Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 100, Kami Siap Untuk Perang!


__ADS_3

Saat malam hari, hari dimana peperangan tiba.. aku sedang bersiap memasang strategi untuk perang itu dan sekalian memberitahu kepada orang yang aku pilih untuk menjadi pemimpin kelompok yang aku pilih untuk mereka. Orang-orang itu diantaranya, Shiro, Artoria, Tohka, Keiko, dan Sanae.


"Oke jadi begini strateginya. Kita akan berpencar ke masing-masing titik yang berbeda. Kelompok Artoria berada di paling ujung untuk menyerang sisi timur. Sedangkan Tohka, kamu pimpin timmu untuk menyerang bagian barat. Shiro dan Sanae berada di tim yang sama jadi kalian menyerang di sisi barat daya. Aku dan kelompokku akan menyerang di sisi Tenggara. Semuanya akan berkumpul di titik terakhir yaitu Markas Api, markas musuh. Apakah ada pertanyaan?".


Sanae mengangkat tangannya ke udara. Aku melihat ke arahnya dan dia langsung berdiri dan bertanya.


"Nakano, apakah hanya sesederhana ini strateginya?",


"Jika aku memiliki informasi apakah Iblis Api itu memiliki akal atau tidak, aku takkan memakai Strategi ini. Tetapi kita masih belum memiliki informasinya. Kita tak tahu dimana Iblis Api ini berada. Jika dia tak memiliki akar, dia mungkin akan berada dalam kerumunan Manusia Api tetapi dia tak ada disana. Karena itu aku meminta kalian untuk bersiap siaga untuk serangan kejutan.".


Mereka menjawab dengan menganggukkan kepala mereka.


"Keiko. Aku serahkan istana ini dan Sumiko kepadamu. Ada 130 ribu nyawa orang tak bersalah disini. Jaga mereka, aku berharap besar kepadamu.",


"Baik." jawab Keiko.


Aku tak tahu apakah Iblis Api ini memiliki akal atau tidak. Jika tidak aku akan sangat bersyukur tetapi jika tidak... aku harus bersiap dengan serangan kejutan. Aku mempertaruhkan 130 ribu nyawa orang. Jika aku gagal, aku tak ada bedanya dengan Wynox.


"Baiklah kalau begitu, semuanya bubar dan segera bersiap!" kataku dengan tegas,


"Baik!" jawab mereka serentak lalu pergi keluar tenda menyisakan Keiko sendiri saja.


Aku sedang berpikir tentang Iblis Api, kira-kira serangan apa yang akan dia lancarkan sampai mengabaikan Keiko.


"Kamu terlihat serius ya, Nakano." kata Keiko secara tiba-tiba,


"Memangnya kenapa?",


"Tidak ada. Hanya saja, bukan seperti Nakano yang kukenal. Nakano yang kukenal adalah orang yang berkepala dingin dan tenang, walaupun begitu menganggap semuanya serius itu bukanlah sifat baiknya. Sedangkan Nakano yang ada di depanku sekarang, orang yang serius pada satu hal lalu mengabaikan hal lainnya.",


".... Apa maksudmu?",


"Entahlah, apa yang aku bicarakan tadi?".


Aku mengangkat alisku terheran-heran. Keiko yang melihatku menghempaskan nafas lalu pergi keluar. Apa maksudnya tadi? Apakah aku melakukan kesalahan? Tidak... tunggu, aku terlalu menganggap serius hal ini sampai mengabaikan semuanya, benar juga! Biasanya aku akan tetap tenang walaupun aku berada dalam situasi semacam ini tetapi aku terlalu menghayati. Apakah ini sifat ayahku dulu?


Aku memegang headset ayahku yang aku kenakan sampai sekarang.


Ayah... apakah fokus pada satu hal lalu melupakan hal lain adalah sifat mu atau itu kebiasaan buruk ku?


Aku menarik nafas dan menghempaskan nya, menenangkan pikiranku. Baiklah! Ini waktunya tetap tenang dalam segala situasi dan jangan sampai tertelan kegelapan lagi. Aku harus tetap maju walaupun jalan yang aku lewati akan semakin sulit! Terimakasih telah mengingatkanku, Keiko.


Aku berdiri dari kursi yang aku duduki dan berjalan keluar dari tenda.

__ADS_1


Saat aku keluar dari tenda, sudah ada Sumiko di depanku yang memasang wajah serius. Aku memiringkan kepalaku dan mengangkat alisku sedikit.


