Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 102, Saluran Neraka


__ADS_3

Di sebuah tenda. Terjadi perkumpulan diantara aku dan yang lain. Terdapat selembar kertas kusut yang berterbangan dimana-mana sebelumnya. Semuanya diam disana, kami ingin memulai pembicaraan dengan kelompok pemadam kebakaran khusus.


"Shiro," panggilku,


"Ya?" jawab Shiro dengan tegas,


"Apakah kamu tahu dimana Saluran Neraka berada?",


"Ya, aku tahu. Tempat itu adalah terowongan bekas salah satu pipa terbesar disini. Sekarang sudah tak digunakan lagi dan hanya menjadi tempat yang tertinggal.",


"Bisakah kamu menunjukkan jalannya?",


"Baik! Ini pasti karena... surat itu kan?",


"..... Bisa kan?",


"Bisa!",


"Bawa aku... sekarang juga.",


"Baiklah...",


"Siiit......" desis Sanae.


Shiro melirik ke arah Sanae berdesis kepadanya memanggilnya.


"Apakah kamu benar-benar ingin membawanya pergi?" tanya Sanae sambil berbisik,


"Aku tak bisa menolaknya, aku juga punya perlu dengan GsK.",


"Aku tahu kalau kamu memiliki masalah dengan mereka tetapi beneran nih membawa orang asing ke tempat mengerikan itu?",


"Apakah kamu meragukan kekuatan Nakano? Kamu sudah tahukan seberapa kuat dia?",


"Ya... aku sudah tahu sih... tetapi menurutku kekuatannya belum setara dengan GsK.",


"Menurutmu saja.",


"Apa yang kalian bicarakan?" tanyaku secara langsung,


"Eh. Yah... maaf... kami tak membicarakan apapun.",


"Bisakah kamu membawaku ke sana sekarang?",


"Bisa.",


"Yosh. Kita pergi sekarang.".


Artoria berjalan mendekatiku dan bertanya.

__ADS_1


"Nakano, kamu tak membawa pasukan?",


"Tidak. Itu hanya menghambat ku saja. Kamu dan Tohka ikut biarkan Sei dan yang lain berjaga disini.",


"Ajak kami juga." kata suara yang tiba-tiba muncul.


Aku melihat dari mana suara itu berasal dan melihat Bibi Yo dan Paman Inara berdiri dengan tegas dengan raut wajah serius.


"Ajak kami juga. Ini berkaitan dengan anakku yang pertama. Jika yang mereka maksud Tuhan adalah aku, maka aku akan menyerahkan diri setelah aku berusaha menyerang mereka tetapi gagal.",


".... Baiklah." kataku sambil menutup mata.


Aku membuka mataku dan melihat ke bawah. Paman Inara tersenyum.


"Jangan khawatir. Aku ini Penguasa Alam Semesta, jika mereka bisa mengalahkan ku itu berarti mereka berasal dari alam semesta lain dan lagi, aku akan menyerahkan tugas itu kepadamu.".


Aku terdiam sebentar lalu menghela nafas pendek.


"Baiklah, itu adalah permintaanmu.",


"Aku serahkan kepadamu bocah, balas kan dendam ku jika aku sudah mati.",


"Baiklah. Lagian... yah... amarahku seperyi sudah tak terkendali lagi.".


Paman Inara tersenyum sambil menutup mata. Dia membuka matanya dan menunjukkan senyuman yang selalu ku ingat. Senyuman sombong yang terpapar diwajahnya mirip dengan seseorang, ya... ayahku.


"Kalau begitu, aku akan menunggu di depan pintu gerbang. Ayo, Yo." katanya sambil memegang tangan Bibi Yo.


"Shiro," kataku,


"Y-Ya?!",


"Mari kita pergi sekarang juga ke sana.".


Shiro menundukkan kepalanya. Dia mengangkatnya kembali setengah dan menatap dengan tajam.


"Ya.." jawabnya dengan nada seram.


Shiro berjalan keluar tenda sembari aku mengikutinya datu belakang. Artoria dan Tohka ikut denganku di belakangku.


Tiba-tiba, sepatu yang digunakan Shiro terbakar habis. Dia terbang ke langit. Aku mengikutinya dari belakang sambil meloncat dan berlari tanpa memberitahu ke yang lain.


Aku mengikuti Shiro dari belakang, melewati semua monster Manusia Api di samping. Mereka berusaha menangkap aku dan Tohka dan Artoria tetapi kami terlalu cepat bagi mereka. Kami mengabaikan mereka dan fokus ke depan. Sambil berlari, Tohka bertanya kepadaku.


