Perjuangan Ucup

Perjuangan Ucup
Uang Semester


__ADS_3

"Kalau orang jauhi kita, kita jauhkan diri juga kalau orang gak suka kita, gak usah kita tunjukkan muka. Pergilah ke tempat di mana kita di hargai, kita berhak memilih jalan hidup sendiri."


"Kan aku gak bisa makan keripik singkong gratis lagi." Anton berbicara dengan wajah sedih.


"Nah ini nih yang buat usaha abang Ucup bangkrut." Ridho yang menyalahkan Anton sebagai penyebab usaha Ucup bangkrut.


"Bukan, mungkin ini emang udah jalan dari Allah jadi Ridho tidak boleh menyalahkan Anton," kata Ucup.


6 Bulan Kemudian............


Ucup sudah berdiri di depan rumah Fiqrie, Ucup terlihat ragu untuk mengetuk pintu rumah Fiqrie.


Tok....... Tok


"Assalamu'alaikum." Akhirnya dengan berat hati Ucup mengetuk pintu rumah Fiqrie.


Ucup sudah mengetuk pintu rumah Fiqrie sambil mengucapkan salam, tetapi tidak ada yang membuka pintu atau menjawab salam Ucup. Ucup kembali mengetuk pintu rumah sambil mengucapkan salam sampai sebanyak tiga kali. Tetapi hasil nihil (tidak ada) sama sekali yang membukakan pintu dan menjawab salam Ucup.


Ucup yang berniat untuk pergi rumah Fiqrie, Tiba-tiba saja dia mendengar suara orang.


"Walaikumsalam Ucup." Fiqrie yang sudah berada di belakang Ucup.


"Eh, abang Fiqrie." Ucup membalikkan badannya, dia melihat Fiqrie sudah berada di hadapan nya sekarang.


"Sudah berapa lama kamu si sini?" Fiqrie berjalan mendekati pintu rumah.


"Belum lama abang." Ucup mengeserkan badannya dari pintu rumah Fiqrie.


"Ayo silahkan masuk Ucup!" Fiqrie sudah membuka pintu rumah nya, lalu dia menyuruh Ucup untuk masuk kedalam rumahnya.


"Baiklah abang." Ucup membuka sepatunya lalu dia berjalan masuk ke dalam rumah Fiqrie.


"Kamu mau minum apa?" Fiqrie berjalan masuk ke dalam. rumah, dia berada si belakang Ucup.


"Tidak usah abang, aku cuma sebentar." Ucup duduk di sofa yang berada di ruangan tamu rah Fiqrie.


"Tunggu sebentar." Fiqrie berjalan meninggalkan ruangan tamu.


Fiqrie sudah berada di ruangan tamu, dia berjalan ke arah meja. Dia meletakkan sebuah gelas yang berisi air putih di atas meja tersebut.


"Silakan di minum dulu Ucup." Setelah mengatakan itu Fiqrie duduk di sofa yang berada di depan Ucup.


"Glug glug, terimakasih abang." Ucup mengambil gelas berada di meja lalu dia meminum ari dari dalam gelas tersebut hingga tinggal setengah.

__ADS_1


"Bagaimana kabar ayah, ibu dan Zai?" tanya Fiqrie.


"Alhamdulillah mereka sehat, kakak Dinda kemana abang?" Ucup yang tidak melihat kakak iparnya akhinya menanyakan langsung mengenai kakak iparnya kepada abangnya.


"Kakak Dinda masih di sekolah, apa kamu gak kuliah?" tanya Fiqrie.


"Aku baru pulang kuliah abang, kabar kakak Dinda bagaimana abang?" tanya Ucup.


"Alhamdulillah kami berdua baik, sebenarnya kamu ada apa?" Fiqrie yang penasaran, tidak seperti biasanya Ucup pergi kerumahnya. Fiqrie yakin pasti ada sesuatu.


"Aku cuma mau main ke rumah abang, apa tidak boleh?" Ucup bertanya balik kepada Fiqrie.


"Tentu saja boleh, tapi kenapa kamu tadi tidak. menghubungi abang terlebih dahulu?" tanya Fiqrie.


"Aku kira abang sudah berada di rumah tadi soalnya ini udah lewat jam pulang anak sekolah, makanya aku langsung kesini tanpa menelpon abang dulu." Ucup menjelaskan kepada Fiqrie alasan dia datang tanpa menghubungi Fiqrie.


"Apa tidak ada tujuan lain kamu kesini?" tanya Fiqrie.


