
"Jangan pernah menilai seseorang dari katanya, tapi lihat dulu faktanya.Karena zaman sekarang, seseorang menghasut orang lain dan mengkambing hitamkan. Seseolah orang yang dia fitnah orang yang salah, hingga kamu ikut membencinya."
"Ya elah kamu itu banyak nanya, tinggal ambil aja kok repot sih," kata si perempuan tersebut.
"Ya aku gak bisa gitu aja nerima uang dari seorang perempuan yang tidak aku kenal," kata Ucup.
"Baiklah kalau gitu perkenalkan nama Syalwa, aku bisa di panggil Wawa." Salwa mengulurkan tangannya sambil memegan selembar uang kertas.
"Ooo.... jadi nama kamu Syal," kata Ucup.
"Jangan panggil aku Syal berasa kayak kain syal aku." Syalwa berbicara dengan wajah yang cemberut sambil memotong kan bibirnya kedepan.
"Aku panggil wakwau aja kalau gitu," kata Ucup.
"Gak mau aku di panggil wakwau, kamu itu benar-benar menyebalkan jadi cowok." Syalwa yang terlihat geram sambil mengepal tangannya karena Ucup memberikan nama panggilan wakwau kepadanya.
"Ahahah, perempuan itu emang ribet." Ucup yang berguman.
"Btw, nama kamu siapa?" Syalwa yang penasaran dengan nama Ucup, karena Ucup belum memberitahukan namanya kepada Syalwa.
"Nama aku Ucup." Ucup mengulurkan tangannya ke arah Syalwa.
"Hahaha, ternyata nama kamu Ucup." Syalwa menjabat tangan Ucup lalu dia menertawakan nama Ucup yang terlihat lucu baginya.
"Apa ada yang lucu?" Ucup berusaha melepaskan jabatan tangannya ama Syalwa.
"Ada, masak wajah setampan kamu di kasih nama Ucup harus Yusuf baru cocok." Syalwa melepaskan jabatan tangan ama Ucup sambil dia memberikan uang yang berada di tangan kepada Ucup.
"Bagaimana kamu tahu nama aku Yusuf?" Ucup yang terkejut saat mengetahui bahwa Syalwa mengetahui namanya Yusuf.
"Jadi yang benar itu nama kamu Ucup atau Yusuf?" Syalwa yang penasaran dengan nama Ucup.
"Nama lengkap aku itu Muhammad Yusuf tabiasa di panggil Ucup." Ucup menjelaskan nama lengkapnya kepada Syalwa, agar Syalwa tidak binggung lagi.
"Wah berarti tebakan aku benar dong nama kamu itu Yusuf." Wajah Syalwa terlihat bahagia karena dia benar menebak nama Ucup.
"Iya kamu benar, kenapa kamu bisa nebak dengan benar nama aku Yusuf?" Ucup yang penasaran dengan Syalwa bisa menebak dengan benar nama Ucup.
"Karena kamu itu tampan seperti nabi Yusuf maka aku bilang nama kamu lebih cocok Yusuf dari pada Ucup," kata Syalwa.
__ADS_1
"Apa benar aku ini tampan mirip nabi Yusuf?" tanya Ucup.
"Iya kamu tampan gak mungkin kan aku bilang kamu itu cantik seperti Siti Aisyah istri nabi," kata Syalwa.
"Hahaha, kamu bisa aja sih." Ucup yang tertawa sambil wajahnya merah merona, di bilang ganteng oleh Syalwa.
"Pipi kamu kenapa merah kayak tomat?" Syalwa yang melihat ke arah wajah Ucup telah berubah merah merona seperti tomat.
"Mana ada pipi aku merah kayak tomat." Ucup melihat ke arah kaca spion motornya, dia memperhatikan wajah yang telah berubah merah merona seperti Syalwa katakan.
"Hahaha, lah kamu malah ngaca ngelihatin wajah yang kayak tomat itu." Syalwa yang tertawa sambil mengejek Ucup, dia benar geli melihat wajah Ucup yang tampak merah merona seperti tomat.
"Aku pulang dulu ya, assalamu'alaikum." Setelah berpamitan Ucup memasukkan uang di kantong saku baju lalu dia mengendarai motornya.