"Nakano, kamu terlihat serius sekali. Apakah sebegitu pentingnya kah Sumiko bagimu?",


"Ya... sangat.".


Dan lagi, jika Sumiko mati maka perjalananku kesini sia-sia dan aku tak mau itu terjadi!

__ADS_1


"Melebihi kami?",


"Ya.... Tunggu— Apa?".


Aku melihat ke arah Tohka yang memalingkan wajahnya ke bawah dengan wajah sedih dan kecewa. Aku menghela nafas pendek.


"Hufft.... Kalian sangat penting bagiku melebihi Sumiko. Maaf aku bilang semacam tadi, aku terlalu fokus kepada tujuanku. Maaf.",


"Benarkah...?" tanyanya sambil melihat ke arahku dengan mata yang berkaca-kaca,


"Ya. Benar. Aku bersungguh-sungguh.".


Lebih baik seperti ini dari pada aku menimbulkan kekecewaan dan masalah yang lebih besar, terutama semuanya berhubungan dengan tunangan ku.


Wajah Tohka langsung berubah menjadi merah. Dia memalingkan wajahnya lagi sampai aku tak bisa melihat wajahnya sama sekali. Aku tersenyum.


Artoria melihat ke arahku dengan mata penuh harapan kalau sesuatu yang sama akan terjadi kepadanya. Dia melupakan yang itu. aku menyadari tatapan Artoria, langsung melihatnya. Aku memalingkan wajahku ke arah lain saat Artoria melihat ke arahku. Artoria menyadari apa maksudku juga langsung memalingkan wajahnya ke arah yang lain.


Aku mulai fokus ke dalam perjalanan. Aku menyadari kalau Shiro semakin cepat dan aku tertinggal cukup jauh, untungnya aku masih bisa melihatnya. Aku menambah kecepatan ku sampai ke kecepatan yang hampir menyamai kecepatan cahaya.


Aku langsung berada di belakang tak jauh dari Shiro. Artoria langsung menambahkan kecepatannya dan Tohka berteleportasi ke dekatku.


Setelah beberapa menit, akhirnya Shiro mendarat dan berhenti di depan sebuah lorong masuk ke dalam bawah tanah. Shiro berbalik badan saat kami bertiga berhenti dibelakangnya.


"Inilah Saluran Neraka." kata Shiro.


Lorong gelap yang menjulang ke bawah tanah membuatnya sangat mirip persis dengan lorong bawah tanah.


"Jadi ini ya Saluran Neraka." kata sebuah suara yang tiba-tiba dari belakangku.


Aku melihat ke belakang dan melihat Paman Inara dan Bibi Yo berdiri.


"Paman Inara pastinya tahu kan tentang saluran ini?",


"Ya, sedikit. Saluran ini digunakan pada 103 Tahun Matahari. Saluran ini berfungsi untuk membuang uap yang tak perlu sekaligus tempat sebagai eksperimenku dulu. Tetapi ada sebuah ledakan yang terjadi disini dan akhirnya laboratorium dibawah tanah ini dan pipa ini tak bisa berfungsi dengan baik. Akhirnya aku meninggalkan Saluran ini tepat saat kelahiran Sumiko, 24 Desember 126 Matahari. Tapi aku tak tahu bila yang dimaksud adalah tempat ini. Aku memang penguasa alam semesta tetapi Penguasa Alam Semesta tak menguasai segalanya disana, salah satunya kehidupannya sendiri. Itu berjalan secara alami.",


"Yang penting dari itu, apakah benar ini yang dimaksud, Nakano?" tanya Biji Yo,


"Ya. Tepat seperti apa yang dibilang oleh kertas ini.".


Aku mengangguk ke yang lain. Kami semua masuk dengan pelan ke dalam. Suara pun datang mendengung disana.


"HAHAHAHAHAHHAAA..... Oh... kalian sudah datang ya... Maaf kami tak menyajikan tempat yang bagus, terutama kepadamu, Penguasa Alam Semesta..." kata suara itu dengan nada yang menjengkelkan.


Suara disana mendengung sehingga aku tak bisa menebak dari mana asalnya.


"Sesuai dengan permintaanmu, kami membawakan apa yang kamu maksud. Yaitu aku." kata Paman Inara,


"Heh... Apa maksudmu? Maksud kami bukan kau tapi orang yang ada di dekatmu...",

__ADS_1


"Apa maksudmu?",


"Maksudnya adalah orang yang ada di dekatmu... Itu... siapa namanya... Ahah! Sakamaki Nakano, atau kami bisa sebut, Nakano Wynox.".


__ADS_2