
"Perempuan cerdas
Tahu kekuatan dan kekurangan sendiri, yang terpenting paham apa yang hendak di kejar dan direalisasikan.
Perempuan bekelas
Perempuan yang tahu menghargai dirinya yang tidak suka menilai apalagi menghakimi orang lain dengan gosip dan fitnah."
Dua minggu kemudian.......
Selama dua minggu ini Ucup sudah tidak membuat kerpik singkong lagi karena keripik singkong buatan Ucup masih banyak stok di kantin kampus begitu juga di tempat lain. Ucup melihat selama dua minggu ini penurunan penjualan keripik singkong buatan Ucup.
Penurunan penjualan keripik singkong tersebut di sebabkan oleh pembeli yang udah merasa bosan dengan rasa keripik singkong buatan Ucup. Keripik singkong buatan Ucup masih mengunakan viarian rasa original. Sehingga pembelipun sudah mulai merasa bosan dengan rasa original.
Pembeli menginginkan keripik singkong buatan Ucup memiliki variasi yang berbeda. Sehingga mereka memiliki pilihan rasa saat ingin membeli keripik singkong buatan Ucup.
Ucup yang sedang duduk di bawah pohon mangga. Ucup sedang menghisap sebatang rokok sambil memikirkan solusi agar penjualan keripik singkong bisa naik lagi seperti saat pertama kali membuka usaha keripik singkong tersebut.
Ucup sama sekali belum memiliki ide di dalam kepala nya. Ucup berpikir apaperlu dia mencoba untuk terjun langsung kelapangan mencari tahu yang di inginkan oleh konsumen. Agar Ucup bisa membuat keripik singkong buatannya menjadi laris manis.
Ceklek...... Ceklek
Pintu rumah terbuka Zai berjalan melewati pintu rumah.
"Abang Ucup." Zai yang sudah berada di teras rumah memanggil Ucup.
"Ada apa Zai?" Ucup yang mendengar nama di panggil oleh Zai langsung menoleh ke arah suara tersebut.
"Ayo makan abang! udah di tungguin ama ayah dan ibu. " Zai yang melihat ke arah pohon mangga yang berada di samping rumah Zai.
"Iya, kalian duluan aja entar aku nyusul," kata Ucup.
"Lah, kok abang nyusul mendingan kita bareng aja," kata Zai.
"Abang mau ngabisin rokok dulu setelah itu baru kesana," kata Ucup
"Ya udah kalau gitu aku tungguin abang." Zai tidak mau pergi ke dapur dia memilih untuk menunggu Ucup selesai menghabiskan sebatang rokok.
"Kamu masuk aja dukuan, abang pasti nyusul setelah rokok ini habis." Ucup masih menghisap rokok yang sudah tinggal setengah batangan.
"Ya udah kalau gitu aku masuk duluan abang." Setelah mengatakan itu Zai berjalan ke arah pintu rumahnya.
Ayah, ibu dan Zai sedang duduk di kursi yang berada di dapur mereka sedang menunggu Ucup yang belum juga datang.
"Kenapa kalian belum makan?" Ucup yang baru saja sampai di dapur melihat mereka yang sedang duduk di kursi tetapi belum juga makan.
"Nungguin kamu," jawab ayah.
__ADS_1
"Abang cepatan duduk sini aku udah lapar." Zai menepuk kursi yang berada di samping nya.
"Iya." Ucup berjalan ke arah kursi yang berada di samping Zai, dia mendudukkan pantatnya di kursi tersebut.
Setelah membaca doa sebelum makan, mereka memulai memakan nasi, lauk-pauk dan sayuran yang sudah berada di piring mereka masing-masing. Zai yang dari tadi sudah lapar sehingga saat makan dia terlihat begitu lahap sekali makannya. Berbeda dengan Ucup yang hari ini hanya mengambil sedikit nasi, lauk-pauk dan sayuran ke dalam piringnya.
Ucup terlihat lesu dan tidak bersemangat menghabiskan makanan yang berada di dalam piringnya. Ibu yang dari tadi terus memperhatikan Ucup lalu ibu menyelesaikan makannya.
"Apa masakan ibu tidak enak Ucup?"Ibu yang melihat ke arah Ucup.