"Hati-hati di jalan ya Yusuf, Walaikumsalam." Syalwa yang melihat Ucup telah mengendari motor melaju menjauh dari rumahnya, Syalwa melambaikan tangan ke arah Ucup.
Malam Harinya.........
Ucup lagi duduk di kursi sambil menghisap sebatang rokok. Sebuah motor sport berhenti di depan rumahnya sambil membunyikan klakson motornya.
Tiiinn............ Tiiinn
"Assalamu'alaikum." Gustaf turun dari motor Feri lalu dia berjalan ke arah rumah Ucup. Gustaf sudah berdiri di depan teras rumah Ucup.
"Walaikumsalam, eh ternyata kamu. Kamu kesini ama siapa?" Ucup yang melihat Gustaf sudah berdiri di hadapannya.
"Ya sama dia alah." Gustaf berjalan ke arah kursi yang ada di teras Ucup.
"Ooo..... ternyata ama Feri." Ucup melihat Feri yang sedang berjalan menghampiri dia.
"Assalamu'alaikum." Feri melepaskan sandalnya lalu berjalan di teras rumah Ucup.
"Walaikumsalam, kalian dari mana?" Ucup berjalan ke arah kursinya, Ucup duduk di kursi sambil menghisap rokoknya.
"Biasa kita dari nongkrong." Setelah mengatakan itu Feri duduk di kursi yang berada di teras rumah Ucup.
"Lah terus ngapain kalian kesini?" tanya Ucup.
"Aku merasa gak seru karena gak ada kamu," jawab Feri.
__ADS_1
"Makanya kita kesini," kata Gustaf.
"Heleh paling ini cuma akal-akalan kalian aja nih." Ucup yang tidak mempercayai perkataan Gustaf dan Feri.
"Ucup kita kangen ama kopi buatan kamu, buatin kopi dong." Gustaf yang mencoba merayu Ucup.
"Bukannya kalian dari nongkrong tadi, udah pasti minumkan kopi di cafe. Terus kenapa kalian masih minta di buatin kopi ama aku?" tanya Ucup.
"Kopi buatan Ucup lebih mantul," kata Gustaf.
"Ya mantul lah karena gratis kan," kata Ucup.
"Hahahaha, kamu tahu aja Ucup." Gustaf dan Feri tertawa sambil cengesan. Feri yang memegang tengkuk kepalanya.
"Kalau kalian mau kopi buat sendiri aja lah, aku lagi mager nih." Ucup menyuruh mereka untuk membuat kopi sendiri.
"Ya elah Ucup, masak kita di suruh buat kopi sendiri sih," kata Gustaf.
"Kitakan tamu, jadi kamu harus memuliakan tamu," kata Feri.
"Betul tuh yang pak ustad Feri Al Bukhori katakan." Gustaf membenarkan perkataan Feri, lalu dia menyebut Feri dengan sebutan pak Ustad. Gustaf juga sambil menyunggingkan senyum mengejek kepada Feri.
"Ayolah Ucup buatin kita kopi!" Feri yang sedang berusaha membujuk Ucup membuatkan kopi.
"Kalian buat aja sendiri." Ucup yang menyuruh mereka untuk membuat kopi sendiri.
"Udah kamu aja yang buat kopinya." Gustaf menyuruh Feri membuat kopi nya.
"Aku gak bisa buat kopi, kamu kan tahu biasa aku di buatin kopi ama bibik," kata Feri.
Ucup yang malas mendengarkan perdebatan antara Feri dan Gustaf akhirnya menyuruh mereka untuk melakukan Suit yang kalah akan membuatkan kopi. Feri dan Gustaf melakukan suit yang kalah Feri maka dia yang membuat kopi.
Feri membawa tiga gelas yang berisi kopi dengan nampan di tangannya. Feri meletakkan tiga gelas kopi yang ada di nampan tersebut di atas meja. Feri duduk di kursi lalu dia mengeluarkan sebungkus rokok yang berada di saku celananya. Feri menyalakan rokok lalu dia menghisap sebatang rokok.
Ucup mengambil segelas kopi yang berada di atas meja tersebut lalu dia meminum kopi tersebut. Saat Ucup meminum kopi tersebut dia rasanya berbeda.
Byur byur
Kopi yang Ucup minum akhirnya menyembur keluar dari mulut nya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...