Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 74, Tangga yang Menuju Ruang Bawah Tanah


__ADS_3

Aku meletakkan kotak P3K yang sebelumnya aku gunakan untuk mengobati luka Tohka di kamar orang tuaku. Aku tahu suatu saat nanti kotak itu akan dibutuhkan disini. Teman-temanku mungkin sudah sadar kalau aku dan Tohka menghilang dan obat P3K di kamarku menghilang tetapi aku tahu Anna takkan mempedulikan kotak itu. Maaf teman-temanku, aku pergi tanpa bilang-bilang.


Aku kemudian berjalan ke kursi tempat aku duduk sebelumnya. Aku melihat ke arah Tohka yang sedang memasak dengan normalnya. Aku berpikir kalau kami adalah pasangan yang baru nikah. Tohka mungkin berpikir seperti itu juga. Benar-benar...


"Bagaimana lukanya?" tanyaku,


"Ah, ya, aku baik-baik saja. Lukanya sudah tak mengalir lagi. Terimakasih Nakano." kata Tohka,


"Sama-sama.",


"Kau tahu Nakano, kau seharusnya tak perlu panik seperti itu hanya untuk luka kecil saja. Kalau luka seperti itu, aku baik-baik saja.",


"Baik-baik mohon maafkan saya.".


Tohka tertawa kecil. Dan mulai melanjutkan masakannya. Sedangkan, aku menunggu di ruang makan melamun ingin bertanya tentang naga bayangan, tetapi aku berpikir dua kali dan memutuskan untuk tidak menanyakannya. Reaksi Tohka sebelumnya, aku tahu dimasa lalunya ada sesuatu yang tragis, aku takut dia akan teringat kembali dan pingsan lagi. Aku pun mengurung niatku untuk bertanya. Tetapi saat aku mengurung niatku, Tohka mulai berbicara.


"Maaf tentang kemarin malam. Aku tiba-tiba pingsan begitu saja." katanya,


"Ya, lupakan saja. Aku tahu kamu tidak bisa mengungkapkannya sembarangan kan?" tanyaku,


"Tidak bukan itu. Aku memiliki kisah kelam yang berhubungan dengan Naga Bayangan.",


"...",


"Itu bukan berarti aku tak bisa menceritakannya loh! Hanya saja...",


"Hanya saja?",


"Hanya saja.... setiap aku membicarakan tentang hal itu, aku teringat tentang hal itu juga. Aku ingin melupakannya tetapi tak bisa.",


"Lupakan saja. Aku juga tak akan menanyai hal itu padamu dengan paksa. Jika itu adakah sesuatu yang tak mau kau bicarakan, jangan dibicarakan saja.",


"Tapi....",


"Lupakan lah. Aku tahu ayah dan ibuku akan baik-baik saja. Mereka bukan orang biasa.",


"Ya...".


Tohka mengambil sesuatu dan berjalan ke arahku dengan sebuah piring di tangannya. Dia meletakkannya di meja dan mengambil yang lain dari dapur. Dia mengambil 2 piring sekaligus dan meletakkannya di meja dan pergi mengambil satu lagi dan meletakkannya di atas meja. Disaat setelah Tohka meletakkan semuanya, pintu kamarku terbuka dan Mashiro keluar dari balik pintu. Dia berjalan ke ruang makan dan duduk di sampingku.


Tohka kembali ke dapur, melepas celemek yang dia pakai saat masak dan menggantungnya di dinding dapur. Lalu, dia berjalan ke ruang makan dan duduk di depanku. Kami semua duduk dan mengucapkan kata-kata yang sama.


"Selamat makan.",

__ADS_1


"Selamat makan.",


"Selamat makan.".


Kami pun makan disana sampai kenyang. Daging, sayur, dan Ikan, semuanya ada disana dan semuanya enak. Tak ku sangka Tohka bisa memasak. Kukira dia sama seperti Artoria, menjalani hidupnya dengan satu jalan saja.


"Tak ku sangka, kak Tohka bisa memasak." kata Mashiro,


"Tak sopan kau. Aku ini memiliki banyak pengalaman tersembunyi. Kau seharusnya berterimakasih karena kubiarkan makanan!",


"Waahah... Galak.".


Tohka memasang wajah jengkel dan kesalnya. Aku menelan makanan yang aku kunyah dan berbicara kepada mereka berdua.


"Yang lebih tak sopan adalah kalian berdua yang berbicara saat makan.",


"Maaf.",


"Maaf." kata mereka berdua secara bersamaan.


Kami melanjutkan makan bersama kami sampai makanannya habis.


