Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 98, Raja Api


__ADS_3

Dihari yang berbeda, 19 Februari 142 Tahun Matahari. Aku berlatih bersama Liyu lagi dan sedang mendekati akhirnya, mungkin. Aku mengayunkan kakiku ke wajahnya dan membuatnya terpental cukup jauh dariku.


"Kaaahgg!!!".


*Gubrak* Dia jatuh tersungkur kelelahan. Dia terengah-engah karena kelelahan. Aku juga sedikit terengah-engah karenanya. Aku kemudian menarik nafas panjang dan melepaskannya.


"Sepertinya kamu sudah tak bisa berdiri lagi. Aku yang menang." Kataku,


"Masih... Belum...!" Kata Liyu sambil berusaha berdiri,


"Sudah cukup. Kamu sudah tak bisa berdiri lagi. Kamu memaksakan diri, kamu terkena dampaknya.",


"Hah...hah...hah...." Suara Liyu terengah-engah.


Walaupun aku tidak terlalu lelah, tetapi waktu pelatihan ini lebih lama dari sebelumnya. Yang awalnya hanya memakan waktu 5 jam sekarang pelatihan ini memakan waktu 12 jam. Perubahan waktu ini membuktikan kalau Liyu stamina yang lebih banyak dari yang kemarin. Sebenarnya latihan macam apa yang membuat staminanya membesar secara instan? Aku menghela nafas pendek sebelum berbicara.


"Latihan kali ini kamu cukup bagus, kamu membuatku kelelahan walaupun hanya sedikit. Jika kamu terus berlatih, kamu mungkin akan memaksaku mengeluarkan kekuatan teleportasi ku.",


"Terimakasih.... Hah... Kakak...!".


Aku tersenyum kepadanya sebelum mengucapkan selamat tinggal dan pergi.


"Kalau begitu, aku akan pergi sekarang. Aku memiliki banyak pekerjaan. Berlatihlah sendiri. Besok aku akan menemui mu lagi disini.".


Aku pergi meninggalkan Liyu sendirian terpuruk di atas tanah saat pagi menjelang siang hari.


(Kakak Nakano... Kuat! Hanya melawannya tanpa kekuatan sebenarnya sudah membuatku kewalahan, jika dia menggunakan kekuatan aslinya aku mungkin sudah tamat dalam hitungan detik. Aku ingin sekuat dia! Tidak! Lebih kuat dari dia!!)


---


Aku pergi berjalan menuju ke tempat Tohka berjaga mengawasi pergerakan para monster bersama Sei. Aku langsung berteleportasi ke tempatnya dan langsung ada Sei didepanku. Dia memandang lurus ke depan mengamati sesuatu sebelum dia menyadariku.


"Ah Nakano!",


"Yo, Sei. Bagaimana perkembangan kota?",


"Masih normal. Para monster itu mencari manusia kemana-mana tetapi semuanya aman. Anehnya monster itu tak menuju kesini. Aku pikir ada sesuatu disini yang ditakuti mereka...",

__ADS_1


"Hmm... Begitu ya.. terimakasih Sei.",


"Tidak, tidak! Aku senang bisa membantu Nakano, meringankan bebanmu.",


"Terimakasih Sei..",


"Dan lalu...",


""Lalu"?",


"Kencan kemarin menyenangkan! Aku menikmatinya. Kapan-kapan kita kencan lagi boleh?!" Tanya Sei dengan penuh semangat,


"Boleh kok. Setelah ini semua selesai, kamu boleh mengajakku kencan lagi.",


"Ya. Aku tak sabar!".


Aku tersenyum sinis sebelum aku menyadari kemana Tohka berada.


"Tohka dimana?",


"Dia mengamati pergerakan monster di selatan. Dia adalah pengamat terbaik disini. Aku bukanlah tandingannya.",


"Sampai jumpa! Aku tak sabar dengan kencan selanjutnya!",


"Ya. Aku juga. Dah." Kataku lalu berteleportasi.


Aku berteleportasi ke tempat dimana Tohka berada, selatan. Saat sampai disana, aku melihat Tohka yang sedang melihat ke depannya. Aku pun pergi menyapa Tohka tetapi sebelum aku mengeluarkan kata-kataku, Tohka melihat ke depannya sambil menggerakkan giginya.


"Gawat." katanya.


Aku yang terheran-heran jadi penasaran dan langsung melihat ke arah kemana Tohka melihat. Aku melihat sekumpulan monster Manusia Api berjalan menuju kemari dengan lambat. Tepat seperti yang aku perkirakan, besok adalah hari peperangan dan hari itu... tepat saat malam hari.. Sekarang, kira-kira apakah kami semua bisa melatih kekuatan kita menjadi lebih kuat sebelum besok malam?


"Nakano!" sapa Tohka.


Dia berlari ke arahku dan langsung ingin berbicara.


"Nakano!".

__ADS_1


Dia terengah-engah sedikit saat dia sampai di dekatku. Dia kemudian melihat ke arah kemana mataku tuju.


"Nakano!",


"Ya. Aku tahu.. besok tepat saat malam hari, peperangan akan terjadi disini..",


"Ya. itu salah satunya tetapi satu lagi! Iblis Api! Tak ada di manapun!",


"Hah?!".


Aku kemudian mengamati ke sekitar selain ke arah monster yang berjalan dengan lambat itu. Aku tak melihat sesuatu seperti iblis dimana-mana. Semua monster nya sejenis! Ada yang tak beres... seperti... iblis api ini memiliki akal! Jika memang iya, maka ini akan gawat. Aku tak tahu apa yang iblis itu rencanakan. Apakah dia akan melakukan serangan kejutan disaat aku fokus kepada monster-monster ini? Aku harus mencari tahunya! Shiro!


Aku langsung berteleportasi menuju ke tempat pelatihan para pemadam khusus itu. Aku langsung disambut oleh Sistine di depanku.


"Ah Nakano!",


"Sistine, dimana Shiro? aku harus bertemu dengannya." kataku.


Secara langsung Shiro berlari mendekatiku sambil bertanya apa yang terjadi.


"Ada apa, Nakano?" tanya Shiro,


"Ada hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Apakah Iblis Api memiliki akal?",


"Iblis Api... memiliki akal? Aku tak pernah mendengar hal itu.",


"Iblis Api itu tak memiliki akal!" kata seorang wanita dengan sombongnya.


Aku melihat ke perempuan suara perempuan itu. Perempuan dengan kulit coklat dan pakaian seksi berada di depanku.


"Iblis Api itu tak memiliki Akal! Aku sudah memastikan hal itu secara berulang..",


"Hmmm... Ini aneh...",


"Ada apa, Nakano?" tanya Shiro,


"Aku tadi melihat segerombolan monster berjalan menuju ke istana ini dengan lambat. Seperti yang aku perkirakan, besok adalah harinya. Tetapi aku tak menemukan Iblis Api di manapun.",

__ADS_1


"Hah? Apa maksudmu? Iblis Api memiliki kekuatan untuk mengendalikan manusia api dan membuat mereka melakukan apapun yang dia minta. Iblis Api biasanya akan membuat gerombolan Manusia Api untuk menutupi dirinya tetapi walaupun begitu dia tetap bisa terlihat karena bentuknya yang berbeda dengan api yang lebih gelap. Seharusnya mudah ditemukan bukan?" kata wanita seksi itu,


"Ya. Harusnya begitu. Tetapi ini berbeda. Aku tak menemukannya di manapun. Aku rasa... ini bukanlah Iblis Api... melainkan... Raja Api..".


__ADS_2