
"Nanti kau akan tahu, yang berat itu buka menahan rindu, melainkan menahan amarah ketika hati hendak marah."
Seminggu Kemudian........
Udah satu minggu ini Ucup tidak melihat Aqila datang membeli tela-tela.
"Abang tela-tela." Hana yang berdiri di depan gerobak Ucup.
"Mau rasa apa?" Ucup yang sibuk mengoreng tela-tela jadi dia tidak menoleh ke arah Hana.
"Ada rasa apa aja abang?" Hana yang terus saja melihat ke arah abang penjual tela-tela.
"Balado, BBQ dan jagung manis, mau rasa apa?" Ucup yang mengangkat tela-tela yang sudah di goreng lalu dia menitiskan tela-tela tersebut.
"Balado, BBQ dan jagung manis," jawab Hana.
"Mau berapa?" tanya Ucup.
"Buat 5 ribu ke tiganya abang," jawab Hana.
"Baiklah." Ucup mulai membuat ketiga rasa tersebut.
Hana terus saja memperhatikan wajah abang tela-tela tersebut, tetapi wajah Ucup yang terus menunduk sehingga Hana tidak bisa melihat dengan jelas. Sehingga membuat Hana makin penasaran dengan wajah abang tela-tela. Ucup membuat tela-tela tersebut dalam tiga bungkus yang berbeda lalu dia memasukkan ketiga bungkus tela-tela tersebut ke dalam sebuah kantong plastik.
"Ini tela-telanya." Ucup memberikan sebuah kantong plastik kepada Hana.
"Abang Ucup." Akhirnya Hana bisa melihat wajah abang tela-tela tersebut ternyata Ucup.
"Kamu teman Aqila kan?" Ucup melihat ke arah wajah Hana.
"Iya abang," jawab Hana.
"Aqila kemana?" Ucup penasaran dengan Aqila yang seminggu ini tidak kelihatan, sehingga Ucup bertanya kepada Hana.
"Dia lagi sakit abang," jawab Hana.
"Dia sakit apa?" tanya Ucup.
"Sakit hati ama abang." Hana berbicara dengan ketus.
"Lah kok sakit hati ama aku?" Ucup terkejut dengan perkataan Hana.
"Habis abang udah di tolong ama Aqila malah bersikap cuek," jawab Hana.
"Maksud gimana sih?" Ucup yang keningnya berkerut mendengar perkataan Hana.
"Apa abang gak tahu kalau Aqila suka ama abang?" tanya Hana.
"Suka gimana?" tanya Ucup.
"Ah abang nih gak peka jadi cowok." Hana wajah terlihat kesal dengan Ucup yang tidak peka terhadap Aqila.
__ADS_1
"Loh kok ngomong aku gak peka sih," kata Ucup.
"Kan emang abang gak peka," kata Hana.
"Gak peka gimana sih?" tanya Ucup.
"Ah pakai nanya lagi." Hana mengambil kantong plastik dari tangan Ucup.
"Aku gak tahu makanya nanya," kata Ucup.
"Ini uang abang." Hana menyerahkan uang kepada Ucup.
Ucup sedang berbaring di atas tempat tidur sambil menjadikan lengannya sebagai bantal. Ucup sedang memikirkan perkataan Hana, Ucup memang tidak peka kalau berurusan dengan perempuan. Ucup juga bingung dengan perasaannya.
Selama seminggu ini Aqila tidak datang ketempat dia berjualan, Ucup merasakan rindu kepada Aqila. Ucup mencoba memejamkan matanya saat dia memejamkan matanya wajah Aqila terbayang oleh nya. Ucup kemudian membuka lagi kedua matanya.
"Ah, ada dengan aku?" Ucup bergumam.
"Kenapa aku terbanyak wajah Aqila terus," kata Ucup.
"Apakah aku merindukan Aqila?"
"Kenapa dari tadi aku terus memikirkan Aqila?"
"Apa yang harus aku lakukan agar berhenti memikirkan Aqila?"
"Kenapa Aqila berputar di kepala aku?"
"Sepertinya aku memang merindukan Aqila."
"Bagaimana cara aku bisa bertemu dengan Aqila?"
"Aku tidak mungkin pergi ke kampus untuk menemukan Aqila, sedangkan Aku masih cuti kuliah."