"Nakano! Ajak aku ke pertempuran juga!",


"Sudah kubilang berkali-kali. Tidak ya tidak.",


"Ajak aku!",


"Tidak!",


"Ajak!",


"Tidak!",


"AJAK!",


"TIDAK!".


Kami menatap ke satu sama lain dengan tatapan tajam dan menggerakkan gigi.


"Kenapa sih?!" tanya Sumiko,


"Kamu adalah orang yang mereka incar kamu tak boleh kemanapun karena urusanku denganmu masih belum selesai. Tak hanya itu, paman dan bibi pasti akan sedih jika mereka tahu kalau anaknya meninggal di medan pertempuran dan aku tak mau itu!",


"Hoh...? Kalau begitu tunjukkan.",


"B-bagaimana caranya?".


Aku melihat ke arah sebuah tanda target yang ada di pohon yang cukup jauh dan ditambah banyak yang menghalangi, seperti pohon yang ada disekitarnya. Tentu saja Sumiko tak tahu apa yang aku lihat karena penglihatannya kurang jeli.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Sumiko,


"Apakah kamu melihat sebuah tanda target dibalik pohon-pohon itu?",


"Aku tak melihatnya tetapi aku ingat disana ada tanda target. Itu adalah tempat latihan para pemanah kerajaan baru-baru ini.",


"Kalau begitu, apakah kamu bisa mengenainya?",


"Hah?! Itu mustahil bukan?!".


Aku mengangkat alisku menelaah apa yang Sumiko maksud. Aku mengambil sebuah kerikil kecil yang ada di dekatku dan melemparkannya. Kerikil itu melaju cepat memasuki pepohonan disana. Itu melewati pohon-pohon tanpa ada yang kena sedikitpun. Kerikil itu melaju dan sampai menabrak tepat dimana aku ingin itu kena. Kerikil itu menyangkut di tanda target itu dan tak lepas.


"Kau lihat itu? Aku mengenai targetnya. Sekarang, apakah kamu bisa mengenai targetnya?",

__ADS_1


"Eh?!",


"Jika kamu bisa mengenai targetnya maka aku akan mengizinkanmu untuk ikut dalam peperangan ini. Jika tidak, ini hanya membuang waktuku. Pilihlah dengan cepat.",


"Eh? Ah... ya... itu...",


"Kamu pikir kamu bisa mengenai target itu tanpa pengendalian sedikitpun?",


"Eh?",


"Apakah kamu bercanda? Kamu bisa mengenai target itu tanpa pengendalian? Heh... itu baru yang namanya mustahil.".


Sumiko menundukkan kepalanya merenungkan apa yang barusan dia katakan.


"Kau tahu..." kataku.


Aku berjalan dengan normal. Saat aku di samping Sumiko, aku berbisik selagi bisa melanjutkan kata-kataku.


"Aku benci orang yang mudah menyerah dan menganggap sesuatu mustahil tanpa mereka coba.".


Sumiko terkejut dan langsung melihat ke belakangnya, kemana aku pergi. Dia mulai merenungkan semua perkataannya barusan, terutama saat dia bilang kalau mengenai target yang banyak rintangannya adalah mustahil.


Aku berjalan ke tempat kelompokku yang aku pimpin yang ada Liyu dan Sei saja di kelompok itu.


Saat aku sampai, aku disambut oleh Sei dan Liyu.


"Kakak Naka!",


"Nakano!".


Aku menutup mataku sambil mengajak mereka langsung pergi.


"Ayo kita langsung pergi saja. Semuanya pasti sudah menjalankan strategi." kataku,


"Ya.",


"Ya." jawab Sei dan Liyu serentak.


Aku dan Liyu berjalan menuju ke pintu depan gerbang. Perang sudah dimulai. Apa yang akan aku hadapi nanti? Aku tak sabar. Gawat... aku jadi tertarik...


-------


YAY CHAPTER KE-100!!!! Setelah banyak perjuangan akhirnya bisa sampai ke chapter 100!!! Ini penghargaan banget ini😂. Terimakasih semuanya yang telah mendukung karya saya ini sampai ke CHAPTER 100!!!! Aku sangat mengapresiasikan dukungan kalian! Sangat sangat sangat sangat sangat berterimakasih kepada kalian semua!!!! Thanks all! Yang awalnya novel ini novel amatir sekarang jadi novel yang bisa dibilang lumayan besar. Ya gak besar-besar amat kek novel sebelah tetapi yah... Intinya saya, Author Z, berterimakasih kembali sebanyak-banyaknya karena telah mendukung karya saya ini.... I really really appreciate your support. Dukung karya saya terus ya! Cya!!

__ADS_1


__ADS_2