
Aku bangun dari tidurku dan pergi bersiap, mandi, sarapan, dan kegiatan lainnya seperti orang-orang pada umumnya. Aku dan teman-temanku, termasuk Anna dan Artoria, bertemu di depan pintu kerajaan dan berteleportasi ke rumahku yang lama untuk mengantarkan keluargaku pulang.
Anna melihat tempat dimana aku tinggal walaupun hanya sementara. Anna melihat ke arahku yang sedang menatap lurus ke depan.
"Kalau begitu, sampai jumpa. Jaga dirimu baik-baik ya! Nakano!" Kata ibuku,
"Baiklah.. kalian juga... jaga diri kalian ya!" kataku. Ibuku dan ayahku membalasku dengan menganggukkan kepala mereka. "Um!".
Kami berteleportasi kembali ke depan Kerajaan Pion Putih untuk berpamitan kepada Anna, tetapi dia menolak.
"Hei, Nakano... itu.... anu... apakah aku bisa ikut dalam perjalananmu?" —Anna meminta kepadaku dengan rasa malunya,
"Tetapi bagaimana dengan kerajaanmu?" tanyaku kepadanya,
"Tidak apa-apa kalau hanya sebentar. Hanya saat kamu menyelesaikan masalahmu di Alam Semesta Devilains kok!" kata Anna. Aku melihat ke arah mata Anna yang berkaca-kaca ingin menangis meminta untuk ikut. Dia mengkhawatirkan aku. Dia takut kalau nanti ada sesuatu yang membahayakan diriku lagi seperti sebelumnya. Bibirnya itu merapat dan lebih rapat, tak tahan untuk menangis.
"Ah, kalau kamu melarangnya maka aku akan tinggal diam disini. Jangan khawatir kalau aku memberontak." Kata Anna sambil tersenyum. Aku tahu kalau itu adalah... senyum palsu. Dia ingin menangis, dan bila aku menolak permintaannya, apakah aku akan menjadi laki-laki terburuk? Aku tak bisa menolak permintaanya.
"Boleh kok..." kataku,
"Eh? kau tadi bilang apa?" —Anna terkejut,
"Kau boleh ikut... aku tak punya alasan untuk menolaknya. Lagian...", lanjut, "... kamu itu istri masa depanku... mana mungkin aku menolaknya.". Tanpa sepengetahuanku, itu membuat Anna semakin terpaku kepadaku. Matanya yang berkaca-kaca, memancarkan cahaya, tak percaya dengan apa yang dia dengar.
__ADS_1
Tohka, Sei, dan Artoria tak keberatan akan hal itu. Sehingga, sekarang akan semakin ramai dalam perjalanan.
"Semuanya..." kata Anna terharu. Disaat-saat itu, dia mengingat sesuatu yang harus dia lakukan. "Tunggu sebentar!" katanya. Kemudian dia lari masuk ke istana.
Setelah menunggu beberapa menit, dia keluar lagi dengan pakaian yang berbeda. Mata waktunya di tutup oleh penutup mata berwarna putih berbentuk hati. Pakaiannya lebih sedikit terbuka dibandingkan yang sebelumnya.
"Aku sudah siap! Ayo pergi." katanya tanpa memperdulikan anggapan kami terhadap pakaiannya.
Kami berteleportasi ke Organisasi Galaksi yang sekali lagi, berada di Ender End. Kami melihat lurus ke depan, kemudian berjalan masuk ke dalam. Entah kenapa rasanya saat kami berada di dalam, ada yang janggal disini.
"Entah kenapa... rasanya ada yang aneh disini." kata Sei,
"Aku juga demikian." kata Artoria.
Kami terus berjalan lurus. Setelah beberapa meter lurus ke depan, kami menemukannya, tempat teleportasi menuju ke Alam Semesta Devilains.
"Oh iya aku tidak terlalu tahu banyak tentang Devilains. Apa kalian tahu tentang itu?" kata Tohka,
"Devilains", lanjut Artoria, "Merupakan tempat tinggal bagi ras terburuk di antara ras lainnya, yaitu Ras Iblis. Ras iblis di percaya telah membunuh banyak ras dan bahkan menjualnya. Dipilih sebagai mahkluk terburuk, karena mereka tak bisa mengasihani mahkluk hidup yang sudah mereka siksa. Entah berapa banyak makhluk hidup yang telah dibunuh oleh mereka. Pada dahulu kala, ras ini pernah melakukan penjajahan terhadap suatu alam semesta yang dulu di huni oleh Firelaws. Alam semesta itu bernama... Netherwath. Kini ras itu termasuk ras yang terancam punah sama seperti ras Kelinci Bulan".
Seketika Sei berhenti berjalan, dia terkejut karena hal itu. Artoria berjalan ke arah Sei dan melihat ke arahnya. Artoria mengetahui bahwa... Sei adalah ras Firelaws yang terancam punah. Artoria melangkah mundur dan menundukkan kepala.
"Maaf karena telah menyinggungmu, Sei. Aku tak tahu kalau kamu adalah ras Firelaws. Maaf karena aku kurang perhatian!" kata Artoria penuh dengan rasa bersalah. Sei melihat ke arah Artoria.
__ADS_1
"Tidak apa-apa... aku juga sedikit terkejut karena aku tak diberi tahu akan hal itu." kata Sei,
"Ayo kalian berdua! nanti akan tertinggal!" kata Anna. Artoria dan Sei melihat ke arah aku, Anna, dan Tohka yang sudah berada di depan. Mereka berdua kemudian berlari menyusul kami bertiga.
"Ini berarti disini ada 2 ras yang terancam punah ya?" kata Tohka,
"Kau benar..." kata Sei yang sudah merasa baikan karena mengetahui kalau Tohka merupakan ras campuran Ender dan Kelinci Bulan yang sama terancam punah.
Kami berjalan terus ke depan dan belok ke kiri, yang dimana mengarah ke tempat teleportasi berada.
Kami melihat kalau lorong yang kami lalui sepi seperti lorong yang menuju ke Alam Semesta Fighterys entah kenapa. Sekarang, yang membuat aku penasaran adalah untuk apa orang-orang di ruang lobi berkumpul?
"Aku selalu ingin menanyakan ini, untuk apa orang-orang yang berada di lobi berkumpul?" tanyaku,
"Mereka itu biasanya berkumpul karena mereka memiliki kepentingan tersendiri atau pengunjung." jelas Tohka,
"Pengunjung?",
"Iya, beberapa alam semesta membiarkan orang lain dari alam semesta lain berkunjung ke alam semesta itu. Tapi kebanyakan orang yang datang itu adalah para petualang, penikmat liburan, dan orang-orang penting." Jelas Anna,
"Begitu ya... aku paham." kataku,
"Yang lebih penting lagi... kita akhirnya sampai!" kata Artoria.
__ADS_1
Kami berhenti melangkah dan melihat ke depan. Kami melihat tempat teleportasi menuju ke alam semesta Devilains. Tempat teleportasi itu terbuat dari tulang manusia dan ras lainnya. Ini membuktikan kalau mereka benar-benar jahat. Sekarang, apakah kami akan baik-baik saja... di sarang monster ini?