"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Ucup yang tidak bisa tidur karena bayangan wajah Aqila terus saja muncul di hadapan dia. Ucup sudah menutup kedua matanya tetap saja bayangan wajah Aqila ada.
Esokan Harinya..........
Zai sudah memakai seragam sekolah keluar dari kamarnya. Zai berjalan ke arah dapur sesampainya di dapur Zai melihat ayah dan ibu sudah duduk di kursi yang berada di hadapan meja makan.
"Selamat pagi ayah ibu." Zai menarik kursi yang berada di hadapan ibu
"Selamat pagi Za," kata ayah.
"Abang Ucup mana ayah?" Zai yang tidak melihat keberadaan Ucup akhirnya bertanya tentang Ucup kepada ayah.
"Ayah tidak tahu." Ayah mengatakan tidak tahu tentang keberadaan Ucup.
"Mungkin Ucup belum bangun," kata ibu.
__ADS_1
"Apa abang Ucup belum bangun?" Zai terkejut mendengar perkataan ibu.
"Seperti begitu soalnya dari tadi ibu belum melihat Ucup keluar dari kamarnya." Ibu memberitahukan ayah dan Zai bahwa dari tadi ibu belum melihat Ucup keluar dari kamarnya.
"Kalau begitu aku ke kamar abang Ucup dulu." Zai berdiri dari bangku lalu dia berjalan meninggalkan dapur.
Zai sudah berada di depan pintu kamar Ucup, dia mengetuk pintu kamar Ucup.
Tok....... Tok
"Abang Ucup."
"Ini aku Zai."
"Abang aku masuk ya." Karena tidak ada jawaban dari Ucup akhirnya Zai pun membuka pintu kamar Ucup.
Setelah pintu kamar Ucup terbuka Zai berjalan masuk ke dalam kamar. Zai melihat Ucup yang masih tertidur di atas tempat tidur. Zai menghampiri Ucup yang berada di atas tempat tidur.
"Abang Ucup."
"Abang bangun." Zai yang sudah berdiri di pinggir tempat tidur Ucup membangunkan Ucup.
"Zai aku masih ngatuk." Ucup yang mendengar suara Zai membangunkan nya, dia mencoba membuka kedua matanya tetapi begitu lengket sehingga tidak bisa terbuka.
"Tapi ini udah pagi abang," kata Zai
"Iya aku tahu, aku masih ngatuk." Ucup yang tadi malam sulit tidur karena terbayang wajah Aqila sehingga dia tidak bisa tertidur. Ucup bisa tertidur saat jam 03.00 wib dini hari setelah merasakan kantuk yang luar biasa akhirnya dia tertidur.
"Ya sudah kalau begitu abang." Zai merasa tidak tega membangunkan Ucup, Zai tahu Ucup pasti merasakan capek setiap malam harus bekerja menjual tela-tela sedangkan pagi harinya dia berada di kebun membantu kedua orang tuanya. Dan siang harinya Ucup harus mengupas singkong dan mengukus singkong tersebut.
Setelah di kukus Ucup harus memotong singkong tersebut dengan bentuk seperti angka satu yaitu memanjang. Sore harinya Ucup sudah menyiapkan tela-tela yang di letakan di gerobak. Ucup mendorong gerobak sampai di tempat berjualan itu cukup jauh dan membutuhkan banyak tenaga.
Zai meninggal kamar Ucup, dia kembali ke dapur untuk sarapan pagi bersama ayah dan ibu. Zai susah duduk di kursi yang tadi.
"Ucup mana?" tanya ayah.
"Masih tidur," jawab Zai.
"Apa dia sakit?" Ibu yang khawatir ama Ucup karena dia tidak biasanya bersikap seperti ini.
"Tidak ibu," jawab Zai.
"Tapi tumben dia kesiangan seperti ini, ada apa?" tanya ibu.
"Mungkin dia kecapekan ibu, jadi butuh istirahat," jawab ayah.
"Jadi sebaiknya ayah ibu tidak usah membangunkan abang Ucup, biarkan dia beristirahat," kata Zai.
"Zai benar, Ucup butuh istirahat, pagi dia membantu kita, siang hari dia mempersiapkan barang dagangan, sore harinya dia mendorong gerobak sampai di tempat di berjualan. Setelah sampai di tempat dia berjualan maka dia berjualan tela-tela.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1