Perjuangan Ucup

Perjuangan Ucup
Ucup Sakit


__ADS_3

"Tetap berbuat baik kepada orang-orang di sekelilingmu walaupun mereka menyakitimu, karena kamu adalah tokoh utama dalam kehidupan. Jadi berusahalah jadi terbaik dengan versi sendiri."


"Aku gak mau." Lea dengan spontan menolak ajakan Zai untuk berangkat sekolah bersama.


"Kok gitu sih, berarti kamu belum memaafkan aku sepenuhnya." Zai yang wajahnya terlihat kecewa saat Lea menolak ajakan untuk berangkat sekolah bersama.


"Aku udah maafin kamu kok, tapi bukan berarti kita harus berangkat ke sekolah bersama." Lea menjelaskan kepada Zai bahwa dia sudah memaafkan Zai tetapi itu bukan berarti mereka harus pergi kesekolah bersamaan.


"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu." Setelah mengatakan itu Zai berjalan meninggalkan rumah Lea dengan rasa kecewa.


Sebenarnya Lea merasa kasihan juga melihat Zai yang pergi meninggalkan dirinya dengan rasa kecewa. Setelah Lea sudah tidak lagi melihat Zai maka Lea pun berjalan masuk kedalam rumahnya. Lea berjalan ke dapur untuk menemui bibik yang sedang berada di dapur.


"Bibik Lea berangkat kesekolah dulu ya?" Lea yang sudah berada di dapur melihat bibik sedang mencuci piring di westafel.


"Iya non Lea." Bibik segera mencuci tangannya dengan air kran lalu dia mematikan air kran tersebut. Bibik berjalan ke arah yang sedang berdiri.


Setelah mengatakan itu Lea berjalan pergi meninggalkan dapur di ikuti oleh bibik yang berjalan di belakang Lea. Lea sudah berada di depan terasa rumah lalu dia berjalan ke arah halaman rumahnya karena motornya sudah di keluarkan dari bagasi oleh pak satpam.


Lea menaiki motornya lalu dia menyala motor nya setelah itu dia mengendarai motornya ke arah pintu pagar yang telah di buka oleh pak satpam. Setelah motor yang Lea kendarai melewati pintu pagar. Pak Satpam melambaikan tangan ke arah Lea sedangkan Lea tersebut di dalam helemnya sambil melihat ke arah kaca spion motor nya.


Lea mengendarai motor dengan kecepatan standar, Lea fokus ke arah depan lalu dia melihat seorang laki-laki yang sedang berjalan kaki. Lea yang mengenali sosok si laki-laki tersebut walaupun terlihat dari punggungnya saja. Lea melajukan motor untuk mendekat ke arah si laki-laki tersebut. Setelah motor yang Lea kendarai berada di samping si laki-laki tersebut.


"Kamu butuh tumpangan?" Lea membuka kaca helemnya lalu dia memberhentikan motornya.


"Emang boleh aku numpang ama kamu?"Si laki-laki tersebut berhenti berjalan lalu dia menoleh ke arah Lea.

__ADS_1


"Boleh." Lea mengizinkan si laki-laki tersebut untuk menumpang kepadanya, si laki-laki tersebut ialah Zai.


"Ya udah sini biar aku bawa motornya, kamu geser kebelakang." Zai memegang stang motor Lea, lalu dia menyuruh Lea untuk mengeser kan badannya ke arah belakang.


"Baiklah." Lea melepaskan tangannya dari stang motor karena sudah di pegang oleh Zai, Lea juga menggeser badannya ke arah belakang.


Zai naik ke atas motor Lea setelah itu dia mulai mengendarai motor milik Lea.


Siang Harinya...........


Walaupun suhu panas di tubuh Ucup telah turun tetapi Ucup belum benar-benar sembuh, tetapi Ucup tetap memaksakan diri untuk pergi ke kampus karena ada mata kuliah hari ini. Ucup. sekarang sedang duduk di kursi memakai jaketnya.


Feri dan Gustaf yang baru saja sampai di kelas melihat Ucup yang terlihat pucat dengan memakai jaket. Mereka berdua menghampiri Ucup yang sedang duduk di kursi dalam kelas.


