
"Yang harus di perbaiki itu dirimu, bukan malah menuntut orang lain terus menerus paham terhadap kamu. Bukankah lebih mudah merubah orang lain dari pada diri sendiri."
Akhirnya pertandingan Futsal berakhir 3-1, tim lawan 3 sedangkan tim Feri 1. Pertandingan Futsal di menangkan oleh tim lawan. Maka tim yang kalah harus membayar tempat penyewaan area futsal. Tim Feri yang sedang terduduk lemes di atas area futsal.
Mereka semua menghelahkan nafas sambil merenungi nasib.
"Nih minum dulu abang bos." Aska memberikan sebotol air mineral berukuran besar kepada Ucup.
"Glug glug." Ucup meminum air mineral yang berada di dalam botol tersebut.
"Bagi Ucup." Gustaf mengulurkan kepada Ucup meminta botol yang berisi air mineral tersebut.
"Nih." Ucup memberikan botol tersebut kepada Gustaf.
"Glug glug." Botol tersebut sudah berada di tangan Gustaf lalu dia meminum air yang berada di dalam botol tersebut.
"Gus, jangan habiskan aku juga haus." Feri yang meminta botol tersebut kepada Gustaf.
"Iya, ini buat kamu." Setelah Gustaf selesai minum lalu dia menyerahkan botol tersebut kepada Feri.
Setelah mereka sudah selesai minum hingga air di botol tersebut habis di minum oleh mereka berlima. Tim lawan berpamitan kepada mereka lalu tim lawan menyuruh mereka membayar sewa arena Futsal.
"Aku gak ada uang, siapa yang mau bayar nih?"Gustaf yang tidak memiliki uang, dia bertanya.
"Tadi yang ngajak main Futsal siapa?" tanya Feri.
"Aku sih," jawab Gustaf.
"Berarti kamu yang harus bayar," kata Feri.
"Tapikan aku udah bilang gak ada uang, gimana sih kamu?" tanya Gustaf.
"Kalau gak ada uang kamu gak usah sok-sokan ngajak kita main futsal. Aku mau gak bayar pokoknya." Feri berdiri dari tempat duduk lalu dia pergi meninggalkan area futsal tersebut.
"Terus, gimana nih Ucup?" Gustaf menatap ke arah Ucup.
"Apa kita iuran aja buat bayar sewa arena Futsal ini?" Aska memberikan ide untuk iuran membayar sewa area futsal.
"Tapi aku gak ada uang nih," jawab Anton.
"Sudah-sudah gak perlu iuran biar aku aja yang bayar uang sewa area futsal ini." Ucup berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan ke arah tempat pembayaran sewa area futsal.
Gustaf, Anton, Ridho, Aska dan Zaza sudah berada di parkiran motor mereka sedang menunggu Ucup yang belum keluar dari tempat futsal.
"Kok abang bos belum nongol sih?" tanya Anton.
__ADS_1
"Ini semua sih gara-gara kamu, makanya kita kalah." Ridho menyalahkan Anton, karena tim futsal kalah.
"Kok kamu nyalahin aku sih." Anton yang tidak terima Ridho menyalahkan dia.
"Kalau becul jadi kippernya gak mungkin tim lawan bisa membobol gawang kita sampai ke tiga kali. Ridho yang sudah berdiri di hadapan Anton, dia mentap tajam ke arah Anton.
" Sudah-sudah kalian gak usah ribut, kalah menang dalam permainan itu biasa." Gustaf memisahkan Ridho dan Anton agar mereka berdua tidak berantem.
"Betul tuh yang di bilang abang Gus." Aska menarik Ridho agar menjauh dari Anton, Aska tidak mau Ridho dan Anton berantem gara-gara mereka kalah dalam permainan futsal.
"Lagian ini cuma permainan." Anton yang berbicara tanpa beban.
"Kamu enak ngomong kayak gitu, soalnya gak kamu yang bayar. Sementara yang bayar itu abng Ucup." Zai yang terlihat kesal mendengar perkataan Anton sehingga dia akhirnya angkat bicara.
"Kalian kenapa?" Ucup sudah berada di hadapan mereka.
"Biasalah abang bos mereka lagi bercanda, kayak abang bos gak tahu aja merekakan emang begitu." Aska yang sengaja berbohong dia tidak ingin menambah permasalahan.