Saat setelah makanannya habis. Kami bersamaan mengucapkan kalimat yang sama lagi.


"Terimakasih atas makanannya.",


"Terimakasih atas makanannya.",


"Terimakasih Tohka karena telah memasak menggantikan ibu kami." kataku,


"Tidak apa. Aku juga salah satu calon istrimu jadi... ya... itu...".


Aku tersenyum ke arah Tohka.


"Ya. Aku tahu.".


Aku dan Tohka bertatapan dengan mesranya. Tetapi ditengah-tengah kemesraan itu, Mashiro mengacau. Dia merasa jengkel dan berpura-pura batuk sekali.


"Ehemm... Jadi, kak Tohka. Bisakah kamu memberi tahu kami semua tentang Naga Hitam?".


Perhatianku dan Tohka terpancing ke Mashiro. Tohka pun menjawab pertanyaan darinya.


"Ya. Naga Bayangan adalah Naga yang diselimuti oleh bayang hitam. Tak ada yang pernah melihat kulit aslinya. Dia berekor 4 dengan tanduk menjulang ke belakang dan 4 sayang, kiri 2 dan kanan 2. Dulu ada orang yang menantangnya sendirian dan berakhir dengan kematian. Dia menantangnya demi mendapatkan sesuatu. Dan dia adalah...",

__ADS_1


"Si mata putih Herobrain, bukan?" tanyaku.


Tohka terdiam sejenak dan kemudian melanjutkan penjelasannya.


"Ya. itu benar. Aku dan Kakak Nakano, Maname, dulu diadopsi dan di besarkan olehnya. Aku dan Maname dilatih disana oleh penguasa petir itu, tetapi suatu saat Herobrain meninggalkan surat untuk kami dan bertuliskan:


*Maname, Tohka, aku akan pergi dan mungkin takkan pernah kembali. Jaga diri kalian selama aku pergi. Kita mungkin takkan bertemu lagi selamanya. Jadilah kuat dan Maname, temukan adikmu dan jaga dia sampai dia besar. Saat dia besar, mungkin dia akan sangat mirip dengan ibunya. Selamat Tinggal.


Salam, Penguasa Elemen Petir, Herobrain*.


Begitulah. Hanya itu yang aku tahu. Dan juga monster ini menurut legendanya telah menghancurkan organisasi Galaksi 12 juta tahun yang lalu. Dan bagi mahkluk hidup di seluruh alam semesta saat itu, mereka menyebutnya kiamat. Hanya itu saja." Jelas Tohka,


"Begitu ya. Penghancur Galaksi...." kataku,


"Kalau begitu terimakasih. Maaf telah memaksamu menjawab pertanyaan dariku, Kakak Tohka." kata Mashiro,


"Tak apa. Aku juga tahu cepat atau lambat kalian akan segera tahu tentang hal ini. Jadi aku sudah siap mental.",


"Begitu kah.".


Kami diam merenung. Mashiro mengubah suasananya dengan bertanya kepadaku.


"Kakak, bagaimana selanjutnya?" tanyanya,


"Entahlah. Kita tak bisa kemana-mana sampai pertarungan alam semesta berakhir. Kita tak tahu dimana pertarungan itu berlangsung. Kita hanya bisa mendoakan mereka dari sini, berharap tak ada korban yang jatuh dalam pertarungan itu." kataku,


"Nakano.....".


Kami bertiga merenung disana. Kami tak tahu harus melakukan apa. Tentu saja kami tak bisa tinggal diam saat itu, tetapi apa yang harus kami lakukan? Apakah kami hanya bisa berdoa dari sini?


"Oh iya Kakak. Aku ingin menunjukkan sesuatu." kata Mashiro,


"Apa?" tanyaku,


"Ayo ikut aku." kata Mashiro.


Mashiro turun dari kursinya dan berjalan ke belakang samping pintu kamar orang tuaku.


Saat sampai disana, dia mengangkat kakinya dan mengehentikan kakinya dengan keras. Sebuah pintu menuju kebawah pun langsung terbentuk. Dari bawah, mengeluarkan energi yang sangat tak asing bagiku. Energinya sangat tak asing, seperti ku kenali di suatu tempat.


"Mashiro, ini apa?" tanyaku,


"Ini adalah tangga menuju ke ruang bawah tanah.",

__ADS_1


"Tangga?".


Aku melihat sekali lagi dan benar, ada tangga menuju ke bawah disana. Sebenarnya, apa yang ingin ditunjukkan oleh Mashiro?


__ADS_2