"Aku baik-baik saja." Ucup yang mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


"Aku gak percaya." Feri yang sudah berada di sisi. sebelah kiri Ucup merasa tidak percaya akhirnya dia menempelkan tangannya di kening Ucup.


"Sama aku gak percaya kalau dia baik-baik saja." Gustaf yang tidak percaya bahwa Ucup baik-baik saja.


"Baik-baik apanya, kening kamu hangat gini." Feri yang merasa kening Ucup hangat.


"Masak sih kening dia hangat?" tanya Gustaf.


"Kalau kamu gak percaya cek aja sendiri." Feri menarik tangannya dari kening Ucup lalu dia menyuruh Gustaf untuk memeriksa kening Ucup.

__ADS_1


"Iya kamu benar kening Ucup hangat." Gustaf meletakkan telapak tangannya di kening Ucup.


"Nah benarkan yang aku omongin," kata Feri.


"Ucup sebaiknya kamu ke UKS aja." Gustaf yang mengkhawatirkan Ucup lalu dia menasehati Ucup pergi ke UKS.


"Aku mau di sini aja." Ucup yang tidak mau pergi ke UKS.


Feri dan Gustaf duduk di bangku yang berada di sampaing kanan dan kiri, Ucup duduk di tengah-tengah. Tidak lama kemudian seorang ibuk dosen masuk ke dalam kelas tersebut. Ibuk guru yang sudah berada di dalam kelas tersebut duduk di kursinya.Ibuk dosen memulai mengajari mata kuliahnya. Ibuk dosen menulis di papan tulis mengunakan spidol di papan tulis.


Saat ibuk dosen menjelaskan materi mata kuliah di depan papan tulis, Ucup merasa matanya begitu berat untuk melihat ke arah ibuk dosen tersebut. Ucup merasa mata begitu berat untuk tetap terbuka di meraskan kantuk yang luar biasa. Ucup belum pernah merasakan hal tersebut baru ini di merasa matanya begitu berat untuk tetap melek melihat ke arah ibuk dosen tersebut.


Ibuk dosen yang sedang menerangi mata kuliahnya. Mata Ucup akhirnya tertutup karena dia sudah tidak bisa menahan matanya agar tetap terjaga. Feri dan Gustaf yang fokus melihat ke arah ibuk dosen yang sedang menjelaskan mata kuliah. Saat ibu dosen sedang menjelaskan mata kuliah dia mulai berjalan ke arah bangku mahasiswa.


Ibuk dosen berjalan ke arah barisan bangku yang di dudukki oleh Ucup, Gustaf dan Feri. Mereka berdua melihat ke arah Ucup yang sedang tertidur. Mereka berdua berusaha membangunkan Ucup dengan cara menyengol lengan Ucup tetapi Ucup tidak juga bangun. Akhirnya Gustaf mencubit lengan Ucup agar Ucup terbangun dari tidurnya.


Ucup yang merasakan perih saat lengannya di cubit oleh Gustaf sehingga Ucup akhirnya membuka dia matanya. Saat yang bersamaan dengan itu ibuk dosen sudah berdiri di hadapan Ucup sambil menerapkan materi perlajaran.


Ucup melihat ke arah ibuk dosen tersebut, ibuk dosen tersebut juga melihat ke arah Ucup. Setelah itu ibu dosen membalikkan badan lalu ibuk dosen berjalan ke arah depan papan tulis. Ibu dosen sudah berdiri di depan papan tulis lalu dia memberikan tugas kepada mahasiswa untuk mengerjakan.


Ucup merasakan kepala pusing tidak bisa mengerjakan tugas tersebut. Feri dan Gustaf melihat Ucup yang sama sekalian belum membuat tugasnya. Mereka yang kasihan melihat Ucup belum membuat tugas dari ibuk dosen sehingga akhirnya mereka secara bergantian untuk mengerjakan tugas Ucup.


Ucup yang terus saja memegang kepalanya sambil memijat kening di kepalanya. Ucup merasakan pusing di kepala walaupun kepalanya sudah di pijet.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2