
"Nakano.... Wynox?" kata Magicufer ketakutan. Dia berdiri di belakangku karena ketakutannya.
Aku sempat terkejut akan hal itu. Aku diam berdiri tegak menatap tajam ke arah Nakano Wynox. Nakano Wynox diam dengan rambut yang menutupi kedua matanya. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
"Kau terkejut ya? Melihat dirimu yang lama berdiri tepat di depanmu." kata Triton. Triton kemudian tersenyum sombong dan meremehkan ku dengan kata-kata.
"Tak mungkin d**irimu yang palsu itu bisa mengalahkan di**rimu yang asli!",
"Bagaimana bisa? Nakano Wynox itu seharusnya sudah tiada!" kata Magicufer memotong suasana,
"Aku memanggilnya!",
"Apa maksudmu?" tanyaku,
"Maksudku adalah... aku memanggilnya melalui ritual. Aku tahu suatu hari kamu akan datang kesini!",
"Itu artinya... ini semua jebakanmu ya?",
"Ya... seharusnya kamu tidak kesini hanya untuk menyelamatkan gadis bodoh yang ada disana!",
"Kalau begitu, kenapa Nakano Wynox menuruti kata-katamu?",
"Sederhana, aku menjelaskan kalau dirinya akan bereinkarnasi dan akan merebut istri-istrinya dan juga...",
"Dan juga apa?",
"Entahlah... mana mungkin aku bilang kepadamu kan?",
"Jahat!" kata Magicufer menyela pembicaraan,
"Ya... aku suka kata-kata itu. Kita ini iblis! Sudah seharusnya bagi kita untuk menjadi Jahat!".
Kata-kata yang barusan diucapkan oleh Triton, membuat Magicufer berpikir 2 kali. Kenapa dia meminta bantuan, Kenapa dia memilih untuk menjadi istri dari musuhnya, kata-kata itu berlarian di kepala Magicufer membuat dia merenungkan kembali tentang hal-hal itu.
__ADS_1
Aku tak tahu kalau Magicufer akan berpikir akan hal itu. Magicufer terdiam memikirkan kembali hal yang membuatnya buta akan kejahatan.
Aku menatap ke arah Nakano Wynox yang berdiri menundukkan kepala. Aku tak mengucapkan sepatah katapun. Nakano Wynox terus menundukkan kepalanya dan tak mengucapkan sepatah katapun. Aku mulai bicara kepadanya.
"Kenapa, Nakan-- bukan Wynox?." —Nakano Wynox mendengar akan hal itu. Dia mengangkat kepalanya dengan mata yang ditutupi oleh rambut merah gelapnya. Aku bertanya sekali lagi.
"Kenapa, Wynox? Kupikir kamu adalah orang yang cerdas mengambil keputusan, kenapa kamu mengambil jalan ini?",
"Untuk menyingkirkanmu..." jawabnya dengan nada yang rendah,
"Kenapa?",
"Kau sudah dengar bukan?",
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?",
"Entahlah... tapi rasanya aku sangat kesal denganmu... aku ingin kau tiada.",
"Begitu ya...".
"Kalau begitu... apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanyaku,
"..." —tak ada jawaban darinya.
Dia mengeluarkan belatinya, Sabit Merah, dari balik jubahnya. Seketika, tanah yang ada di bawahku membentuk sebuah balok yang panjang. Balok itu mendorongku dengan keras hingga terpental ke atas atap. Atap itu tak bisa menahan baloknya, sehingga terjadilah lubang. Baloknya sangatlah panjang.
Aku berteleportasi ke tanah yang berada di bawahku. Aku memandang lurus ke depan dan melihat pedang cahaya dan gelap menyerang ke arahku. Aku pun berteleportasi ke samping sebelum itu mengenaiku.
Setelah berteleportasi, ada sebuah petir dahsyat menyerangku dari atas. Dan lagi, aku berteleportasi. Melawan orang yang bisa mengendalikan seluruh elemen memang merepotkan.
Aku berlari ke arah Wynox berdiri. Kemudian pedang cahaya dan gelap secara bersamaan menyerangku. Aku berteleportasi ke atas Wynox dan mencoba menyerangnya. Tapi seranganku ditangkis olehnya. Aku terjatuh kebawah.
Aku menginjak tanah dan menunduk. Aku menyerang ke arah dada nya tetapi ditangkis. Tetapi seranganku itu melemparkan belatinya. Aku pikir ini kesempatanku. Aku berputar dan menyerangnya lagi. Seranganku tak mengenai tubuhnya, melainkan jubahnya dan penutup matanya. Seperti dugaan ku, saat penutupnya terlepas dari matanya, dia menunjukkan mata waktunya. Tetapi kenapa seranganku tak mengenainya?
__ADS_1
Wynox kemudian meloncat ke belakang, tepat dimana belatinya terlempar. Di sana sepi dan senyap.
Secara cepat, aku dan Wynox mengambil posisi siap menyerang. Kami menundukkan tubuh kami dan mulai menyerang satu sama lain. Aku mencoba menebasnya tetapi ditangkis olehnya, sama seperti serangannya kepadaku.
Kami terdorong ke belakang karena hantaman terakhir. Wynox menggunakan elemen tanah untuk menyerangku. Seketika di bawahku, ada duri yang muncul. Aku berlari ke samping tetapi duri-duri yang tajam itu mengincarku. Aku berlari ke arah Wynox.
Seperti dugaan ku, dia akan menangkis ku dan terdorong ke belakang. Dia berlari ke arahku dan menyerangku sama seperti sebelumnya. Aku menangkis serangannya dan dia menangkis seranganku.
Dan akhirnya, kami tiba di serangan akhir. Kami menyerang satu sama lain, menyebabkannya adu kekuatan.
"H-hebat..." gumam Sei.
Dalam pertarungan, kami menyerang satu sama lain dengan serius. Kami tak berbicara ataupun bercanda. Kami hanya menatap satu sama lain dengan tajam dan sinis, saling membenci.
Dalam adu kekuatan itu, kami berakhir seimbang. Kami meloncat satu kali kebelakang.
"Nakano!" kata Magicufer. Dia muncul dari tembok di belakangku dan berlari ke arahku.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada cemas,
"Ya... aku baik-baik saja." Jawabku.
Nakano Wynox mulai berbicara.
"Hei reinkarnasi ku... Kau akan menyesal loh jika kau bekerja sama dengan wanita itu.",
"Apa maksudmu?" tanyaku,
"..." —Tak ada jawaban darinya. Apa maksudnya?
Seketika ada sesuatu yang menusukku. Magicufer menusukku dengan belati. Apa yang terjadi?
"Hei, Apakah kau tahu Nakano... bahwa iblis itu memang terlahir untuk menjadi seorang penjahat. Sudah kuduga, kita... tak bisa bersama... Selamat tinggal Nakano..." Kata Magicufer kepadaku. Aku melihat ke arah Wynox. Aku mengerti apa yang dia maksud barusan. Aku melihat ke arah teman-temanku... berteriak sesuatu... tetapi aku tak mendengarnya. Kejadian ini sama seperti sebelumnya... yang berbeda adalah... aku tak mungkin kehilangan kendali.
__ADS_1
"NAKANO!" Teriak Teman-temanku.