
Sei, Keiko, dan Kurumi terkejut mendengar apa yang aku, Sakamaki Nakano, katakan.
Apakah... aku mengatakan sesuatu yang salah... atau waktunya saja yang tidak pas? Aku melihat ke arah Artoria yang menunduk ke bawah. Dia kemudian melihat ke arahku dengan wajah merona melirik ke arah lain. Dia malu melihat ke arah mataku.
"HAAAAHHH?!!!? KALIAN BERDUA TELAH MELAKUKANNYA?!?!!" Tanya Keiko sambil berteriak.
Aku terkejut sedikit. Keiko memasang muka kesal dan marah.
"Kalian! Kalian tahu umur kalian bukan?!! Kalian bahkan belum menikah sudah main seperti itu?!" tanya Keiko,
"M-maaf... Ini salahku karena... Aku yang memintanya melakukannya! Jadi jangan salahkan Nakano! Hukum aku saja!",
"Baiklah jika Artoria memang yang memintanya aku bisa abaikan itu, aku merasa juga Artoria yang paling kurang diperhatikan dari pada yang lainnya. Tapi! Nakano! Seharusnya kamu menolaknya!",
"Aku? Mana bisa?! Itu adalah permintaan dari salah satu tunangan ku! Lagian juga... bukannya bagus dalam mempererat hubungan antar kekasih?!",
"MANA ADA KAMU HANYA ALASAN! LAGIAN KALIAN MELAKUKANNYA TANPA MEMAKAI KO***M KAH?!!".
(Kata-kata barusan disensor karena menurut saya selaku author (Yang masih dini:v) kata-kata itu kurang berkenan.).
"Baiklah, baiklah! Aku mengaku salah! Aku tahu kalau yang aku lakukan salah! Tetapi pada ujungnya kalian bertiga juga akan melakukannya denganku dimasa depan!",
".... Eh?".
Ini kemenangan ku Keiko! Itu memang faktanya!
Keiko memasang wajah seperti bersalah. Dia memikirkan kembali apa yang barusan dia ucapkan. Dia tak bisa lagi berdebat denganku.
Aku melihat ke arah Sei dan terkejut. Sei seperti mayat mati yang berputus asa. Matanya bahkan seperti ikan mati. Dia seperti... tenggelam dalam kecemburuan dan tak kepercayaan.
"Sei... kau baik-baik saja?" tanyaku.
Sei memalingkan wajahnya. Bahkan sifatnya saja ikut berubah.
"Eh? Ah... Tidak... Aku tidak baik-baik saja.".
Tetapi kejujurannya masih tetap seperti biasanya.
"B-begitu ya...".
Sepertinya aku melakukan kesalahan dimana aku terlalu jujur kali ini.
__ADS_1
"Ehem... Baiklah... Sebaiknya kita sudahi saja apa yang terjadi malam ini...",
"Mhm.." jawab mereka semua mengangguk.
Artoria seperti teringat sesuatu.
"Ah... Dimana Sumiko dan Anna?" tanya Artoria,
"Hm? Mereka? Bukannya mereka ada di belakangku?" tanyaku.
Semuanya langsung melihat ke belakangku dan benar saja apa yang mereka lihat. Sumiko dan Anna berdiri disana. Anna sambil memasang wajah terkejut berlebihan.
Dia kemudian sadar lalu jalan mendekatiku. Aku tiba-tiba merasa takut.
"A-pa-yang-telah-kamu-la-ku-kan?!" tanyanya.
Dia memaksaku mundur sampai ke Kurumi. Kurumi menahan tubuhku. Anna lalu melihat ke arah Kurumi dan Kurumi memasang ekspresi aneh seperti dia tak tahu harus bereskpresi seperti apa. Anna merasa semua itu normal. Dia menarik tubuhnya, mendekati Kurumi dan memeluknya.
"Kurumi maaf!",
"Eh? A-Ada apa?",
"Aku telah mendengar semuanya dari Nakano. Apa yang kamu lakukan untukku... Apa yang kamu lakukan selama ini... apa yang kamu derita selama ini... Maaf! Aku mengira kamu membenciku... Maaf! Aku telat menyadarinya! Harusnya aku merasa terheran-heran saat pemilihan calon pemimpin kerajaan itu... Sudah kuduga ada yang aneh! Dan tak ku sangka kalau kamu yang membantuku dibalik bayang... Maaf! Aku membuatmu menderita selama ini!",
Kurumi tersenyum bahagia dan lega.
"Mhm... aku maafkan... aku juga seharusnya minta maaf karena telah melukaimu saat pertarungan itu...",
"Apa yang kamu maksud?! Itu sepadan dengan apa yang aku lakukan kepadamu! Kamu hampir kehilangan nyawamu karena diriku!",
"Sudahlah... Seharusnya aku lebih terbuka terhadap perasaanmu...".
Aku mendekati Kurumi dan Anna yang berpelukan dan meminta maaf. Anna melepaskan pelukannya dan membiarkan aku berbicara kepada Kurumi. Aku memegang tangan Kurumi.
"Eh? Nakano..?",
"Kurumi... Maaf karena aku telah membunuhmu saat perang itu...",
"Lagi? Kamu sudah meminta maaf sebanyak 5 kali loh tentang hal yang sama...",
"Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri...",
__ADS_1
"Sudahlah... Aku sudah memaafkanmu dari lama.. Lagian kamu tak tahu apapun saat itu..." kata Kurumi sambil tersenyum,
"Karena itu.. Untuk menebus kesalahan yang aku buat... Kurumi... aku akan membahagiakanmu! Sama seperti mereka berlima!",
"Eh?".
Kurumi terkejut, dia memalingkan wajahnya yang memerah ke arah lain.
"Maukah kamu menerimanya?!" tanyaku seperti memohon.
Mulutnya bergerak dengan wajahnya yang merona.
"I-ini terlalu tiba-tiba... Aku tak yakin bisa menerimanya... maksudku... apakah mereka berlima menerimaku..?",
"Aku sih tidak masalah..." kata Anna,
"Keputusan Nakano adalah hal mutlak bagiku.." kata Artoria,
"Asal tak macam-macam itu sudah cukup." kata Keiko,
"Semua keputusan Nakano... aku mendukungnya!" kata Sei,
"B-bagaimana dengan Tohka..?" tanya Kurumi,
"Aku yakin dia juga menerimanya! Keputusan ada ditangan mu... Jika kamu menolaknya maka aku hargai keputusanmu itu.",
"A-aku...".
Kurumi melihat ke sekitarnya yang menunggu jawaban darinya.
"A-aku harus memikirkannya terlebih dahulu!" kata Kurumi lalu menghilang.
Kurumi bisa menghilang?
"Putar balik waktu." kata Keiko,
"Eh?",
"Kemampuan mata waktu yang dapat membawa apapun ke masa lalu, tetapi tidak ke masa depan.".
Contohnya saja, jika kamu telah pergi ke suatu tempat dan ingin mengunjungi tempat itu lagi kamu bisa kesana dengan memutar balik waktu ke waktu kamu berada disana tanpa merubah yang ada di sekitarmu juga. Hampir mirip konsepnya dengan kemampuan teleportasi milikku.
__ADS_1
Kurasa aku hanya tinggal menunggu jawaban dari Kurumi... dan selanjutnya..
Aku merenggangkan tubuhku. Setelah jawaban Kurumi keluar, kami akan pergi melanjutkan perjalanan kami. Kira-kira... kemana perjalanan kita selanjutnya? Aku tak sabar...