Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 77, Kebencian yang Dipenuhi Kebodohan Belaka..


__ADS_3

Arthories, Sei, Artoria, dan Anna masih terkejut dengan apa yang mereka lihat. Pedang Malam Merah.


"Ini... Pedang Malam Merah?!" tanya Anna,


"Malam Merah?! Bukankah itu nama belati milik Nakano Wynox? Kenapa bentuk ini menjadi pedang?" tanya Anna,


"Ini bentuk sempurnanya. Belatinya adalah bentuk yang menutupi bentuk asli pedangnya. Kekuatan belati itu tentu saja melemah, tetapi sebagai gantinya kekuatan 7 elemen meningkat drastis." Jelas Artoria,


"Itu berarti... jika bentuknya pedang, maka kekuatan 7 elemen yang terdiri dari Tanah, Air, Petir, Angin, Api, Cahaya, dan Gelap akan meningkat drastis seperti saat Nakano melawan Wynox dan bahkan lebih?!" tanya Sei terkejut,


"Ya. Dan disaat itu membentuk sebuah pedang seperti yang kita lihat sekarang, kekuatan ketujuh elemen itu akan menurun sekitar 20%. Tetapi sebagai gantinya, kekuatan fisik Nakano Wynox akan meningkat drastis." jelas Anna,


"...".


Semuanya terdiam sejenak melihat pedang itu mengeluarkan energi yang amat sangat besar sebelum Anna bertanya kepadaku.


"Jadi, Nakano. Kamu membawa kami bukan hanya untuk menunjukkan hal ini bukan?" tanya Anna,


"Ya. Benar.".


Aku mundur selangkah saat mereka melihat ke arahku. Mereka terkejut melihat sosok asli Tohka, gadis kelinci dari ras Kelinci Bulan yang sudah lama punah.


"Lihat apa yang terjadi kepada Tohka saat dia menyentuh bilah pedang itu. Itu membuatnya ingat semua memori ingatan sebelum reinkarnasinya. Jadi aku ingin Anna dan Artoria melakukan hal yang sama juga." kataku secara terang-terangan.


Anna dan Artoria mengambil pandangan satu sama lain sebelum mereka menjawab permintaanku.


"Baiklah. Hanya perlu menyentuh bilah pedangnya saja kan?" tanya Anna,


"Ya. Hanya bilah pedangnya saja." jawabku.


Mereka melihat ke arah pedang Wynox dan berjalan ke depannya bersamaan. Aku dan yang lainnya melihat dari belakang penasaran apa yang akan terjadi.


Saat dia sudah berada di hadapan pedang itu. Mereka mengangkat tangan kanan mereka dan menyentuh bilah pedangnya secara bersamaan. Mereka terdiam terheran-heran karena tak terjadi apapun kepada mereka. Mereka menyentuhnya lebih lama sedikit sambil terheran-heran.

__ADS_1


Seketika, saat mereka menyentuh bilah pedangnya, di bagian terdalam dari pikiranku. Aku sekali lagi melihat benang hitam menyatu dengan benang emas bersinar. Mereka terikat satu sama lain dan seketika, aku mulai mendapatkan semua memori ingatanku tentang Anna atau Totsuka Kurumi dan Artoria atau Arata Pendragon.


"Tak terjadi... apa-apa..." kata Anna terheran-heran.


Setelah Anna mengatakan itu, aku kembali ke kesadaran ku yang sekarang ini dan sekali lagi berakhir dengan terengah-engah.


"Aku sudah ingat." kataku,


"Tentang apa?" tanya Sei,


"Tentang Totsuka Kurumi— Bukan, maksudku Totsuka Anna dan Artoria.".


Artoria dan Anna membalikkan badan dan melihat ke arahku. Sei dan yang lainnya gembira mendengar hal itu. Karena Sei seorang diri yang tak terikat dengan masa lalu Nakano Wynox, dia bertanya penasaran.


"Kalau begitu.. Nakano apakah semua ingatan masa lalumu telah kamu ketahui semuanya?" tanya Sei dengan gembira,


"Tidak semuanya. Aku mendapatkan memori tentang Tohka, Anna, dan Artoria, tetapi tidak dengan diriku sendiri.".


Sei yang melihat ke arahku, melihat kebawah sambil menunduk kecewa.


Aku penasaran dengan tingkah yang barusan ditunjukan Sei. Aku pun memutuskan menanyainya.


"Ada apa, Sei?".


Sei memalingkan wajah kesamping sebelum menjawab ku.


