
"Mhmm.. Mhmm.." _Suara Tohka saat dicium.
Setelah 15 detik, kami melepas ciuman kami.
"Fuahh...",
"Fuahh...".
Kami melihat satu sama lain dengan jarak yang sangat dekat. Dada Tohka yang menempel ke dadaku membuatku bisa mendengar degup jantung Tohka yang cepat. Wajahnya yang merah dan telanjang dada, sangat erotis dan menggoda.
"Nakano..." panggilnya,
"..." tak ada respon dariku. Aku tak tahu harus berkata apa saat di situasi semacam itu karena ini pertama kalinya aku merasakannya.
"Nakano....".
Aku melihat ke arahnya dengan mata tajam ku. Dia tersenyum kepadaku.
"Tidak apa kok. Lakukan saja." katanya,
"Tohka...." panggilku.
Aku mendekatkan bibirku ke bibir Tohka dan bersiap melakukan "itu". Tetapi, sesuatu mengganggu. Tiba-tiba saja pintu terbuka dengan pelan didorong oleh seseorang. Suara pun keluar dari balik pintu yang mulai membuka itu.
"Kakak...!" panggil suara itu.
Pintu itu sudah terbuka dan aku dan Tohka melihat Mashiro mengucek mata kanannya.
"Kakak... kamu sedang apa...? Aku tadi mendengar suara sesuatu yang jatuh sangat keras." katanya.
Mashiro melihat ke arah kami setelah dia mengucek matanya.
"Eh..?" gumamnya,
"Eh?" gumam Tohka dan aku.
Dia membuka matanya lebar-lebar dan terkejut.
"EEEEHHHH????!!!" Gumam ya dengan keras,
"APA YANG KALIAN LAKUKAN BERDUA DISINI?!" Tanyanya sambil berteriak.
Aku menjauh dari Tohka dan Tohka mulai duduk dengan wajah kami yang memerah menengok ke arah yang berlawanan, Tohka menengok ke arah kanan dengan wajah merona dan aku ke arah sebaliknya juga dengan wajah yang sama. Tohka duduk dan memasang kaitan baju dalamnya.
"Apa.... Yang sudah... kalian... lakukan, HAH?!" Tanya Mashiro,
"Maaf. Tapi kami belum melakukan apa-apa, sungguh!" kata Tohka sambil melihat ke arah Mashiro,
"Benar kata Tohka. Aku dan dia belum melakukannya." kataku membela,
"Heh... begitu ya....? ALASAN SEPERTI ITU BELUM BISA DITERIMA!!!" Katanya,
__ADS_1
"Sungguh! Percaya kepada kami." kata Tohka.
Mashiro membela nafas dan meredam amarahnya.
"Aku percaya kalian belum melakukan apa-apa dan aku tidak peduli kalian melakukannya atau tidak, tetapi jika kalian ingin melakukannya maka PILIH TEMPAT LAIN!! INI ADALAH KAMAR IBU DAN AYAH, JADI TIDAK BOLEH ADA YANG MENGOTORINYA KECUALI MEREKA SENDIRI!!",
"Maaf." kataku dan Tohka bersamaan,
"Begitulah. Aku tidak peduli kalian melakukannya atau tidak tetapi jangan disini. Dilarang. Itu peraturannya.".
(Peraturan macam apa itu?) kataku dan Tohka dalam hati.
"Yosh. Karena kalian belum tidur, aku akan menceritakan apa yang terjadi disini. Kemana perginya ayah dan ibu. Cepat pakai baju kalian dan pergi ke ruang tamu! Aku akan menunggu kalian." kata Mashiro.
Mashiro kemudian berbalik arah, berjalan melewati pintu dan menutup pintu dengan kasar. *Jederr* suara pintu tertutup.
Tohka segera memakai bajunya dan keluar kamar bersamaku. Aku dan dia berjalan melewati pintu dan menutupnya kembali seperti semula. Kami berjalan menuju ke ruang tamu yang terletak di samping kamarku dan depan dapur. Ruang tamu itu digunakan sekaligus menjadi ruang makan.
Saat aku dan Tohka sampai disana, disana ada Mashiro dengan 6 kursi depan 1, belakang 1, samping masing-masing 2. Aku dan Tohka berjalan ke arah 2 kursi berdampingan dan duduk disana bersebelahan dengan Tohka. Dan juga telah disediakan teh oleh Mashiro sebelumnya. Setelah duduk, kami bertiga memulai pembicaraan.
"Terus, apa yang terjadi kepada mereka?" tanya Tohka,
"Aku akan memulainya dari awal, saat ayah pulang. 2 Hari yang lalu, ayah pulang ke rumah sekaligus membawa berita entah itu baik atau buruk. Ayah mengatakan kalau monster itu telah bangkit. Semua penguasa Alam Semesta dihimbau untuk membantu mengatasi si monster. Seharusnya mereka bisa karena mereka ada 34, tetapi kekuatannya mengurang sejak kehilangan Penguasa Alam Semesta Waviware dan Bimasakti. Maka dari itu, itu bisa disebut berita buruk juga. Tetapi ada baiknya, yaitu mempererat hubungan tali kerjasama antara Penguasa lainnya. Tetapi untuk melawan monster itu, membutuhkan kekuatan yang amat besar. Tetapi semenjak 2 penguasa menghilang, rasio kekalahan mereka meningkat 7 persen. Sekarang rasionya adalah 43:57. Jadi ada kemungkinan kalau sekitar 2-3 penguasa akan menghilang. Tetapi itu dikurangi karena ibu. Ibu memiliki kekuatan setara dengan ayah jadi rasionya 45:55. Alhasil, kemungkinan kehilangan penguasa Alam Semesta sekitar 1-2 orang saja." jelas Mashiro panjang lebar,
"Terus, apakah itu buruk?" tanya Tohka,
"Tentu saja! Kita tak tahu penguasa alam semesta mana yang akan mati.",
"Begitu ya. Kalau begitu kita hanya bisa berdoa agar ibu dan ayah tidak mati." kataku,
Sepi dan sunyi, tak ada kata-kata yang keluar lagi dari mulut kami. Tohka mengambil cangkir dan mulai meminum tehnya. Disaat itu, aku bertanya satu hal kepada Mashiro.
