alhamdulillah kalau untuk makan dan kebutuhan sehari-hari ayah ada," jawab ayah.
"Lalu dimana letak masalah nya?" Fiqrie yang kening berkerut mendengarkan perkataan ayah.
"Masalah ayah tidak sanggup membayar uang semester Ucup," kata ayah.
"Tapi aku ngasih Ucup uang 2 juta untuk uang semester," kata Fiqrie.
"Masalah uang masih kurang 4 juta lagi," kata ayah.
"Apa ayah tidak bisa meminjam dengan keluarga kita yang lain?" tanya Fiqrie.
"Ayah dan ibu sudah kerumah semua saudara kami tetapi tidak ada yang mau meminjam uang." Ayah yang berbicara dengan wajah yang sedih.
"Bahkan mereka tega mengusir dan menghina ayah dan ibu." Ibu yang matanya sudah berkaca-kaca mengingat semua kejadian itu.
"Apa itu benar ayah?" tanya Fiqrie.
"Iya." Ayah yang menundukkan kepalanya merasakan malu terhadap Fiqrie.
"Katakan kepada aku siapa yang sudah berbuat seperti itu kepada ayah dan ibu?" Fiqrie merasa marah mendengar ayah dan ibu di hina dan usir oleh anggota keluarga yang lainnya karena mau meminjam uang. Fiqrie berdiri dari sofa lalu dia mengepalkan tangannya.
"Iya." Fiqrie kembali duduk setelah tangan di tarik oleh Dinda.
"Sudah-sudah istighfar abang." Ucup menyuruh Fiqrie untuk beristigfar.
"Astagfirullah." Fiqrie mengucapkan istighfar sambil mengelus dadanya mengunakan tangannya.
"Gimana abang udah jauh lebih baik?" tanya Ucup.
"Alhamdulillah iya Ucup." Fiqrie yang merasa lebih baik, emosi dia sudah mulai meredah.
"Apa sudah bisa ayah lanjutkan ceritanya?" tanya ayah.
"Sudah silahkan ayah lanjutkan," jawab mereka bertiga serentak.
"Ayah dan ibu sudah berusaha mencari pinjam hutang kesana kemari tetapi tidak ada yang mau memberikan pinjaman hutang, ayah ingin meminta pendapat kalian. Apakah sebaiknya kita jual saja kambing yang tinggal sekor itu?" tanya ayah.
"Tidak ayah." Mereka menolak untuk menjual kambing milik ayah yang tinggal seekor.
__ADS_1
"Kenapa kalian tidak memperoleh ayah menjual kambing tersebut?" Ayah yang melihat ke arah mereka secara bergantian.
"Kita hanya punya satu-satunya kambing itu. Jadi ayah tidak perlu menjualnya hanya demi membayar uang semester aku," kata Ucup.
"Kita pikirkan cara lainnya, tapi jangan menjual kambing itu ayah." Fiqrie yang tidak setuju dengan ide ayah yang ingin menjual kambing tersebut.
"Pokoknya ibu tidak mau kambin itu di jual titik tidak pakai koma." Ibu berbicara dengan suara yang lantang dan nada yang tegas kepada ayah.
"Apa solusi lainnya?" tanya ayah.
"Apa aku cuti semester aja?" tanya Ucup.
"Jangan kalau udah cuti kamu akan malas buat ngelajuti kuliah." Dinda yang dari tadi hanya diam tidak berani membuka suaranya, dia merasa takut untuk mengungkapkan pendapat nya karena ini masalah keluarga Fiqrie.
"Lagian kalau cuti kuliah, kamu mau ngapain?" tanya Fiqrie.
"Aku mau bekerja, buat ngumpulin uang untuk biaya kuliah," jawab Ucup.
"Kalau kamu cuti kuliah tetap saja natik harus di bayar uang semesternya," kata Fiqrie.
"Iya aku tahu, makanya aku mau bekerja cari uang untuk kuliah abang," kata Ucup.
"Kamu mau kerja apa Ucup?" tanya ayah.
"Apa saja ayah yang penting halal dan aku bisa mencari uang untuk membayar uang semester," jawab Ucup.
"Kamu aja belum tahu mau kerja apa, sebaiknya kamu pikirkan lagi. Kamu cari dulu lowongan kerja, setelah kamu di terima kerja di sana baru lah kamu mengajukan cuti kuliah, bagaimana?" tanya Dinda.
"Nah benar itu yang Dinda katakan Ucup." Fiqrie yang menyetujui ide dari Dinda.
"Kamu tidak usah buru-buru untuk memutuskan semuanya Ucup," kata ibu.
"Lebih baik lagi kamu shalat istikharah kamu minta petunjuk ama Allah agar di berikan yang terbaik dari yang baik." Ayah memberikan Ucup nasihat untuk shalat istikharah meminta petunjuk kepada Allah.
"Baiklah ayah, ibu, abang Fiqrie dan kakak Dinda. Ucup akan menuruti saran kalian." Ucup akan menuruti saran dari keluarganya.
"Bagus kalau begitu Ucup," kata Fiqrie.
"Ayah tidak ingin kamu salah mengambil keputusan, makanya dari itu kamu harus meminta petunjuk dari ayah," kata ayah.
"Ucup penyesalan selalu datang terlambat dan kesempatan tidak datang berkali-kali. Kakak yakin kami pasti sudah paham dengan maksud dari perkataan kakak," kata Dinda.
__ADS_1
"Iya aku paham kakak." Ucup menangangukan kepalanya.
...~ Bersambung ~...