
"Tugas kamu pada orang lain cukup menjadi orang baik saja, perkara orang lain menganggap kamu seperti apa itu urusannya dengan Allah."
"Ucup biar Dinda dan ibu yang membereskan ini semua." Ibu yang berdiri dari kursi lalu mencoba membantu Dinda.
"Ibu sebaiknya duduk biar Dinda yang mengerjakan semuanya," kata Dinda.
"Fiqrie, Ucup dan Zai sebaiknya kita ke ruangan keluarga sekarang." Ayah yang berdiri dari kursinya. Ayah yang berjalan ke arah ruangan keluarga.
"Iya ayah." Mereka bertiga berdiri dari kursi.
Ucup dan Zai sudah berjalan menyusul ayah ke ruangan keluarga.
"Ibu yang Dinda katakan benar, sebaiknya ibu duduk di sini." Fiqrie memegang tangan ibu, lalu dia menyuruh ibu untuk duduk di kursi yang berada di belakang ibu.
"Iya." Ibu duduk kembali di kursinya.
"Ibu dan Dinda aku mau nyusul mereka dulu." Fiqrie meninggalkan dapur lalu berjalan ke arah ruangan keluarga.
"Iya abang, ibu aku tinggal nyuci ini semua dulu ya." Dinda mengangkat semua peralatan makan yang kotor, dia membawa semuanya ke arah westafel.
Mereka sudah berkumpul sambil duduk di atas tikar yang ada di ruangan keluarga.
"Gimana pekerjaan Fiqrie?" tanya ayah.
"Alhamdulillah semua lancar ayah," jawab Fiqrie.
"Kenapa abang jarang ke rumah ini?" tanya Zai.
"Sibuk Zai," jawab Fiqrie.
"Alah itu cuma alasan abang, bilang aja sudah nikah abang lupa ama kami," kata Zai.
"Zai gak boleh ngomong kayak gitu ama Fiqrie." Ayah yang mencoba menasehati Zai.
"Iya dek benar apa yang di katakan ayah," katq Ucup.
"Abang gak mungkin lupa ama keluarga abang, bagi abang kalian itu lebih utama dari istri abang." Fiqrie yang mencoba menyakinkan Zai.
"Alah abang bisanya cuma ngomong doang, kita butuh bukti bukan hanya sekedar janji," katq Zai.
"Apa Zai ada pr?" Ucup yang coba mengalihkan topik pembicaraan.
"Astoge aku ada pr." Mendengar pertanyaan dari Ucup lalu Zai teringat bahwa dia mempunyai pr, dia menepuk sifatnya karena lupa.
"Bukan astoge tapi astafirallah," kata Fiqrie.
__ADS_1
"Itu maksud aku abang." Zai yang berdiri dari tempat duduknya.
"Mau kemana Zai?" tanya Ucup.
"Mau main gitar." Zai yang berjalan meninggal mereka.
"Pokok dek harus kerjakan pr, awas aja kalau gak buat pr abang ambil tuh gitar," kata Ucup.
"Ini aku mau buat pr, aku juga gak mau mendapat hukuman gara-gara tidak membuat pr ama guru aku." Zai berhenti berjalan lalu membalikkan badan melihat ke arah Ucup.
"Bagus itu, sana kerjakan pr adek," kata Ucup.
Setelah Zai pergi ke kamarnya mereka melanjutkan mengobrol.
"Mau kemana Ucup?" ayah melihat ke arah Ucup yang berdiri dari tempat duduknya.
"Abang mau minum apa?" tanya Ucup.
"Kopi, tapi Ucup yang buat kopinya," jawab Fiqrie.
"Kenapa harus Ucup yang buat kopinya?"tanya ayah.
"Aku kangen ama kopi buatan Ucup ayah," jawab Fiqrie.
"Ya udah kalau gitu biar aku yang buat kopinya, ayah juga maukan?" tanya Ucup.
Sesampai di dapur Ucup melihat Dinda yang sedang mencuci peralatan makan sedangkan ibu duduk di kursi.
"Ucup kesini mau apa?" Ibu yang melihat ke arah Ucup.
"Aku mau buat kopi ibu." Ucup berjalan ke arah rak piring mengambil panci.
"Sini biar ibu aja yang buat." Ibu berdiri dari kursi lalu ibu berjalan menghampiri Ucup.
