
Kami menutup mata sambil melangkah ke depan masuk ke portal.
Saat kami sudah memasuki portalnya, kami tak merasakan apapun dibawah kami. Kami tak merasakan air juga. Yang kami rasakan hanyalah angin yang berasal dari kaki kami.
Kami membuka mata dan menyadari kalau kami berada di udara.
"Whoa! Tunggu! Kita ada di udara?" tanya Keiko,
"Dengan melihatnya kamu juga tahukan.." kataku,
"Kenapa kita ada di udara?!",
"Entah lah.",
"Deh lagian... KENAPA KAMU BISA SETENANG INI?!",
"Aku merasa... kalau ini tidak asli..",
"Hah? Kita ini ada di udara, khawatir lah sedikit!",
"...".
Aku pun melihat ke arah Keiko dengan rasa sedikit bersalah karena tak membaca situasi dan dicampur oleh rasa aneh. Aku kembali melihat ke bawah. Dibawah sepertinya air, karena warnanya biru. Aku melihat ke sekeliling dan melihat ada beberapa pulau kecil, tetapi anehnya aku tak melihat pulau besar di manapun.
Kami berada di ketinggian sekitar 3000 meter di atas permukaan laut.. mungkin.. Aku bisa membawa Keiko untuk berteleportasi ke pulau yang ada di Dunia ini, tetapi entah kenapa aku merasakan firasat buruk.
Kamipun telah sampai di sekitar 2500 di atas permukaan laut. Aku menunggu kami sampai pada ketinggian 2000 meter. Disaat itu, Keiko memanggilku.
"Woi, Nakano!" Panggil Keiko.
Aku melihat ke arah Keiko dan meladeninya.
"Kau tidak melakukan apa-apa kah? Kita akan mati loh.",
"Berisik. Tinggal 500 meter lagi. Kemampuan teleportasi ini juga tak bisa digunakan sembarangan kau tahu?".
Keiko menghela nafas karena bosan. Aku melihat ke arah Keiko dan bertanya tentang sesuatu.
"Tetapi... Kenapa aku merasa kita sangat lambat di udara?" tanyaku,
"Hoh?? Kamu tidak tahukah kalau Planet yang ada di bawah kita ini memiliki daya tarik gravitasi yang kecil? Kalau dari ketinggian dari sini, mungkin sekitar 3 menit lagi kita akan sampai di permukaan laut." Jelas Keiko,
"Begitu kah..".
Aku melihat ke bawah kembali. Keiko menguap karena bosan, kemudian dia menyadari sesuatu energi besar datang ke arah kami.
"Nakano... kamu merasakannya?" tanyanya,
__ADS_1
"Ya. Aku menyadarinya. Energi ini.. sangat besar.",
"Ya, kau benar. Dan lagi... itu datang menuju ke tempat kita berada.".
Seketika, kami melihat sebuah pantulan cahaya hijau dari bawah. Dan dengan cepat, sebuah laser berwarna hijau yang besar dan panjang datang menuju ke arah kami. Tetapi, beruntung atau tidak, laser itu meleset dan pergi jauh ke ujung bintang. Kami pun melihat sebuah ledakan Supernova dari bawah situ.
Karena kami merasa khawatir kalau laser semacam itu akan datang lagi, kami berteleportasi ke pulau terdekat dengan tempat kami berada.
Kami berteleportasi ke pulau tak berpenghuni yang tak begitu besar. Kami melihat banyak tumbuhan baru dan hutan baru. Langit di atas kami, cerah tak berawan. Sedangkan awan yang tadi terkena laser itu, bolong di tengah. Benar-benar energi yang mengerikan.
Kami melihat sekeliling, dunia penuh dengan lautan biru yang indah. Cahaya yang memantul dari air laut di depan kami. Dan disaat itu, kami menyadari diri kami telah menginjakkan kaki kami di dunia yang diselimuti lautan biru.
"Dimana ini?" tanya Keiko,
"Sepertinya ini di pulau yang aku lihat dari atas." jawabku,
"Awan cerah... Tumbuhan yang tidak berbahaya... udara segar yang dipenuhi oksigen.. Sepertinya alam semesta ini tak berbahaya seperti yang aku pikirkan." kata Keiko,
"Terus bagaimana ini? Kita tidak tahu kita dimana dan tujuan kita ada dimana.",
"Entahlah... apakah ka--" —Keiko terhenti dari pertanyaannya. Dia tiba-tiba jauh terduduk. Dia merasa kesakitan. Dia terengah-engah, tak bisa mengontrol nafasnya.
"Keiko?" panggilku.
Dan tiba-tiba saja dia.. pingsan.