"Masakan ibu enak." Ucup melihat ke arah ibu, sehingga mereka saling menatap satu sama lain.
"Terus kenapa kamu seperti tidak nafsu memakannya?" tanya ibu.
"Aku lagi tidak berselera makan," jawab Ucup.
"Apa kamu sakit?" Ayah yang sudah selesai makan lalu dia ikut berbicara kepada Ucup.
"Tidak ayah." Ucup menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu kamu kenapa Ucup?" Ibu yang penasaran karena Ucup tidak seperti biasanya.
"Aku baik-baik saja ibu ayah," jawab Ucup.
"Bohong," kata ibu.
"Aku tidak ada masalah ayah ibu." Ucup berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana?" tanya ibu.
"Aku mau keteras," jawab Ucup.
"Itu makanan kamu belum habis masih banyak di piring," kata ibu.
"Ucup mubazir makanan yang ada di piring, tidak kamu habiskan,' kata ayah.
"Tapi aku sudah kenyang ayah," kata Ucup.
"Ucup kasihan nasinya menangis karena tidak kamu makan," kata ibu.
"Baiklah aku makan." Ucup kembali lagi duduk di kursi tersebut.
"Nah begitukan bagus." Ayah melihat ke arah Ucup yang kembali lagi duduk di atas kursi, Ucup juga memulai memakan makanan nya yang masih bersisa di atas piring.
"Alhamdulillah kenyang juga." Zai yang bersendawa lalu dia mengucapkan alhamdulillah karena dia sudah merasakan kenyang memakan makanan yang berada di atas piring nya.
"Aku juga sudah selesai makan ayah ibu." Ucup sudah memakan semua makan yang berada di atas piring tanpa ada sisa.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau kita sudah selesai makan," kata ayah.
"Kalau begitu aku mau keteras dulu ayah, ibu dan Zai." Ucup berdiri dari kursi lalu dia berjalan meninggalkan dapur.
"Ucup tunggu dulu," kata ayah.
"Ada apa ayah?" Ucup berhenti berjalan lalu dia menoleh ke arah ayah
"Ayah tahu kalau kamu lagi ada masalah, apa kamu tidak ingin bercerita kepada ayah tentang masalah kamu?" tanya ayah.
"Aku tidak punya masalah ayah." Setelah mengatakan itu Ucup membalikkan badan lalu dia menlanjutkan berjalan meninggalkan dapur.
Ayah, ibu dan Zai melihat punggung Ucup yang sudah berjalan meninggal dapur.
"Apa adek tahu penyebab abang Ucup bersikap seperti itu?" tanya ibu.
"Gak ibu." Zai mengangkat bahunya.
"Kalau begitu coba adek cari tahu kenapa abang Ucup bersikap kayak gitu," kata ayah.
"Baiklah ayah entar aku cari tahu," kata Zai.
"Sekarang saja adek cari tahunya." Ibu menyuruh Zai untuk mencari tahu tentang perubahan sikap Ucup.
"Aduh ibu perut aku masih kenyang nih jadi mager." Zai yang memegangi perutnya.
Ucup dan Zai sudah berada di bawah pohon mangga yang berada di samping rumah. Mereka berdua sedang duduk di atas bangku yang berada di bawah pohon mangga tersebut. Ucup yang sedang menghisap sebatang rokoknya. Zai melihat ke arah Ucup yang sedang menghisap rokok.
"Abang kenapa?" tanya Zai.
"Abang baik-baik aja Zai." Ucup yang memandang lurus kedepan tanpa menoleh ke arah Zai.
"Nah gini yang paling aku gak suka itu, selalu mengatakan bahwa aku baik-baik saja padahal pasti abang sedang tidak baik-baik saja," kata Zai.
"Sok tahu kamu." Ucup berbicara dengan nada ketus.
"Aku bukan sok tahu abang, tapi aku bisa melihat dari sikap abang hari ini itu kelihatan berbeda dari hari biasanya," kata Zai.
"Itu hanya perasaan kamu saja Zai," kata Ucup.
"Itu bukan cuma perasaan aku saja abang, tapi ayah dan ibu juga merasakan hal yang sama terhadap abang," kata Zai.
...~ Bersambung ~...
Hai Guys mampir ke karya Ry yang baru berjudul
Ry
__ADS_1