
"Baiklah dengan begini sepakat, kan Nakano?" kata Arthories.
Aku telah membuat Anna marah besar. Aku harus minta maaf kepadanya, tapi bagaimana caranya? Aku takut dia tidak akan memaafkan aku.
Sei dan Tohka mengejar Anna yang berlari sambil menangis. Anna menggunakan sihir teleportasi waktunya. Dia berteleportasi dengan cepat sehingga Tohka dan Sei tak bisa mengejarnya. Anna berteleportasi ke kamarnya.
Dia meloncat naik ke ranjangnya dan memeluk guling yang ada di sampingnya, berteriak sendiri, "NAKANO BODOH! NAKANO BODOH! KENAPA DIA TAK PERNAH MEMIKIRKAN PERASAANKU?! Kenapa? Kenapa? Ke...napa...?". Anna menangis terus menerus.
Aku ingin meminta maaf kepadanya tetapi aku takut... Aku takut dia membenciku. Aku mungkin tidak akan sanggup memperlihatkan wajahku kepada Anna. Aku memang laki-laki terburuk.
Sei dan Tohka berteleportasi ke depan kamar Anna. Sei dan Tohka melihat ke satu sama lain dan menganggukan kepala mereka. Tohka memegang gagang pintu kamar Anna dan membuka pintunya. Sei dan Tohka melibat sebuah ruangan yang gelap gulita dengan Anna yang berbaring di ranjang, memeluk guling dengan eratnya.
Sei dan Anna bertanya-tanya mengapa Anna begitu marah saat aku menyetujui persyaratan itu. Mereka tidak tahu apa-apa.
Mereka berjalan ke samping ranjang, melihat ke arah Anna dan menyapanya, "Hei, Anna.".
Anna tidak merespon. Mereka bertanya kepada Anna, "Ada apa? Apakah yang akan terjadi jika mata waktu itu dilepas dari penggunanya?".
Anna bangkit dari posisi awalnya. Dia tak menatap mereka. Anna menjelaskannya kepada Sei dan Tohka bahwa jika mata waktu diambil dari penggunanya, maka orang itu akan mati. Mata waktu adalah sumber kekuatan bagi penggunanya. Jika mata waktu diambil dari pemiliknya sebelum dia menguasai seluruh kemampuan mata waktu, maka orangnya akan mati dan hilang menjadi abu.
Itu adalah mimpi buruk mereka bertiga. Tentu saja mereka tidak ingin itu terjadi. Aku belum bisa menguasai seluruh kemampuan mata waktu dan tentu saja aku tahu akan hal itu.
Mereka bertiga ingin melakukan sesuatu, tetapi apa yang bisa mereka lakukan?.
__ADS_1
Aku pulang 30 menit setelah Sei dan Tohka. Aku berniat meminta maaf kepada Anna karena memutuskan seenaknya. Tapi bagaimana caranya? Aku takut... Aku takut Anna tidak akan memaafkan ku. Perasaan takut ini pernah aku hadapi sebelumnya tetapi kapan?.
Aku berteleportasi ke samping pintu kamar Anna. Aku melihat Tohka dan Sei menunjukkan wajah putus asa dan kesal terhadap diri sendiri. Mungkin mereka telah mengetahui rahasia mata waktuku ini. Besok adalah waktunya.
Anna turun dari ranjangnya, berjalan keluar dari kamarnya. Aku tak berniat kabur. aku tetap berada di tempatku. Sei dan Tohka tidak menghentikan Anna.
Anna tahu kalau aku berada di sekitarnya. Dia berjalan keluar kamar dan menggenggam tanganku dengan erat tanpa sepengetahuan Sei dan Tohka. Hari itu adalah malam hari. Aku pasti akan dibenci oleh Anna.
Anna menarik tanganku, menuntunku ke kamarku sendiri. Saat tiba di kamarku, Anna membukanya, masuk dan menutup pintunya kembali. Dia mengunci pintunya. Dia diam menghadap pintu. Suasana itu penuh dengan keheningan. Aku mulai bicara, "Aku tahu... apa yang kamu ingin bilang. Kamu membenciku kan? Setelah melakukan hal itu, kamu pasti sangat membenciku.",
"Kenapa?",
"Kenapa maksudnya?",
"Maaf....",
"Kenapa? Aku ingin menjadi istrimu, TETAPI KENAPA? KENAPA INI HARUS TERJADI?!",
"Maaf...",
"Maaf? MAAF SAJA TIDAK CUKUP! JIKA KAMU KALAH, KAMU AKAN MATI!! KAMU AKAN MATI SEBELUM AKU BISA MENIKAH DENGANMU!!",
"SUDAH KUBILANG AKU MINTA MAAF!!!".
__ADS_1
Suasana disana tiba-tiba saja hening. Ini pertama kalinya aku marah sebesar itu dalam hidupku. Aku menarik nafas dan menenangkan diri. Kemudian menyesal kepada diriku sendiri.
"Aku memang bodoh ya.... Aku memang laki-laki terburuk di alam semesta ini... Kamu bisa meninggalkanku... Kamu mana mungkin bisa memaafkan diriku yang busuk ini kan? Aku memang manusia terburuk.".
Aku menangis untuk pertama kalinya... mungkin...
"ITU TIDAK BENAR... Itu tidak benar.... MANA MUNGKIN AKU BISA MENINGGALKANMU LAGI KAN? Kamu adalah cahayaku... karena itu aku terus percaya... terus percaya....".
Anna juga mulai menangis... menyesali perkataannya...
"Maaf..." kata Anna,
"Gak usah minta maaf...",
"Nakano... Nakano.... Nakano!!".
Anna membalikkan badannya dan memelukku hingga jatuh ke ranjang. Dia menangis di badanku. Aku perlahan-lahan menyentuh punggungnya.
Setelah beberapa menit, Anna berhenti menangis. Aku mencoba mengangkat badanku tetapi dihentikan oleh Anna.
"Jangan bergerak— Biarkan aku tetap seperti ini sementara waktu." kata Anna.
Aku berhenti mengangkat tubuhku dan kembali berbaring. Aku bilang, "Maaf ya.. sudah memutuskan seenaknya.",
"Aku juga minta maaf karena tak mempercayaimu. Aku tahu kalau kamu bisa. Jika kamu mati, aku akan mencari cara untuk membuatmu hidup. Sama seperti yang kamu lakukan kepadaku. Maaf juga telah menjadi egois.",
__ADS_1
"Baik.".
Kami berbaikan. Kami tertidur hingga keesokan paginya. Siang nanti adalah pertarungannya. Aku harus bisa mengalahkan Artoria dan membuka matanya. Karena perjalananku tidak akan selalu mudah