Perjuangan Ucup

Perjuangan Ucup
Sahabat Ucup


__ADS_3

"Jangan terbebani dengan penilaian orang lain terhadap dirimu, kamu yang lebih mengenal dirimu sendiri. Perkara orang lain memandang kamu sebagai apa itu terserah mereka."


"Bisa." Ucup berjalan meninggalkan seorang tersebut.


Seorang tersebut mengikuti Ucup yang berjalan terlebih dahulu. Ucup berjalan ke arah kelas jurusan ekonomi semester satu. Ucup merasa yakin bahwa seorang tersebut mahasiswa baru. Makanya dengan mudah si kerjain oleh mahasiswa lainnya.


Ucup sudah sampai di depan kelas Ekonomi, dia berhenti berjalan lalu berdiri di depan pintu kelas tersebut. Melihat Ucup berhenti di depan pintu kelas tersebut seorang tersebut berjalan ke arah pintu kelas.


"Assalamualaikum." Seorang tersebut masuk ke dalam kelas.


"Walaikumsalam," jawab seorang mahasiswa yang sedang duduk di kursi yang ada di dalam kelas.


"Apa ini kelas ekonomi semester satu?" tanya seorang tersebut.


"Iya, kenapa emangnya?" tanya mahasiswa tersebut.


"Berarti ini kelas aku." Seorang tersebut berjalan keluar dari kelas ekonomi.


"Eh tunggu kamu mau kemana?" Mahasiswa tersebut melihat seorang yang sedang berjalan ke arah pintu kelas.


Seorang tersebut sudah berada di luar kelas dia berdiri sambil melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Ucup. Tetapi dia tidak menemukan keberadaan Ucup di situ, dia merasa kecewa karena tidak menemukan Ucup di situ karena dia belum mengucapkan terima kasih kepada Ucup. Dia berharap suatu saat natik akan bertemu dengan Ucup agar dia bisa mengucapkan terima kasih kepada Ucup.


Setelah melihat seorang tersebut masuk ke dalam kelas jurusan Ekonomi semester 1, dia membalikan badan lalu berjalan ke arah kelasnya. Kelas Ucup dengan kelas Ekonomi itu letaknya sangat jauh, sehingga Ucup harus bergegas berjalan kearah kelasnya. Ucup berjalan buru-buru ke arah kelasnya, dia merasa takut kalau dosen terlebih dahulu masuk ke dalam kelasnya.


Akhirnya Ucup sudah sampai di depan pintu kelas jurusan Perternakan. Ucup memasukan kepala terlebih ke dalam kelas untuk melihat keadaan kelasnya. Gustaf yang melihat ke arah pintu kelas, dia melihat kepala Ucup yang muncul di pintu kelas sambil melihat ke arah kursi dosen.


"Ucup sini." Gustaf yang menggerakan tangannya agar Ucup berjalan ke arahnya.


"Iya." Ucup yang mendengar namanya di panggil lalu menoleh ke arah suara tersebut ternyata ada Gustaf dan Feri yang sudah duduk di bangku barisan paling belakang.


Ucup berjalan masuk ke dalam kelas lalu berjalan ke arah barisan belakang. Di barisan belakang sudah ada satu bangku kosong yang sengaja di jaga Gustaf dan Feri. Bangku kosong tersebut di siapkan oleh Gustaf dan Feri untuk Ucup sehingga mahasiswa lainnya tidak di perbolehkan untuk duduk di bangku kosong tersebut.


"Udah ngisi absen ke toiletnya Ucup?" tanya Gustaf.


"Udah dari tadi." Ucup duduk di bangku kosong yang berada di tengah antara Gustaf dan Feri.


"Lah terus, kita dari tadi nungguin Ucup. Ucup dari mana aja?" tanya Feri.

__ADS_1


"Habis ngatarin seseorang," jawab Ucup.


"Cewek atau cowok?" Gustaf yang terlihat begitu penasaran.


"Yang pasti ceweklah, mana mungkin Ucup mau nganterin cowok. Masak jeruk ketemu jeruk," jawab Feri.


"Iya juga ya, gimana cantik ceweknya?" tanya Gustaf.


"Yang namanya cewek udah pasti cantik, nah kalau aku baru ganteng Gus." Feri yang kepedean tingkat tinggi.