"Ooo... begitu, kalian setelah ini mau kemana?" Ucup yang mempercayai perkataan Aska, karena Aska orangnya jujur.
"Pulang abang bos," jawab Aska, Ridho dan Anton.
"Sama aku juga mau pulang, tapi bingung ama siapa?" Gustaf yang terlihat bingung karena dia tadi datang ke tempat futsal bersama Feri, Feri malah meninggal dia pulang sendirian.
Sebulan Kemudian............
Mereka sedang berkumpul di teras rumah Ucup. Sambil memikirkan keripik singkong yang di kemas masih banyak belum terjual.
"Bagaimana nih abang?" Zai yang merasa khawatir karena keripik singkong buatan mereka masih banyak.
"Untuk sementara kita tidak usaha membuat keripik singkong lagi," jawab Ucup.
"Lalu apa yang kita lakukan abang bos?" tanya Anton.
"Kita harus menjual keripik singkong yang sudah di kemas sampai habis," jawab Ucup.
"Kita mau jual kemana abang bos?" tanya Anton.
"Kemana aja yang penting keripik singkong tersebut harus kita jual." Ucup berbicara dengan nada tegas kepada Zai dan teman-temannya.
"Baiklah, setelah keripik singkong ini terjual habis. Apa yang akan kita lakukan abang bos?" tanya Aska.
"Kalian bisa cari perkerjaan sampingan yang lain," jawab Ucup.
"Apa abang bos tidak akan membuat keripik singkong lagi?" Aska yang penasaran.
__ADS_1
"Seperti tidak, abang mau membantu orang tua. di kebun." Ucup sudah memutuskan untuk membantu orang tua di kebun singkong.
"Kenapa begitu abang bos ?" tanya Anton.
"Modal abang udah habis, makanya abang suruh kalian untuk jual itu keripik singkong sampai habis. Setelah uangnya terkumpul itu bisa buat gaji kalian yang terakhir kali." Ucup berbicara dengan wajah yang lesu dan sedih.
"Jadi begitu abang bos." Aska akhirnya mengerti, dia akan kerja sampingan sebagai fotografer dan mencetak undangan.
"Aku mengerti abang bos," kata Ridho.
"Hiks hiks hiks, aku sedih." Anton menangis mendengar perkataan Ucup.
"Sudah-sudah, kamu kenapa nagis?" Ucup yang melihat Anton menangis lalu dia memeluk badan Anton sambil mengelus punggung Anton.
"Hiks hiks hiks." Zai, Aska dan Ridho juga menagis lalu mereka memeluk badan Ucup.
"Kalian kenapa pada nagis?" Ucup yang berusaha untuk tidak menangis di hadapan Zai dan teman-temannya.
"Kami sedih abang," jawab mereka.
"Sudah-sudah kalian jangan kayak bocil deh, coba kalian cerita ke abang kenapa sedih?" Ucup melepaskan pelukannya kepada Anton, begitu juga Zai dan teman-temannya melepaskan. pelukan mereka ama Ucup.
"Aku gak kerja samping lagi abang." Aska yang menghapus air matanya.
"Aku gak bisa dapat uang lagi abang." Ridho yang mengelap air matanya mengunakan lengan bajunya.
"Aku bakal jarang ngumpul ama mereka abang." Zai menghapus air matanya dengan telapak tangannya.
"Abang yakin Aska bisa dapat tempat kerja sampingan selain di sini, jadi tidak usah sedih lagi ya." Ucup memeluk badan Aska, sebenarnya dia juga sedih tidak bisa lagi memberi perkerjaan sampingan kepada Aska.
"Aamiin, terima makasih abang udah baik sama aku." Aska melepaskan pelukan dari Ucup.
"Kasih kembali Aska, Ridho kan masih ada orang tua pasti akan dapat uang jajan dari orang tua." Ucup memeluk badan Ridho.
"Iya, tapi biasa double uang jajan Ridho." Ridho membalas pelukan Ucup.
"Udah-udah gantian, aku juga mau di peluk ama abang aku." Zai yang berusaha melepaskan pelukan Ridho dan Ucup.
"Sini abang peluk adek aku sayang." Ucup melepaskan pelukan dari Ridho lalu dia memeluk Zai.
"Abang." Zai yang membalas pelukan Ucup.
"Apa acara pelukan udah selesai?" tanya Anton.
"Belum, kamu sedih itu gara apa Anton?" tanya Ridho.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...