Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 72, Tidur Bersama...


__ADS_3

Tohka dapat melihat wajah Mashiro sedikit. Dia melihat wajahnya memucat, penuh keputusasaan dan trauma, seperti sesuatu yang buruk batu saja terjadi di depannya.


"Mashiro? Mashiro!" panggil Tohka.


Mashiro yang mendengar suaranya, bergerak sedikit.


"Mashiro! Ada apa? Apa yang telah terjadi?" tanya Tohka,


"Monster..." kata Mashiro dengan nada rendah,


"Eh? Apa kamu bilang? Monster? Mashiro! Jelaskan kepadaku detilnya! Oi!",


"..." tak ada respon darinya,


"Cih!".


Tohka berdiri dan keluar kamar. Dia memeriksa sekitar rumah dengan seksama. Setelah di periksa, Anehnya, tak ada apapun disana. Semuanya normal. Tak ada goresan dinding atau pun kerusakan lain.


(Apa yang Mashiro maksud? Monster? Apakah disekitar sini ada monster? Tetapi dengan kekuatan Paman Izayoi dan Bibi Usagi, seharusnya monster apapun bisa dikalahkan dengan mudah dan lagi Paman Izayoi adalah penguasa Alam Semesta seharusnya memiliki kekuatan yang amat besar. Sebenarnya monster apa yang dimaksud oleh Dik Mashiro?)


Tohka merasa heran dengan situasinya.


(Monster yang membuat penguasa Alam Semesta mengalami kekalahan adalah sesuatu yang mustahil. Setiap mahkluk hidup di suatu alam semesta ini memiliki kekuatan dibawah penguasanya, kecuali keturunannya sendiri. Mustahil bagi monster atau ras mahluk hidup lain di alam semesta ini memiliki kekuatan di atas Paman Izayoi, kecuali jika monster itu berasal dari alam semesta lain. Jika ada penguasa Alam Semesta lain menyerang, biasanya pasti kabarnya akan segera tersebar dengan cepat. Yang menyaksikan hanya Mashiro dan lagi tempat terpencil seperti ini pasti memang agak susah menyalurkan berita. Jika kabarnya menyebar, Mashiro lah yang menyebabkannya. Tetapi Mashiro.... Sebaiknya aku tanya langsung kepada yang pastinya.).


Tohka pergi berteleportasi ke istana Pion Putih. Dia berteleportasi ke tangga dimana aku dan dia berbincang sebentar, kemudian naik ke atas dan berlari menuju ke kamarku.


Saat sampai di depan kamarku, dia mengetuk pintu dengan keras sambil berteriak memanggil namaku.


"Nakano! Nakano!" Teriaknya.


Aku yang mendengar teriakannya itu, membuka pintu. Saat kubuka, Tohka mundur selangkah.


"Ada apa, Tohka? Dan... kenapa kamu mengenakan pakaian petualanganmu? Kita kan tidak akan kemanapun." kataku,


"Jangan banyak bicara, ikut aku ke rumahmu!" kata Tohka tergesa-gesa,


"Tunggu dulu, ada apa?",


"Ayo sudahlah ikut saja!".


Tohka memegang lengan kiri ku dan menarik ku dengan paksa. Aku menarik dengan arah yang berlawanan.


"Tidak akan! Jelaskan dulu situasinya! Aku tidak akan kemanapun bila itu tidak penting!" kataku,


"Ikut saja! Mashiro! Dia....".


Saat Tohka mengucapkan nama Mashiro, aku berhenti memberontak. Alhasil, aku tertarik Tohka dan jatuh bersamanya dengan posisi yang sangat dekat dengannya. Wajah Tohka memerah saat disadari kalau aku tanpa sengaja memegang dadanya. Aku yang menyadari hal itu, langsung berdiri dan menjauh.


"Maaf!" kataku.


Tohka berdiri dan memegangi dadanya, sambil menatapku dengan tajam dan wajah yang merona.


"Mesum!" katanya,


"Maaf!" kataku.


Dia menghela nafas dan mulai berdiri seperti biasa. Dia melihat ke arahku dengan serius.

__ADS_1


"Nakano dengar, ada sesuatu yang terjadi dengan keluargamu.",


Aku menatap ke arah Tohka dengan tajam dan serius. Dan mulailah pembicaraan yang serius.


"Ada apa dengan mereka?" tanyaku dengan nada serius,


"Orang tuamu, menghilang dan Mashiro bermuka pucat, tak mau keluar dari kamarnya.",


"Tunggu dulu.".


Aku masuk ke kamar dan menutup pintu. Tohka menunggu di depan pintu. Setelah beberapa detik, aku keluar dengan pedangku, Excusifer dan jas merah yang selalu kubawa saat berpetualang. Aku berjalan ke arah Tohka dan memegang tangannya. Aku dan Tohka kemudian berteleportasi ke rumah keluarga Sakamaki.


Saat sampai disana, aku mulai merasakan apa yang dirasakan Tohka saat pertama kali dia kesini, sepi dan tenang tak ada suara sedikitpun. Hanya ada suara angin yang berhembus kencang dan suara dedaunan pohon yang bergoyang.