"Tidak usah ibu, biar aku aja yang buat." Ucup menolak ibu yang ingin membuatkan kopi untuk mereka.
"Kenapa Ucup?" Ibu yang terlihat sedih.
"Abang Fiqrie pengen kopi buatan aku ibu," kata Ucup.
"Emang kenapa kalau kopi buatan ibu?" tanya ibu.
"Kopi buatan ibu yang paling enak tapi sekarang abang Fiqrie lagi pengen kopi buatan Ucup." Ucup yang memberikan pengertian kepada ibu agar ibu tidak merasa sedih lagi.
Ucup yang membawa nampan yang berisi tiga gelas kopi ke arah ruangan keluarga. Sesampai di ruangan keluarga Ucup meletakan nampan yang berisi tiga gelas kopi di hadapan ayah dan Fiqrie. Ucup duduk di hadapan ayah dan Fiqrie.
__ADS_1
Mereka mengobrol sambil menikmati segelas kopi yang sudah Ucup buat. Setelah Dinda selesai mencuci peralatan dapur ibu mengajak Dinda ke ruangan keluarga. Dinda dan ibu berjalan ke arah ruangan keluarga.
Sesampai di ruangan keluarga ibu dan Dinda duduk di atas tikar. Mereka yang melihat ke arah ibu dan Dinda yang sudah berada di ruangan keluarga.
"Apa adek udah selesai bantu ibu?" Fiqrie yang melirik ke arah Dinda.
"Udah, kenapa emangnya abang?" Dinda yang melihat ke arah Ucup.
"Udah malam sebaiknya kita pulang sekarang yuk!" Fiqrie mengajak Dinda pulang kerumah.
"Sebaiknya malam ini kalian menginap di sini," kata ayah.
"Aku setuju ama ayah abang, lagian ini udah malam sekarang musim lagi musim begal," kata Ucup.
"Dinda malam ini nginap di sini ya." Ibu melihat ke arah Dinda wajah ibu yang begitu memelas sehingga membuat Dinda merasa tidak tega ama Ibu.
"Abang malam ini kita nginap di sini ya." Dinda mencoba membujuk Fiqrie untuk menginap di rumah orang tua Fiqrie.
"Tapi kita mau tidur di mana?" tanya Fiqrie.
"Abang dan kakak bisa tidur di kamar aku," jawab Ucup.
"Kamu tidur dimana?" tanya Fiqrie.
"Aku tidur di kamar Zai." jawab Ucup.
"Baiklah kalau begitu malam ini kita nginap di sini dek," kata Fiqrie.
"Sebaiknya kalian berdua istirahat di kamar Ucup, ibu sudah mengantuk mau tidur dulu." Ibu yang berdiri dari atas tikar.
"Iya ibu, selamat malam kami istirahat dulu" Fiqrie memegang tangan Dinda lalu berjalan ke arah kamar Ucup.
"Selamat malam juga, ayah dan ibu juga mau tidur di kamar." Ayah dan ibu berjalan ke arah kamar.
Setelah mereka pergi Ucup berjalan sambil membawa nampan yang berisi tiga gelas bekas kopi. Ucup berjalan kearah dapur, sesampai di dapur dia meletakan nampan yang berisi gelas di atas westafel.
Ucup duduk di teras rumahnya, Ucup yang biasa setelah makan langsung merokok karena ada Fiqrie, dia tidak merokok tadi tetapi setelah mereka masuk kamar. Ucup memutuskan untuk duduk di teras rumah sambil menghisap sebatang rokok.
Setelah selesai menghisap 3 batang rokok, Ucup memasukkan kembali sebungkus rokok dan korek ke dalam kantong celananya. Ucup memasukkan satu persatu motor ke dalam rumah nya.
Setelah motor sudah berada si dalam rumah Ucup menguci pintu rumahnya. Di berjalan ke arah dapur, Ucup memeriksa pintu dapur yang sudah terkunci. Ucup berjalan meninggalkan dapur. Ucup berjalan melewati ruangan keluarga.
Ucup sudah berada di depan pintu kamar Zai.
Tok.....Tok.... Tok
__ADS_1
Ucup mengetuk pintu kamar Zai, tetapi tidak ada jawaban. Ucup memegang gang pintu kamar Zai.
...~ Bersambung ~...