Aku panik tetapi aku mencoba menenangkan diriku. Banyak pertanyaan yang muncul dalam otakku dengan seketika. Dan disaat itupun, aku merasa kesakitan dan disaat yang sama pula aku menerima pesan dari suara misterius itu lagi. Kenapa harus sekarang?
"Kamu... sudah... dekat... aku.. ak-- memberi..ta--..semua.." kata suara itu. Dan setelah itu, aku pingsan.
Sementara itu, pagi hari tiba di istana Pion Putih.
"APA KATAMU?!" Teriak Anna kepada seorang pelayan,
"NAKANO HILANG KATAMU?!" Teriak Anna,
"Ya..." jawab pelayan disana
"BAGAIMANA DIA BISA HILANG?!",
"Nyonya Anna, Tenanglah." kata Arthories,
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG SAAT MEMIKIRKAN KALAU NAKANO HILANG??!!",
"Nyonya, Nakano bukan hilang diculik. Dia lari dari kamarnya.",
"Bagaimana kamu bisa tahu?!" kata Anna yang mulai tenang,
__ADS_1
"Mudah. Nakano meninggalkan kamarnya dengan jendela terbuka. Dia pasti pergi ke suatu tempat untuk mencari tahu apa yang terjadi kepadanya sendirian.",
"Kalau begitu kenapa dia hanya pergi sendirian tak memberitahuku kalau dia akan pergi?!",
"Apakah Nyonya masih tak menyadarinya? Jika Tuan Muda memberitahukan kepada Anda kalau dia akan pergi, dia yakin kalau anda akan menghentikannya dan memaksanya untuk tetap berada di ruangan.",
"Kenapa? Itu demi kebaikannya!",
"Tidak. Mungkin Nyonya belum mengetahuinya. Kata-kata ini memang lancang tetapi Tuan Muda Nakano mungkin merasa kalau anda telah memperhatikannya layaknya boneka!",
"B-boneka? Apa maksud dari perkataanmu barusan?!",
"Ini hanya kemungkinan, tetapi dia mungkin merasa kalau anda memperlakukannya layaknya boneka.",
"Itu demi kebaikannya!",
"TETAPI ANDA MELAKUKANNYA LAYAKNYA BUKAN DEMI KEBAIKANNYA!",
"Eh?",
"Nyonya, perhatikan baik-baik. Tuan Muda Nakano hanya menginginkan kebebasan dan kasih sayang. Anda memang memberikannya kasih sayang yang luar biasa tetapi tidak dengan kebebasannya.".
Setelah mendengar perkataan Arthories, Anna merenungkan semuanya dan mengingat kembali. Memang benar, dia memberikanku kasih sayang, tetapi tidak dengan kebebasan. Anna tak bisa melawan perkataan yang dilontarkan Arthories walaupun dia itu atasannya.
Tiba-tiba ada sebuah suara yang muncul disaat itu.
"Ya. Yang dikatakan oleh Arthories benar. Kamu tidak memberikannya kebebasan." kata suara itu, Tohka.
"Aku tahu apa yang sudah dilalui oleh Nakano selama ini dan hanya aku satu-satunya istri masa depan Nakano yang tahu masa lalunya." kata Tohka dengan percaya diri,
"Apa maksud mu?" tanya Anna,
"Nakano saat kecil setelah berpisah dari Alam Semesta Ender End, dia tak pernah mendapatkan kasih sayang dan kebebasan. Dia mendapatkan kebebasan tetapi hanya sedikit. Kebanyakan dia dikurung di kamarnya oleh keluarga yang mengadopsinya dulu sebelum keluarga Sakamaki. Dan jika dia tak mendapatkan kedua hal itu atau salah satu dari itu, mungkin dia akan menjadi manusia monster yang tak terselamatkan lagi." Jelas Tohka panjang lebar.
Anna jatuh terduduk. Dia memang sangat mencintaiku dan aku bersyukur dia selalu mencemaskan ku, tetapi yang dikatakan Tohka juga benar. Manusia itu bisa hidup bila diberikan kebebasan.
"Bagaimana sekarang, Nyonya?" tanya Arthories dengan sopan,
"..." tak ada respon dari Anna. Anna berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya sendirian. Dia berjalan dengan cepat dan kemudian berlari sambil menangis.
"Lagian, sejak kapan cara bicaramu berubah menjadi sangat sopan?" tanya Tohka,
"Tuan Muda Nakano? Lumayan ju--".
Dengan cepat, Arthories menutup mulut Tohka dengan wajah yang memerah.
"Jangan beritahu itu kepada Nakano!" teriak Arthories dengan rasa malu.
__ADS_1
Setelah itu, teman-temanku bertindak dengan mencari tahu kemana diriku pergi tetapi, sekarang mereka tak melakukannya. Mereka menunggu sampai Anna merasa baikan dan siap bertemu dengan diriku secara empat mata.