
Pagi pun tiba. Aku mulai mengingat apa yang kemarin malam terjadi. Aku bangun dalam posisi memeluk Anna. Anna yang sudah bangun dari tidurnya beberapa menit yang lalu bilang, "Hei Nakano. Sudah bangun?".
Aku melihat ke bawah, disana ada Anna yang sedang kupeluk. Aku bangkit dari tidurku, "Uh...".
"Selamat pagi, Nakano." kata Anna,
"Selamat pagi. Oh iya, maaf karena memelukmu secara tak sengaja." kataku,
"Lupakan saja. Lagian kamu tidurnya nyenyak sekali, aku jadi tidak tega membangunkanmu.",
"Begitu kah.".
Anna tersenyum manis. Ini bukanlah senyum buatan, tetapi senyum aslinya.
"Ayo siap-siap. Kalau tidak kita bisa kelewatan upacaranya.",
"Upacara?",
"Duh, apa kamu tidak tahu? Setiap ada yang ingin melakukan duel, maka sudah tradisi bagi alam semesta Fighterys untuk melakukan upacara sebelum melakukan duelnya.",
"Begitu? aku baru dengar.",
"Baiklah. Ayo bersiap. Menurut posisi matahari, upacaranya dilakukan 1 jam lagi.",
"Hebat. Bagaimana kamu bisa tahu hanya dengan melihat posisi matahari.",
"Dulu sering aku gunakan sebagai penanda waktu. Sekarang sih jarang, karena ada mata waktu.",
"Oh.".
Kami berdua turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar. Berjalan bersama dan tak sengaja bertemu dengan Tohka dan Sei yang menuju ke tempat yang sama, pemandian. "Selamat pagi, Anna, Nakano. Anna, sepertinya sudah baikan." Sapa Sei,
"Selamat pagi, Sei. Ya seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja." Jawab Anna.
Tohka melihat ke arahku dan Anna.
"Kalian berada dijalan yang sama walaupun jalan menuju kamar kalian berbeda pasti... Anna, kamu tidur di kamar Nakano ya?" kata Tohka,
"Yah... ketahuan ya...",
__ADS_1
Tohka menghela nafas dan bilang, "Yah... aku sudah terbiasa dengan itu. Aku jadi tidak peduli lagi.",
"Kalian mau pergi ke pemandian kan? Ayo, kami berdua juga berniat ke sana bersama." lanjut Tohka.
Aku dan Anna menganggukkan kepala kami berdua secara bersamaan. Setelah itu, kami berjalan. bersama. Kedamaian ini... Akan sulit didapat bagiku untuk kedua kalinya, ya kan?
Kami berdua tiba di pemandian. Aku berpisah dengan Tohka dan yang lainnya.
Aku melepas pakaianku di tempat ganti pakaian. Sebelum masuk ke pemandian, aku melihat ke pakaianku dan merasa... aku perlu membeli pakaian yang baru. Aku tidak begitu peduli jadi aku tidak memperhatikan akan hal itu dengan baik.
Setelah selesai mandi dan sarapan, Aku dan teman-temanku berteleportasi ke alam semesta Fighterys. Saat sampai disana, kami melakukan upacara.
"Baik! Upacara Dimulai!" kata Arthories.
Arthories melempar banyak lembar kertas. Aku mengambil salah satu dari mereka dan membacanya. Di sana tertulis peraturan dan kesepakatan antara dua belah pihak. "Dengan begini Upacara Selesai.".
Tohka merasa kebingungan. "Apanya yang disebut dengan upacara?",
"Kau benar. Aku juga penasaran." kata Sei,
Kertas yang ku pegang memancarkan cahaya silau. Aku dan yang lainnya menutup mata tak bisa melihat apa-apa. Yang kami lihat hanyalah warna putih cerah.
Setelah beberapa saat, cahaya itu redup. Aku membuka mataku dan melihat ke arah sekitar. Aku sadar, kalau kertas tadi yang ku pegang itu mengantarku ke arena pertandingan. Aku tak melihat siapapun disana, yang kulihat di depan mataku adalah gurun pasir yang kosong dengan seorang gadis disana. Gadis itu adalah Artoria. Aku tak tahu berada dimana.
Sementara itu, Tohka, Sei, dan Anna berada di tempat tontonan. Mereka bertiga duduk di dekat Arthories. Anna bertanya terhadap situasi, "Apa yang barusan terjadi? Dimana Nakano?",
"Nakano baik-baik saja. Dia ada di Under Reality." jawab Arthories,
"Under Reality?" tanya Tohka,
"Sihir yang menciptakan dunia palsu. Dunia itu seperti asli, tetapi dunia itu hanya menciptakan apa yang penggunanya bayangkan. Sihir tingkat tinggi." Jelas Anna,
"Kau tahu banyak." puji Arthories,
"Sihir itu sudah dikuasai oleh Artoria, dan itu tidak melanggar peraturan. Kita bisa melihatnya dari layar di depan kita.".