"Dari tadi aku tanya ama Ucup, kok kamu terus yang jawab emang nama kamu udah ganti jadi Ucup?" Gustaf yang terlihat kesal karena dari tadi setia pertanyaan pasti di jawab oleh si kapal Feri yang menyebalkan.


"Aku cuma mewakili Ucup aja untuk menjawab pertanyaan kamu yang tidak ada bobotnya," kata Feri.


"Lah terus kasih tahu aku seperti apa pertanyaan yang berbobot itu," kata Gustaf.


"Kayak gini Gus, siapa nama cewek itu Ucup?" tanya Feri.


"Ntlah," jawab Ucup.


"Habis aku gak tahu namanya," kata Ucup.


"Emang tadi kamu gak ngajak kenalan ama tuh cewek?" tanya Feri.


"Gak." Ucup mengelengkan kepalanya.


"Ucup....Ucup." Feri yang gak habis pikir dengan Ucup udah bertemu ama mahasiswi cantik tapi tidak berkenalan ama mahasiswi tersebut.


"Padahal tadi kesempatan kamu loh Ucup buat kenalan ama dia, kenapa di sia-siakan sih Ucup?" tanya Gustaf.


"Aku gak ada pikiran buat kenalan ama dia." Ucup yang berbicar tanpa beban pikiran.


"Hahaha, pantas aja jomblo dari lahir." Gustaf dan Feri yang tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Ucup.


"Kalian kok ketawa sih, emang ada yang lucu?" Ucup yang melihat ke arah Gustaf dan Feri yang sedang tertawa terbahak-bahak.


"Kamu yang lucu," jawab Gustaf.

__ADS_1


"Kok aku yang lucu, padahal aku kan bukan badut masak di bilang lucu sih," kata Ucup.


"Gak harus jadi badut untuk bisa lucu Ucup," kata Feri.


"Kalian berdua benar-benar aneh, aku gak ngerti ama jalan pikiran kalian berdua yang mengatakan aku lucu." Ucup yang mengelengkan kepalanya karena tidak mengerti ama jalan pikiran kedua sahabatnya.


"Ucup aku boleh nanya kan?" tanya Gustaf.


"Mau tanya apa Gus?" tanya Ucup.


"Apa Ucup suka ama lawan jenis?" tanya Gustaf.


"Aku ini masih normal Gus, aku juga menyukai wanita." Ucup yang berbicara dengan suara yang tegas kepada kedua sahabat agar mereka tidak berpikir bahwa Ucup menyukai sesama jenis.


"Syukur deh kalau Ucup masih normal, kita berdua takut kalau Ucup tidak normal alias penyuka sesama jenisnya," kata Gustaf.


"Apa kalian berpikiran seperti itu karena aku jomblo?" tanya Ucup.


"Iya," jawab Gustaf.


"Selain itu Ucup tidak pernah dekat ama cewek wajar kalau kami curigakan?" tanya Feri.


"Sekarang aku tanya ama kalian apa ada cewek yang mau ama cowok miskin kayak aku?" tanya Ucup.


"Ucup kok ngomong kaya gitu sih." Gustaf yang merasa tidak suka ama yang Ucup katakan.


"Aku ngomong sesuai kenyataannya Gus dan Feri, aku ini hanya anak dari seorang petani singkong. Kedua orang tua aku kerja banting tulang di kebun singkong agar aku bisa mengkuliahkan aku disini. Makanya aku tidak ada pikiran untuk menjalin hubungan ama seorang wanita, untuk saat ini aku hanya ingin fokus kuliah agar aku bisa cepat lulus kuliah. Setelah itu aku ingin berkerja mengumpulkan uang untuk bisa membahagiakan kedua orang tua aku," kata Ucup.


"Maafkan kita berdua ya Ucup." Mereka berdua yang merasa bersalah kepada Ucup, segera meminta maaf kepada Ucup.


"Aku sudah memaafkan kalian berdua sebelum kalian berdua minta maaf." Ucup yang tersenyum melihat ke arah Gustaf dan Feri.


"Terima kasih, Ucup emang sahabat kita yang terbaik," kata mereka berdua dengan serentak.


"Hanya kalian berdua lah sahabat yang aku punya," kata Ucup.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2