Perjuangan Ucup

Perjuangan Ucup
Basah Kuyup


__ADS_3

"Semoga setiap harapan yang patah, tumbuh kembali. Kecewa yang hadir tak lama menghinggapi. Amarah yang memuncak mampu di kurangi. Semoga apa saja yang kini tak baik, perlahan membaik."


Ucup yang sudah selesai bercerita tentang kelinci dan kura-kura kepada Zai sambil mengendarai motornya. Motor yang Ucup kendarai telah tiba di jalan raya, suasana lalu lintas di jalan raya siang ini cukup ramai karena bertepatan dengan jam pulang sekolah. Ucup fokus mengendarai motor dengan melihat ke arah depan.


Tik............ Tik


Hujan turun mengenai helem yang di pakai oleh Ucup.


"Hujan ya Zai?" tanya Ucup.


"Iya, jadi gimana nih abang?" Zai membalikkan telapak tangannya untuk merasakan air hujan.


"Masih germis, jadi mendingan kita lanjutkan saja." Ucup yang terus melanjutkan perjalanannya.


"Iya, makanya abang ngebut bawa motornya." Zai yang menyuruh Ucup untuk ngebut mengendarai motornya.


"Ini abang udah ngebut bawa motornya." Ucup yang menambah kecepatan motornya.


"Ya elah abang tambah lagi kecepatan motornya." Zai menyuruh Ucup untuk menambah kecepatan motornya.


"Gak mau ah." Ucup yang menolak Zai untuk menambah kecepatan motor, Ucup takut ngebut mengendarai motor dengan keadaan gerimis.


"Ayo lah abang ngebut bawa motornya!" Zai yang mendesak Ucup untuk ngebut mengendarai motornya.


"Sekali abang bilang gak ya gak Zai." Ucup berbicara dengan nada tinggi kepada Zai.


"Ah abang payah." Zai wajahnya berubah jadi cemberut karena Ucup tidak mau menuruti perkataannya.


Ucup memutuskan untuk diam, lama kelamaan hujan turun dengan deras sedangkan jalan menuju rumah Ucup masih jauh.


"Bagaimana kalau kita berteduh dulu? " Ucup membelokan motornya ke arah kanan. Dia memberhentikan motornya tepat di depan ruko yang kosong.


"Iya abang." Zai menyetujui perkataan Ucup untuk berteduh.


Ucup memikirkan motornya di teras ruko yang kosong, lalu dia turun dari motor sambil memperhatikan sekeliling ruko yang tampak kosong. Sedangkan Zai duduk di atas motor sambil melihat ke arah jalan raya. Zai melihat hujan turun begitu derasnya sehingga para pengendara motor segera mencari tempat untuk berteduh.


Beberapa pengendara motor melihat ke arah mereka yang sedang berteduh di depan ruko kosong. Beberapa pengendara motor tersebut ikut membelokkan motornya untuk berteduh di bawah ruko tersebut. Beberapa pengendara motor memikirkan motornya di samping motor Ucup. Mereka duduk di atas motor sambil menunggu hujan redah.


Sebagian dari pengendara yang ada di sana mengambil mantel (jas hujan) dari dalam jok motor. Mereka membuka jok motor lalu mereka mengambil mantel (jas hujan) yang berada di dalam jok motor. Mereka memakai mantel (jas hujan) tersebut lalu mereka mulai melajuka motornya meninggal ruko tersebut. Zai yang melihat sebagai dari pengendara motor yang memakai mantel (jas hujan) .

__ADS_1


"Abang." Zai memanggil Ucup.


"Iya, ada apa?" Ucup yang merasa Zai memanggil dia, lalu dia menoleh ke arah Zai yang berada di atas motor.


"Apa abang ada mantel (jas hujan)?" tanya Zai.


"Tidak ada, emang kenapa?" Ucup yang berjalan menghampiri Zai yang berada di atas motor.


"Terus, kita gimana mau pulang?" Zai yang sudah merasa bosan berada di sana.


"Tunggu hujan sampai redah." Ucup yang sudah berada di samping Zai yang duduk di atas motor.


"Gimana kalau hujannya gak redah abang?" tanya Zai.


"Terpaksa kita terobos aja hujannya," jawab Ucup.


"Kalau gitu mendingan sekarang aja kita terobos hujannya abang, gimana?" tanya Zai.