Tohka dan Sei melihat ke depan. Mereka melihat 4 layar besar yang terletak sesuai arah mata angin. Semua orang yang melihat pertandingan ini bisa melihatnya.
Ditempat aku berada. Aku telah dijelaskan oleh Artoria tempat apa ini. Ini adalah dunia buatannya. Tetapi, Artoria tak bisa membuat lebih dari ini. Jika melakukannya, energi Artoria akan terkuras habis. Benar-benar sihir tingkat tinggi.
__ADS_1
"Kalau begitu, Mari mulai saja!" kata Artoria. Mendorong kakinya kebelakang, sehingga menghasilkan gaya dorong yang datang ke arahku. Aku meletakkan pedang Excusifer di depanku, sehingga pedangku dan pedang Artoria beradu.
Artoria terdorong hingga ke belakangku. Dia membalikkan badan dan mengayunkan pedangnya dari samping badannya. Aku berhasil menangkisnya, tetapi Artoria mengayunkan pedangnya lagi sebanyak 2 kali setelah itu.
Aku berhasil menangkis semua serangan Artoria. Aku meloncat mundur sejauh 2 loncatan. "Kenapa? Kamu ketakutan kah? Itu membuktikan KALAU KAU BUKAN NAKANO YANG ASLI!" kata Artoria. Dia mendorong dirinya lagi. "HIAAAHHH!" Teriaknya sambil mengayunkan pedangnya dari atas kepalanya.
Dia telah termakan oleh amarah. Aku mengayunkan pedangku dari bawah kaki kiri ku dan mengenai pedang Artoria. Pedang Artoria terhempas jauh sejauh sekitar 2 meter dari posisi kami berdua.
Artoria terdiam, menatap ke bawah dengan tatapan kecewa. Dia kecewa kepada dirinya karena tak cukup kuat.
Tiba-tiba aku merasakan gelombang pikirannya sedang kacau balau. Dia tidak sedang dalam keadaan baik dan tenang. Aku sekarang harus memilih, membuat Artoria pingsan atau membuatnya tenang. Membuatnya pingsan memang tujuan awalku, tetapi tidak lagi.
Aku menyentuh leher Artoria. "Eh?" katanya. Gelombang pikirannya mulai tenang dan teratur. Dia menghela nafas dan bertanya kepadaku, "Kenapa kamu tidak membuatku pingsan?",
"Itu memang tujuanku sejak awal. Tapi sepertinya tak akan kulakukan." Jawabku,
"Kau memang bodoh. Bukan Nakano yang kukenal. Nakano yang kukenal pasti sudah membuatku pingsan dengan cara lembut.",
"Sayangnya, aku memang bukan Nakano Wynox. Aku Nakano baru dengan metode yang baru dan berbeda. Aku tahu kamu membenci dirimu sendiri saat Nakano Wynox mati ya kan?",
"Jangan sok perhatian. Hufff... Hahhh.... Aku kalah ya. Aku menyerah.",
"Kenapa?",
"Aku telah melakukan sesuatu yang salah. Kau terlalu depresi. Aku kalah.",
"Sepertinya yang kamu lakukan sekarang adalah yang salah.",
"Aku tahu apa yang ingin kamu bilang. Jangan mencoba menasehatiku, dasar palsu.".
Aku melepas jari-jari ku dari leher Artoria. Artoria melihat ke arahku. "Aku kalah. Aku menyerah." katanya.
Hal itu terdengar ke semua penonton. "Apa? apa yang terjadi?" kata salah satu penonton,
"Artoria mengaku kalah?".
Seketika di tempat itu ramai. Tak ada sorakan menang. Tohka terheran-heran. "Mengapa pertandingannya cepat sekali?" tanya Tohka,
"Mungkin Artoria sudah tercerahkan. Yah kita tidak tahu apa yang barusan terjadi, tetapi ini adalah yang terbaik bukan?".
Aku masih bertanya, mengapa dunianya masih belum seperti semula?. Aku melihat sekitar dan seketika aku tertusuk sesuatu. Artoria menusukkan sebuah belati ke tubuhku. Dia tersenyum ke arahku bersamaan dengan mata tajamnya. Apakah duel ini akan selesai dengan hasil aku terbunuh?. Artoria membalikkan badannya dan bilang, "Kau terlalu lengah loh, Nakano. Selamat tinggal selamanya— Nakano Palsu. Aku harap kamu sadar kesalahan tadi.". Apakah ini akhirnya? Terkhianati?
__ADS_1