Perjuangan Ucup

Perjuangan Ucup
Kayak Patung


__ADS_3

"Jika diammu bijak, maka diamlah.Apabila diammu diinjak, maka bicara lah supaya tidak ada lagi orang yang menginjak dan meremehkan dirimu."


Ridho yang belum sempat menjawab pertanyaan dari ketua kelas tiba-tiba saja perutnya mengeluarkan bunyi.


Kruuuuukk............ Kruuuuukk


"Itu suara apa?" tanya Ketua kelas.


"Suara cacing yang ada didalam perut aku yang udah demo minta di kasih makan." Ridho berbicara dengan suara pelan agar teman-teman sekelasnya tidak mendengarkan yang dia katakan kepada Ketua kelas.


"Apa kamu cacingan?" tanya Ketua kelas.


"Aku tidak cacingan Ketua kelas." Ridho yang tidak habis pikir dengan pertanyaan dari Ketua kelas


"Terus kenapa cacing dalam perut kamu berbunyi?" tanya Ketua kelas.


"Itu tanda dari tadi pagi aku belum sarapan Ketua makanya cacing bada demo minta makan." Ridho menjelaskan kepada Ketua kelas soalnya cacing di dalam perutnya berbunyi.


"Jadi kamu lapar?" tanya Ketua kelas.


"Aku lapar ketua," jawab Ridho.


"Hahahaha."Anton yang dari tadi mendengarkan percakapan Ketua kelas dan Ridho akhirnya tertawa.


"Kalau lapar ya tinggal makan begitu aja kok repot. Anton apa ada yang lucu?" Setelah berbicara kepada Ridho lalu Ketua kelas melirik ke arah Anton yang tertawa.


"Ada." Anton yang masih saja tertawa terbahak-bahak.


"Ketua kalau gitu aku izin ke kantin nih, bolehkan?" tanya Ridho.


Ketua kelas yang masih terdiam sambil berpikir, dia masih bingung mau memberikan izin atau tidak kepada Ridho untuk pergi ke kantin.


"Udah Ketua kasih aja izin buat Ridho ke kantin dari pada entar dia sakit." Anton berhenti tertawa melihat ke arah Ridho, Anton yang merasa tidak tega dengan Ridho lalu dia berusaha untuk membujuk Ketua kelas.


"Iya Ketua dari pada sakit maagku kambuh nantik." Ridho yang wajahnya dibuat memelas agar Ketua kelas merasa kasihan kepada nya.


"Ya udah kamu boleh ke kantin tapi selesai makan kamu harus kembali lagi kelas." Ketua kelas memberikan izin kepada Ridho untuk pergi ke kantin.


"Makasih Ketua yang ganteng dan baik hati aku ke kantin dulu." Ridho berdiri dari tempat duduknya lalu dia berjalan ke arah pintu.

__ADS_1


Ketua kelas berjalan ke arah tempat duduknya yang berada di barisan paling depan.


"Teman-teman kalau jamkos gini enaknya, kita ngapain?" tanya Anton.


"Mabar," jawab beberapa siswa di kelas tersebut secara serentak.


"Kita mau mabar apa ML atau Ff?" tanya Anton.


"ML, gimana?" tanya beberapa siswa yang berada di kelas tersebut.


"Okey, Guskuy." Anton yang tampak merasa bahagia.


Beberapa siswa di kelas sedang sibuk mabar ML dengan Anton. Sedangkan Siswi yang berada di kelas tersebut mereka mulai berkumpul. Mereka duduk dengan posisi seperti sedang belajar kelompok. Dari mereka ada yang sedang sibuk memperbaiki jilbabnya, ada yang lagi curhat tentang pacarnya dan ada juga yang lagi sibuk berselfi.


Berbeda dengan Zai yang sedang duduk sambil melihat ke arah jendela kelasnya. Aska yang dari tadi memperhatikan Zai yang menoleh ke arah jendela kelasnya.


"Kamu sedang lihat apa?" tanya Aska.


Hanya pandangan Zai yang melihat ke arah jendela kelas tetapi pikiran dan fokus Zai sudah berada di tempat yang lain.Sehingga Zai tidak menyadar bahwa Aska dari tadi memperhatikan dia. Aska juga sedang mengajak dia berbicara, tetapi Zai tidak menyadarinya karena dia sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Kamu ini kenapa sih? aku ajak bicara dari tadi kok diam saja," tanya Aska.


