Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 111, Princess of Ender l


__ADS_3

Setelah pembicaraan itu, aku keluar dari tenda dan membiarkan Anna beristirahat. Aku tak tahu ingin melakukan apa, aku bosan. Ini gara-gara author nya yang gak punya ide.


(Kata-katamu menusuk)


Aku memutuskan untuk mencari Liyu untuk melatihnya lagi, itupun jika dia mau. Akhir-akhir Liyu banyak belajar dari kesalahan. Dia lebih banyak latihan sendiri ketimbang denganku. Demi mengalahkan yang kuat kadang kita perlu riset lebih lanjut untuk menjadi lebih kuat. Berlatih, mencari jalan keluar masalahnya, yah... belajar dari kesalahan.


Aku berjalan ke belakang kerajaan dan melihat Liyu sedang latihan dengan tampang serius. Aku melihat gerakannya yang mulai berubah semenjak pertama kali aku melawannya. Entah aku merasa sedih atau bangga kepada pelatihannya. Aku merasa sedih karena Liyu sedang sibuk dan bangga karena dia semakin berkembang pesat.


Aku pergi meninggalkannya terus berlatih dan kembali ke pelatihan prajurit yang sebelumnya dijaga oleh Tohka. Saat hampir sampai, aku melihat para prajurit.... saling membunuh. Aku terkejut melihat hal itu, aku lalu melihat ke arah Tohka yang hanya diam saja dengan poni kanan rambutnya berubah ungu. Aku berlari ke dekat pelatihan itu dan menghentikan tindakan mereka.


"WOI! BERHENTI!!!!" teriakku.


Semua prajurit disana langsung berhenti membunuh. Aku merasa sedikit lega. Tetapi, ada yang aneh. Para prajurit itu melihat ke arahku dengan mata yang berwarna hitam seperti orang mati. Mereka semua berjalan sempoyongan dengan pelan ke arahku.


"OI! BERHENTI!!!!".


Mereka tak berhenti berjalan kemari. Aku tak tahu apa yang terjadi, aku tak tahu situasinya. Aku mulai sedikit panik.


"OI! SUDAH KUBILANG BERHENTI BUKAN?!!?!" kataku.


Mereka tetap tak berhenti. Aku melihat ke arah Tohka yang hanya diam menunduk ke bawah.


"Oi, TOHKA! Lakukan sesuatu!! Apa yang terjadi?!",


"....".


Dia tak menjawab ku. Aku tak memiliki pilihan lain selain menghabisi mereka semua. Aku menarik pedangku, siap diposisi, dan menyerang semua prajurit yang berjumlah 120 orang itu.


Satu tebasan mengenai tangan salah satu prajurit sampai tangannya itu putus. Darahnya mengalir deras. Aku berharap dari lukanya itu, dia bisa kembali sadar. Tetapi harapan itu tak muncul. Prajurit itu tetap menyerangku, dan aku refleks tanpa sengaja malah membunuhnya. Setelah itu, para prajurit itu tetap menyerangku seakan-akan kematian bukanlah hal yang mereka takuti. Mereka menyerangku bersamaan, karena aku panik karena tak tahu apa yang terjadi disana aku malah membunuh mereka semua.

__ADS_1


Aku tak memiliki rasa bersalah, ya tentu saja karena aku ini dulunya juga seorang pembunuh bersama Nakano... Wynox maksudku.


Aku terengah-engah kelelahan karena panik. Aku tak tahu apa yang terjadi disini. Aku melihat ke arah Tohka yang dari tadi diam sambil menundukkan kepalanya. Aku berjalan ke arahnya dengan baju yang hampir sebagiannya diselimuti darah dan wajahku yang ada sedikit bercak darah.


Aku berjalan mendekati Tohka, lalu menyentuh bahu kirinya dengan telapak tangan yang dilapisi oleh sarung tangan besar dari besi.


"Tohka!" panggilku.


Saat aku baru menyentuhnya beberapa detik. Tohka bereaksi dengan menyingkirkan tanganku darinya. Ini aneh, Tohka tak pernah kasar seperti ini sebelumnya.


"Menyingkir dariku." katanya dengan nada sinis.


Aku terkejut dengan sikapnya. Aku melihat ke arah telapak tanganku, tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Tohka bersikap dingin?


"Apa maksudmu?! Ada apa denganmu? Tohka, kau masih Tohka yang aku kenal bukan?",


"...",


Tangan kiri ku yang memegang pedang langsung mengangkat pedangku ke atas sejajar dengan perutku. Tangan kananku memegang pedang lagi sambil mendorong diriku sendiri mendekati Tohka. Aku berniat menyerangnya.


Aku mengayunkan pedangku ke kanan, tetapi Tohka menahan serangan ku dengan katana miliknya dengan cepat. Dia meloncat cukup jauh dariku. Aku tak tahu apa yang terjadi kepadanya tetapi ini aku tak begitu peduli. Apakah prajurit yang bertingkah seperti zombie ini ulahnya?


Aku merasakan hawa keberadaan yang lain selain aku dan Tohka. Hawa keberadaan yang kukenal, mirip seperti... Keiko! Keiko pun muncul dari balik dinding istana yang tak jauh di belakangku. Keiko melihat ke arah Tohka dan tertegun.


Keiko terkejut seperti sedang melihat sesosok yang dia takuti. Mulutnya pun mulai bergerak dengan gemetar.


".....Princess.... of Ender...?".


Princess of Ender? Maksudnya adalah Putri dari ras Ender? Bukankah putrinya adalah kakak Nakano? Apa yang sebenarnya terjadi?

__ADS_1


Aku melihat ke arah Tohka dengan seksama. Angin yang bertiup kencang membuat rambut kami bertiga berterbangan, tetapi aku mendapatkan keuntungan. Aku bisa melihat matanya!


Aku melihat ke arah Tohka sekali lagi ke arah matanya. Matanya berwarna ungu menyala dengan warna hitam sebagai warna pupil nya. Memang benar, dia seperti Putri ras Ender.


"Apa yang sedang... kau lakukan disini?" tanya Keiko,


"....".


Tohka tak menjawab. Dia langsung berteleportasi pergi entah kemana. Kami telah kehilangan 2 orang yang bertarung di baris depan, Tohka dan Nakano. Selanjutnya siapa? Sei?


Aku berbalik melihat ke arah Keiko yang masih tertegun. Sebelum aku mengeluarkan kata-kata, Keiko mulai bicara duluan.


"Kenapa... kenapa dia masih hidup?" tanya Keiko,


"Eh?" gumam ku,


"Kenapa... kenapa kamu mengabaikan ku?",


"Siapa? Aku?" tanyaku balik,


".... Bukan kau... tapi dia.. sang Putri.",


"Itulah yang ingin aku tanyakan. Apa hubunganmu dengan dia?",


"Hubunganku? Tak ada. Kami bahkan tak saling kenal. Aku hanya mengenalnya karena—",


"Kau berbohong. Jelas kamu memiliki hubungan dengannya. Jika tidak, kamu takkan terkejut sampai terdiam seperti itu. Dan nada bicaramu itu mudah sekali dicurigai.",


"....",

__ADS_1


"Ceritakan, apa hubunganmu dengannya.",


"Dia itu... dulu.... Sahabatku... Sahabatku yang... telah lama... tiada.".


__ADS_2