"Sebenarnya monster apa yang kamu maksud?" Tanyaku,
"Monster yang aku maksud adalah Naga Bayangan.".
Tiba-tiba kami mendengar suara benda yang pecah. *Clang!*. Cangkir yang di pegang Tohka pecah karena jatuh.
"Naga.... Bayangan...?" katanya dengan ketakutan.
Wajahnya pucat seakan-akan melihat sesuatu yang tak ingin dia lihat. Tangannya yang membentuk gagang cangkir yang dia jatuhkan, bergetar ketakutan. Nafasnya semakin cepat dan cepat seakan-akan dia mengingat sesuatu yang tak ingin dia ingat lagi. Dan setelah nafasnya semakin cepat, dia pingsan ketakutan.
"Tohka? Tohka!" panggilku.
Aku langsung dengan sigap menangkap Tohka yang hampir jatuh. Aku menggendongnya dan mengangguk ke arah Mashiro. Mashiro melihatku dan mengangguk juga.
Aku membawanya ke kamar orang tuaku dan meletakkannya disana. Aku menutup pintu dan membiarkannya istirahat sampai besok. Aku tidur disampingnya, menemaninya sampai besok pagi.
Pagi hari tiba, aku bangun dari tidurku dan melihat ke sampingku. Tak ada Tohka disana, aku panik dan pergi keluar kamar. Aku berlari menuju ke ruang tamu, menengok kiri kanan dan kemudian ke belakang. Aku menemukan Tohka sedang memasak sarapan sebagai ganti ibuku. Aku lupa kalau ibuku sedang tidak ada. Aku menguap dan duduk di kursi sampingku. Tohka yang menghadap ke belakang dari ruang tamu, membalik badannya menghadap ke arah ruang tamu. Dia menemukan aku yang sedang melamun dengan mata tertutup dengan wajah dan rambut yang berantakan.
"Selamat pagi, Nakano." sapa nya,
__ADS_1
"Selamat pagi Tohka." jawabku.
Dia melihatku dan tertawa kecil.
"Kenapa, Tohka?" tanyaku,
"Tidak. Hanya saja, tak menyangka bisa melihat sisi Nakano yang seperti ini. Lucu." katanya,
"Begitu ya. Oh iya, bagaimana tidurmu?",
"Nyenyak. Aku memiliki energi seperti semula.".
Tohka pun membalik badannya kembali untuk memotong sesuatu. Saat dia memotong, dia mulai terpikirkan kalau aku dan dia seperti orang yang baru menikah. Wajahnya memerah dan mulai tak fokus. Karena tak fokus, pisaunya mengenai ujung jari telunjuknya dan keluar darah.
"Aduh!" katanya.
Aku yang mendengar hal itu, langsung berdiri dan berjalan terburu-buru ke arah Tohka. Aku langsung memegang tangan kiri Tohka.
"Tung-- Nakano?!".
Aku mendekatkan tangannya ke wajahku. Aku menemukan bagian mana yang berdarah.
"Dasar kau ini. Hati-hatilah!" kataku.
Aku memegang jari telunjuknya dan memasukkannya ke dalam mulutku.
"Waaa!!! Nakano?!" katanya terkejut dengan wajah yang merona.
(Dingin.... Tapi... entah kenapa nikmat sekali...).
"N-Nakano sudahlah. Aku sudah baik-baik saja." katanya dengan wajah merona.
Aku pun melepaskan mulutku dari jari telunjuknya. Walaupun begitu jati telunjuknya tak berhenti mengeluarkan darah. Dengan pelan darah mulai mengalir.
"Waa!!" gumam Tohka,
"Tunggu sebentar disini!" kataku lalu berteleportasi ke kamarku yang di istana Anna.
Aku pergi mengambil kotak P3K yang ada di kamarku di Istana Anna. Aku mengambilnya dan berteleportasi kembali ke dapur rumah keluarga Sakamaki.
Setelah itu, aku membuka kotaknya dan mengambil kapas yang ada disana. Aku mengolesinya ke darah Tohka yang mengalir ke bawah, membersihkan darahnya.
Setelah aku bersihkan dengan kapas, aku mengambil bungkus plester yang ada di dalam kotak P3K. Aku membukanya dan meletakkannya dengan kapas kecil di bawahnya. Aku meletakkannya di jari telunjuk Tohka dengan hati-hati.
"Sakit!" katanya saat tersentuh,
"Maaf." kataku,
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.",
"Sudah!" kataku.
__ADS_1
Tohka melihat ke jarinya yang baru saja ku sembuhkan.
(Nakano sampai bertindak seperti ini hanya karena luka kecil saja... Aku tahu, aku tak memilih lelaki yang salah.).