Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 24, Ini Kemenanganku


__ADS_3

 


Apakah ini akhirnya? Apakah aku akan mati disini?.


 


Aku kehilangan kesadaran sebentar. Saat kehilangan kesadaran, aku pergi ke tempat mengerikan itu lagi. Tempat yang penuh dengan mayat dan tempat berdirinya Nakano Wynox. Satu-satunya tempat yang paling ku ingat sebelum aku mati.

__ADS_1


Aku melihat ke arah Nakano Wynox yang berdiri di atas jutaan mayat. Rambutnya yang terhembus angin dan mata tajamnya yang seperti sedang melihat sesuatu. Nakano Wynox melihat ke arahku dan loncat turun ke depan ku. Kami bertatapan. Nakano Wynox menamparku dan bilang, "Ini bukan akhir dari Nakano! Selamatkan lah janji yang kamu buat dengan Kurumi dan jangan membuat mereka yang menyayangi mu bersedih. Ini adalah pertarungan mu untuk menemukan jati dirimu! Suatu hari kita akan bertarung. Maka dari itu, jadilah kuat. Kita akan bertarung suatu hari nanti, ingat itu baik-baik.".


Nakano Wynox menaruh jari telunjuk dan jari tengah di tengah diantara kedua mataku. Nakano Wynox bilang, "Sekarang, kembalilah. Selamatkan gadis itu dan jangan buat dia menangis lagi.".


Setelah hal itu terjadi, aku kembali sadar. Dan aku tahu, ini bukanlah saatnya aku berakhir. Aku memegang pedangku, Levatein, dan berdiri. "Wah.., Sudah bangun ya. Kalau begitu.. waktunya bersenang\-senang." kata Kurumi. Dia mencondongkan pistolnya ke arahku dan bilang, "Selamat tinggal. Manusia Gagal...". Kurumi menembakkan pelurunya yang setara dengan kecepatan cahaya. Aku dapat membaca pergerakan pelurunya. Aku tidak tahu kenapa, tapi ini membantuku dalam mengalahkannya. Aku mencoba menebas peluru-peluru yang dilemparkan kepadaku dan berhasil. Aku tidak akan menggunakan teleportasi ku. Aku menghentakkan kakiku ke tanah dan sebuah batu berada di belakangku. Aku berpijak kepada itu dan mendorongnya dengan keras. Itu menghasilkan gaya dorong yang besar. Batu itu mengenai prajurit-prajurit Pion Hitam dan menghasilkan bom tanah.


Dia menghindari tebasan ku. Aku memutarkan badanku dan mencoba menebas Kurumi. Tapi dia berhasil menghindarinya. Kurumi turun dari Big Bang nya. Setelah turun, dia mundur satu loncatan jauh. Aku ikut turun ke bawah. Hari itu masih siang. Aku mengeluarkan Malam Merah secara tak sengaja. Aku pun sampai dibawah dan itu membuat tanah di sekitarku pecah layaknya gempa. "Ini kan?!" kata Anna yang sedang bertarung. "Malam merah ya.. Lumayan." kata Kurumi memujiku, tapi aku tak menjawabnya. Aku diam. Tiba-tiba ada listrik hitam menyambar ke arahku. Setelah Kurumi bisa melihatku lagi. Aku berlutut sambil memegang Belati ku yang dulu. "Itukan? Sabit Merah..." kata Kurumi.

__ADS_1


Sabit Merah adalah nama belati milikku dulu. Belati itu menguasai malam. Salah satu dari 10 Senjata Legendaris.


Aku mendorong tanah yang ada dibelakang ku dan mendorong itu kuat-kuat. Aku mengarah ke arah Kurumi berdiri. Kurumi berhasil menghindari serangan pertamaku. Dia kerepotan mengurus kecepatan milikku. Aku berlari lebih cepat lagi, melebihi kecepatan cahaya. Itu membuat Kurumi seperti melihat komet. Karena saking cepatnya kau berlari, aku membuat ekor kecepatan berwarna hitam merah layaknya komet itu sendiri.


Aku terus melakukannya hingga aku mencoba menyerangnya lagi dari atasnya. Tapi itu hanya mengenai mata kanannya saja. Dia kesakitan, darahnya berceceran. Mata kanannya telah hilang. Tapi itu sembuh kembali. Kurumi menggunakan Mata waktunya agar lukanya itu kembali ke waktu yang dulu sebelum terluka. Dia sangat merepotkan. Aku menghilang. Karena malam adalah bagian dari diriku, maka dari itu aku bisa melakukan apa saja. Aku menyerangnya dengan kecepatan penuh.


Aku mencoba menusukkan ke Mata Waktu milik Kurumi. Karena aku sangat dekat, Kurumi tak sempat menghindar. "Sampai sini saja ya?" kata Kurumi. Aku menusukkan pedang Levatein ke mata waktu Kurumi. Kemudian ada semacam mantra emas dari langit dan Kurumi berteriak kesakitan, "AAAAARRRRRRGGGGHHH!!". Ada cahaya emas dari langit dan aku telah melakukan tugasku. Anna melihatku sedang berbaring kelelahan. Malam merah pun berakhir. Dia membunuh musuh yang sedang dia hadapi dan berlari ke arahku. Sebelum aku pingsan, aku melihat Kurumi baru menangis dan bilang, "Kamu sudah berusaha keras ya.". Aku melihat Kurumi menunduk dan cahaya emas datang dan aku pun pingsan. Aku khawatir dengan ibuku karena ibuku sedang bertarung dengan anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


Aku menepati janjiku kepada Kurumi baru atau Anna, dan ini adalah kemenanganku. Tapi ada satu yang belum ku selesaikan yaitu membawa pulang anak kandung ibuku dan sepertinya aku mengingkarinya.


__ADS_2