"Tidak ada..." katanya sambil menggembungkan pipinya.


Aku tahu kalau ada sesuatu, tetapi aku tak menanyainya karena kupikir itu adalah hal yang tidak penting.


Aku kemudian melihat kembali ke arah bilah pedang dan melihat 2 simbol yang berbeda di tempat dimana Anna dan Artoria menyentuh bilah nya. Aku terkejut karena hal itu.


"Sesuai dugaan ku ya. Simbol lainnya akan muncul karena ketiga istri Nakano Wynox." kata Mashiro tiba-tiba,

__ADS_1


"Tetapi tak ada yang terjadi ya." kataku,


"Boodoh. Lihat energinya dasar. Energinya mengecil dan mulai tentang." kata Mashiro.


Aku merasakan energinya dengan benar. Dan benar apa yang dikatakan Mashiro, energinya mengecil dan sekarang aku hampir tak bisa merasakan energinya.


"Sekarang apa?" tanya Sei.


Aku melihat ke arah pedang itu sebelum berjalan ke dekatnya dan menyentuh bilah nya. Saat aku menyentuhnya, ada seperti sengatan kecil menyerangku. Awalnya aku terkejut dan menjauhkan jariku sedikit dari bilah nya, tetapi aku mulai menyentuhnya lagi dan melawan rasa sakit yang diberikan. Saat aku menyentuhnya, dipikiranku paling dalam, aku membuka mataku dan menyadari kalau yang ada di depanku sekarang adalah Nakano Wynox. Aku dan dia saling bertatapan tajam penuh kebencian.


Sejujurnya aku tak tahu kenapa aku bisa membencinya. Kekuatan yang membunuh 150 Juta hanya untuk sebuah kerajaan dengan populasi sekitar 5 Juta. Aku mungkin membencinya karena cara dia berpikirnya. Anna pernah mengatakan kalau dia membunuh karena terpaksa, tetapi apa yang membuatnya terpaksa? Sampai-sampai membunuh sepertiga populasi dari umat manusia pada zamannya itu. Aku tak suka cara berpikirnya, caranya menyelesaikan masalahnya. Dia adalah seorang pemuda yang mudah sekali menyerah kepada takdir dan aku takkan berakhir sepertinya! Hanya untuk senyuman dari 5 Juta orang dia rela membunuh 150 juta nyawa tak bersalah?! Aku benar-benar tak menyukai pola pikirnya!


Aku dan dia bertatapan tajam sebelum aku kembali ke kesadaran ku yang sekarang. Setelah aku pergi, Wynox menutup matanya dan mulai berpikir kenapa semuanya bisa seperti ini.


(Kenapa... semuanya seperti ini...? Apakah aku memang benar-benar dibenci oleh takdir? Tanganku yang kotor ini sudah tak bisa terselamatkan lagi. Kenapa aku membenci reinkarnasi ku sendiri ya...? Apakah karena kehidupannya lebih baik dari padaku? atau karena ketiga Istriku berpihak kepadanya? Kalau memang iya, aku adalah laki-laki yang pencemburu. Padahal reinkarnasi ku sendiri. Pasti dia juga membenciku bukan? Kalau iya... aku ingin mendengarkan penjelasannya..).


Aku kembali ke dunia nyata dan berjalan menuju keluar ruangan.


"Ayo semuanya. Kita pulang. Mungkin sekarang waktunya makan siang." kataku,


"Nakano..." panggil Sei.


Aku tak mendengarkannya dan tetap berjalan. Aku kemudian berhenti di depan pintu dan berteleportasi membawa yang lain ke atas. Aku membiarkan pedang itu sendirian sampai hari itu tiba.


Kami berdua tahu kalau tindakan yang kamu lakukan sekarang hanyalah kekonyolan belaka. Tetapi... aku masih ingin mendengar... penjelasannya! Hari itu akan tiba... ya... suatu saat nanti...


(Kami berdua tahu kalau tindakan yang kamu lakukan sekarang hanyalah kekonyolan belaka. Tetapi... aku masih ingin mendengar... penjelasannya! Hari itu akan tiba... ya... suatu saat nanti...).


Bersiaplah...


(Bersiaplah...)


NAKANO WYNOX!

__ADS_1


(SAKAMAKI NAKANO!)


Hari itu akan tiba. Dimana mereka beruda akan berhadapan satu sama lain. Mereka akan bertarung habis-habisan sampai salah satu dari mereka mati! Ya. Di... Satu tempat dan suatu saat nanti...


__ADS_2