"Sebenarnya ada abang." Ucup menundukkan kepala karena tidak berani mengatakan kepada Fiqrie.


"Apa?" Fiqrie yang penasaran.


"Apa abang ada uang?" tanya Ucup.


"Uang untuk apa?" tanya Fiqrie.


"Berapa uang semesternya?" tanya Fiqrie.


"6 juta abang," jawab Ucup.


"Waduh, kalau sebanyak itu abang gak ada," kata Fiqrie.


"Uang abang ada berapa?" Ucup mengangkat wajahnya.


"Abang cuma bisa bantu kamu 2 juta," jawab Fiqrie.


"Terus aku harus cari kekurangan dimana abang?" Ucup terlihat frustasi karena masih kurang 4 juta lagi untuk membayar semesternya.


"Coba kamu bicarakan ama ayah ibu." Fiqrie berdiri dari sofa tersebut.


Malam Harinya......


Ayah, Ibu dan Ucup sedang berada di ruangan keluarga.

__ADS_1


"Ayah, ibu tadi aku udah ke rumah abang Fiqrie," kata Ucup.


"Terus, bagaimana Ucup?" tanya ibu.


"Abang Fiqrie memberikan yang 2 juta untuk bayar semester, masih kurang 4 juta lagi. Aku bingung ayah ibu kita harus mencari kemana uang sebanyak itu?" Ucup yang wajahnya terlihat kusut memikirkan mencari uang 4 juta.


"Gimana kalau kita jual saja kambing yang masih ada?" tanya ayah.


"Jangan ayah." Ucup yang tidak setuju dengan ide ayah, kambing yang mereka punya itu hanya tinggal seekor. Kambing yang lain ada yang sudah di jual dan ada yang mati.


"Apa tidak cara lain ayah?" Ibu yang tidak setuju sehingga dia bertanya.


"Aku tidak setuju kalau harus menjual kambing yang tinggal seekor itu," kata Ucup.


"Sebaiknya kita cari cara yang lain ayah." Ibu memberikan pendapatnya kepada ayah.


"Cara lain gimana ibu?" tanya ayah.


"Coba kita cari pinjam ke saudara buat bayar uang semester Ucup," jawab ibu.


"Baiklah ibu besok kita coba." Ayah menyetujui ide ibu untuk mencoba mencari pinjama uang.


Ucup sudah membaringkan badan di atas tempat tidur, dia masih berpikir untuk mencari kekurangan uang untuk membayar uang sementer. Mana kekurangan uang membayar semester masih banyak 4 juta. Kalau Ucup tidak bisa membayar sementer dia tidak bisa ikut ujian.


Ucup duduk di atas tempat tidur sambil menyadar badannya di dasbor tempat tidur. Ucup menjambak rambutnya karena merasa frutasi belum menemukan solusi untuk mencari kekurangan uang untuk membayar semester.


Sementara Zai yang berada di dalam kamarnya sedang duduk di kursi. Zai yang baru saja selesai mengerjakan prnya. Sebenarnya dari tadi Zai mendengarkan percakapan ayah, ibu dan Ucup di ruangan keluarga. Percakapan ayah, ibu dan Ucup sempat menganggu konsentrasi Zai dalam mengerjakan prnya. Zai mencoba kembali berkonsentrasi agar bisa mengerjakan prnya.


Sehingga akhirnya Zai bisa menyelesaikan pr, Zai pun memikirkan percakapan kedua orang tuanya dengan Ucup. Zai merasa kasihan melihat kondisi keuangan keluarga yang saat ini lagi mengalami kesulitan ekonomi. Sehingga kedua orang tuanya mengalami kesulitan untuk membayar uang semester Ucup.


Tok...... Tok


"Abang ini aku." Zai yang sudah berdiri di depan pintu kamar Ucup.


"Masuk aja Zai." Ucup yang mendengarkan suara Zai yang berada di depan pintu kamarnya, menyuruh Zai untuk masuk dalam kamarnya.


"Baiklah abang." Zai membuka pintu kamar lalu dia berjalan masuk ke dalam kamar Ucup.


"Ada apa Zai?" tanya Ucup.


"Apa abang masalah?" Zai sudah berdiri di samping tempat tidur Ucup.


"Tidak ada, kamu kenapa belum tidur?" tanya Ucup.

__ADS_1


"Sudah lah abang jangan di tutup-tutupi dari aku lagi." Zai mendesak Ucup agar mau berbicara.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2