Aku melihat pintu yang didobrak paksa oleh seseorang. Baru.


"Tohka, pintu itu perbuatan mu?" tanyaku,


"Ya. Pintunya awalnya terkunci jadi aku tak punya pilihan selain mendobrak masuk. Maaf!" jelas Tohka


"Begitu ya. Kalau begitu tak apa.",


"Eh?",


"Ayo!".


Aku dan Tohka masuk ke dalam. Tohka memegang lenganku dan menariknya ke kamarku yang dulu.


Saat sampai di depan kamar, aku melihat Mashiro duduk di atas kasur dengan badan bungkuk dan wajah yang menunduk, membuatku tak bisa melihat wajahnya.


"Kenapa, Mashiro?" tanyaku,


"Kakak....".


Dia menaikkan kepalanya. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa melihat wajahnya. Wajahnya pucat.


"Ada apa, Mashiro? Jika ada sesuatu, ceritakan kepada kakakmu ini." kataku,


"Kakak...".


Dia memasang wajah siap menangis dan menangis lah dia. Dia memelukku dengan cepat dan menangis di dalam pelukan.


"Ibu... Dan ayah.... mereka...." katanya sambil menangis.


Aku memeluknya kembali dan berharap pelukanku ini membuat nangisnya mereda.


Setelah beberapa menit setelahnya, Mashiro berhenti menangis. Dia tertidur di dalam pelukanku. Hari mulai malam. Aku mengangkatnya ke atas kasur dan membiarkannya tertidur. Aku dan Tohka keluar dari kamar dan menutup pintunya.


"Kalau begitu, kita tidur saja di rumah ini." kataku,


"Eh?! T-Tapi dikamar siapa..?" kata Tohka merona,


"Kita pakai saja kamar orang tuaku. Ada di balik dapur disana." kataku menunjuk ke sebuah pintu yang berdiri dekat dapur,


"Apakah itu kamar orang tuamu?",


"Ya. Kau pikir dimana lagi mereka tidur?",

__ADS_1


"Eh? Aku tidak tahu...".


Aku menghela nafas.


"Hah... Ayo masuk ke sana saja." kataku,


"Y-Ya." jawab Tohka dengan wajah yang memerah.


Aku dan Tohka berjalan ke depan pintu dekat dapur dan membukanya. Disana gelap. Ada kasur ganda, meja, lampu, dan cantolan baju disana. Aku berjalan mendekati lampu dan menyalakannya. Aku melepas jas petualangan dan pedangku, menaruhnya di cantolan baju dan pedangku di sisi ujung kamar. Dan aku berganti menjadi pakaian santai.


Tohka juga mulai melepaskan pakaian petualangannya dengan wajah memerah. Saat dia melepas baju, aku langsung bisa melihat dalamannya. Dia tak memakai baju santai.


Saat dia telah selesai melepaskan baju petualangannya, entah kenapa dia melepaskan kaitan baju dalamnya. Aku langsung menghentikannya.


"Tunggu dulu!" kataku.


Dia membalikkan badannya dengan wajah merah dan baku dalam yang dipegang di dadanya. Itu membuatnya sangat menawan dan imut.


"Ada apa, Nakano?" tanyanya dengan malu,


"Kenapa kamu melepaskan pakaianmu?" tanyaku,


"Itukan... kita akan melakukan "itu" kan?",


"Eh?".


Aku mulai mengingat kejadian sebelumnya dan aku tersadar apa yang membuat Tohka bertindak seperti itu.


"Bukan! Maksud dari perkataan ku sebelumnya adalah untuk beristirahat disini sampai besok. Lagian hari juga mulai malam kan?!",


"Ap—?!".


Tohka dengan cepat meraih bantal yang ada di dekatnya dan memukulku secara beruntun.


"Nakano bodoh! Bodoh! bodoh! bodoh! bodoh! Nakano bodoh bodoh bodoh BODOH!!!" katanya,


"Diam lah!".


Kata-kataku tak di dengar olehnya. Dia terus-terusan memukulku dengan bantal. Aku tak punya pilihan lain, aku mulai bertindak kasar.


"BERISIK!!" Teriakku.


Aku memegang bantal Tohka dan langsung memegang tangannya. Sayangnya, aku terpeleset dan jatuh bersama Tohka.


"Aduh..." gumamku


Saat aku membuka mata aku berada di atas Tohka sama seperti sebelumnya. Dia sangat dekat dan erotis. Dia telanjang dada. wajahku dan wajah Tohka memerah.


"Na...kano...?".


Dia mulai merangkul leherku dan memaksanya untuk mendekati wajahnya. Dia langsung menciumiku. Aku terkejut sesaat dan mulai menikmati ciumannya. Aku dan Tohka lepas, dan menatap ke satu sama lain.


"Nakano... Cinta..." katanya,


"Aku juga...".


Aku dan Tohka mulai berciuman lagi lebih lama dibandingkan aku melakukannya dengan Anna.

__ADS_1


__ADS_2