"Tunggu redah dulu," jawab Ucup.


"Sampaikan kita nunggu abang?" tanya Zai.


"Ntalah, kenapa emangnya?" Ucup yang mengangkat kedua bahunnya.


"Iya, tapi kamu sabar dulu. Sekarang hujannya masih deras." Ucup yang mencoba memberi pengertian kepada Zai.


"Ya elah abang malah nyuruh aku buat sabar, sabar makin lebar nih jidat aku," kata Zai.


"Dari sabar kok bisa jadi lebar jidat sih." Ucup yang keningnya berkerut setelah mendengarkan perkataan Zai.


"Udah ah abang gak usah di pikirin itu, yang penting sekarang abang harus pikirin,gimana cara kita pulang kerumah?" tanya Zai.


"Kalau gitu kita tinggal menunggu saja," jawab Ucup.


"Menunggu itu membosankan abang, apalagi kalau yang di tunggu itu gak pasti abang," kata Zai.


"Terus, Zai maunya gimana?" tanya Ucup.


"Kita terobos aja hujannya abang," jawab Zai.

__ADS_1


"Tunggu satu jam lagi, kalau gak redah juga kita terobos hujannya," kata Ucup.


"Baiklah abang," kata Zai.


30 Menit Kemudian


Hujan sudah redah Ucup segera naik ke atas motornya. Ucup melajukan motornya dengan kecepatan standar, kondisi jalan aspal yang terdapat beberapa air yang mengenang di sana. Selain itu kondisi jalan aspal yang sedikit licin karena baru redah hujan.


Ucup berhati-hati membawa motornya, dia tidak ingin terjadi kecelakaan atau dia terjatuh dari motornya sehingga dia mengendarai motor dengan kecepatan standar. Ucup mengendarai motor sudah mendekati jalan menuju rumahnya. Tiba-tiba saja hujan deras turun saat Ucup sedang mengendarai motor tersebut.


"Mau lanjut atau berhenti?" tanya Ucup.


"Lanjut aja abang." Zai meminta Ucup untuk melanjutkan mengendarai motornya.


"Tapi, apa kamu gak apa-apa kena hujan?" tanya Ucup.


"Gak apa-apa abang, kita terobos aja hujan ini." Seluruh tubuh Zai yang sudah basah terkena air hujan.


"Pegangan Zai." Ucup menyuruh Zai untuk memegang dirinya.


"Aku pegang apa abang?" tanya Zai.


"Pegang baju abang." Ucup menyuruh Zai untuk memegang bajunya.


"Aku pegang ini aja." Zai melingkarkan tangannya di pinggang Ucup lalu dia menyandarkan kepalanya di belakang punggung Ucup.


"Jangan, pegang yang lain aja." Ucup yang merasa tidak nyaman saat Zai memegang pinggang Ucup.


"Aku gak mau, mau ini aja." Zai menolak memegang bagian yang lain. Dia hanya mau memegang pinggang Ucup.


Terpaksa Ucup membiarkan Zai memeluk pinggangnya sambil menyadarkan kepalanya di belakang punggung Ucup. Ucup terus mengendarai motor sehingga motor yang ia kendarai sudah berada di persimpangan perumahan. Ucup melajukan motornya ke arah rumahnya.


Motor yang Ucup kendarai akhirnya sudah sampai di halaman rumah Ucup, karena kondisi masih hujan Ucup mengendarai motor sampai di depan teras rumahnya. Dia memikirkan motornya di teras rumahnya. Di teras rumah Ucup sudah ada motor ayah. Mereka yakin bahwa ayah dan ibu sudah pulang ke rumah.


Setelah itu mereka turun dari motor, mereka berjalan ke arah pintu rumah dengan kondisi pakaian mereka yang sudah basah kuyup. Mereka sudah berdiri di depan pintu rumah, dengan keadaan mereka yang sudah basah kuyup.


Tok........ Tok


"Assalamu'alaikum." Mereka yang sudah berdiri di depan pintu rumah Ucup.

__ADS_1


"Walaikumsalam, tunggu sebentar." Ibu yang mendengar suara Ucup dan Zai. Ibu segera keluar dari kamarnya lalu dia berjalan ke arah pintu tersebut. Ibu yang sudah berada di depan lalu dia membuka kunci rumahnya.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2