Zai masih sibuk dengan pikir yang ada di dalam kepalanya belum menyadari bahwa Aska dari tadi mengajak dia bicara.


"Woi Zai aku dari tadi ngomong ama kamu." Aska yang kesal dari tadi dia berbicara tetapi tidak di tanggapi oleh Zai, sehingga dia menepuk bahu Zai.


"Aduh, kamu apa-apaan sih menepuk bahu aku."Zai meringis kesakitan setelah bahunya di tepuk oleh Aska.


" Habis aku dari tadi ngomong ama kamu tapi kamunya diam aja aku merasa kayak ngomong ama patung.Makanya aku tepuk bahu kamu," kata Aska.


"Emangnya tadi kamu ngomong apa ama aku?"Zai memegang bahunya yang habis bekas tepukan Aska.


"Apa kamu lagi ada masalah?" tanya Aska.


"Tidak ada," Zai menggelengkan kepalanya.


"Yakin kamu tidak masalah Zai?" Aska bertanya sekali lagi kepada Zai karena dia masih merasa ragu dengan perkataan Zai. Aska melihat dari wajah Zai seperti orang yang lagi memiliki masalah.


"Ya yakin lah, karena emang aku gak punya masalah." Zai menatap Aska dengan jengah.

__ADS_1


"Kalau kamu punya masalah terus gak ada teman yang bisa dipercaya mendengar curhatan kamu maka kamu bisa curhat ama aku. InsyaAllah aku orangnya amanah mendengar kan curhatan kamu,"kata Aska.


"Aku gak butuh." Zai yang menolak dengan tegas, dia merasa tidak membutuhkan seorang teman untuk mendengarkan curhatannya.


"Ya sudah kalau saat ini kamu tidak butuh seorang untuk mendengarkan curhatan kamu. Mungkin suatu saat natik kamu akan membutuhkan nya." Aska yang melihat penolakan Zai hanya bisa menarik nafas lalu dia berbicara dengan santai.


"Aku tetap tidak akan membutuhkan nya."Zai masih tetap dengan pendiriannya bahwa dia tidak akan membutuhkan seorang untuk mendengarkan curhatanya.


" Ya udah deh terserah kamu aja." Aska mengelengkan kepalanya melihat sifat Zai yang tetap kekeh dengan pendirian nya.


"Kenapa sih waktunya berjalan lambat kalau jamkos?" Zai yang sengaja mengalihkan topik pembahasan.


"Itu cuma perasaan kamu aja, apa kamu merasa bosan?" tanya Aska.


"Iya aku merasa bosan dan sumpek di dalam kelas. Aku mau keluar cari angin lah." Zai yang berdiri dari kursinya.


"Kamu mau keluar kemana?" tanya Aska.


"Ke taman." Zai yang berjalan pergi meninggalkan Aska.


"Tunggu dulu." Aska berdiri dari kursinya lalu dia berjalan menghampiri Zai.


"Ada apa?" Zai berhenti berjalan lalu dia menoleh kebelakang.


"Apa aku boleh ikut?" Aska yang sudah berdiri di hadapan Zai.


"Terserah kamu." Zai membalikkan badan lalu dia berjalan ke arah pintu kelas.


"Baiklah kalau begitu aku ikut kamu." Aska yang merangkul bahu Zai.


"Kalian berdua mau kemana?" tanya Ketua kelas.


"Kita mau ketaman." Aska berbicara sambil melambaikan tangannya ke arah Ketua kelas.


"Tapi aku tidak mengizinkan kalian untuk pergi," kata Ketua kelas.


"Percuma aja Ketua ngomong mereka juga udah pergi." Anto yang menoleh ke arah pintu kelas, dia melihat Aska dan Zai sudah keluar dari kelas.


"Mereka benar tidak menghargai aku sebagai ketua kelas." Ketua kelas ya wajah berubah menjadi kelas melihat Aska dan Zai yang tidak menghiraukan dia.

__ADS_1


"Emang kamu minta di hargai berapa?" Anto yang berbicara tanpa menoleh ke arah Ketua Kelas.


...~Bersambung ~...


__ADS_2