
Ibuku berlari ke kamarku dengan terburu-buru. Sesaat setelah sampai di depan pintu kamarku. Dia mengetuknya memastikan apakah aku masih depresi atau tidak, tetapi aku tak menjawabnya. Itu cukup untuk membuktikannya. Ibuku langsung menaruh kunci di lubang kunci kamarku dan membukanya.
Setelah dibuka, ibuku mendorong pintu kamarku. Suara decitan pintu yang menyiksa telinga itu serasi dengan ruangan gelap yang dilihat ibuku setelahnya. Ruangan gelap karena lampunya tak dinyalakan. Ibuku menyalakan lampu dengan saklar yang berada di dekatnya. Dia menekannya dan lampu pun menyala. Setelah itu, ibuku melihat aku yang sedang menatap ke arah headset yang selalu dipakai oleh ayahku. Ibuku terkejut sebentar dan kemudian berjalan ke dekatku.
"Nakano...",
"..." —Tak ada respon dariku.
Aku terus menatapi headset itu. Aku masih depresi setelah kehilangan orang yang ku sayangi. Ibuku pergi duduk di sampingku, meletakkan tangan kanannya di tangan kiri ku.
"Nakano... Pasti berat ya....",
"....",
"Ibu juga tak rela kehilangan ayahmu karena dia adalah orang yang paling kucintai...",
"....." —Masih tak ada respon dariku.
Ibuku melihat ke mataku. Mata yang tak ada kehidupan didalamnya dan tatapan kosong yang terus menatap ke arah suatu benda, mengabaikan benda lainnya.
"Maaf... karena ibu... ibu tak bisa menjaga ayahmu dan juga kamu.... Maafkan ibu karena ibu lemah... Karena itu... tolong buka matamu sekali lagi!",
"....".
Ibuku mulai menangis melihat anaknya sendiri tak bisa tersenyum lagi dan berusaha keras menggapai mimpinya. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena tak dapat melindungi 2 hal yang berarti baginya. Dia merasa lemah tak berguna.
__ADS_1
"Nakano... Jika kamu masih disana... kumohon sadarlah... Jika tidak.... kamu akan melakukan kesalahan seperti ibu lagi!",
"...",
"Jika kamu tak membuka matamu... Dia akan kecewa padamu! Kumohon buka matamu sekali lagi... Jangan sampai... kalah dengan kegelapan!".
Ibu... andaikan aku bisa menggerakkan mulutku untuk berbicara denganmu. Ibu... sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku masih memiliki akar kehidupanku.
"Nakano... Maafkan ibu karena tak bisa menjaga ayahmu dan dirimu dengan baik. Karena itu, aku ingin membimbing mu agar kamu tak melakukan kesalahan seperti ibumu ini! Kumohon... berikan ibu satu kesempatan lagi!".
Benar juga... apakah aku telah kalah dan ditelan oleh kegelapan? Apakah aku hanya bisa menyerah melihat orang yang ku sayangi meninggal karena memperjuangkan sesuatu yang berharga baginya? Apakah... aku telah kalah disini?
Seketika suatu suara yang kukenal bergumam di pikiranku.
"Nakano....",
"Nakano....",
"Nakano....",
Seketika aku mengingat apa yang seharusnya aku ingat untuk selamanya. Kata-kata nya yang dia berikan kepadaku!
"...Nikmati semua yang alam semesta berikan kepadamu... Jika kamu tidak suka... Lawan mereka... dengan senyuman sombong!".
Itu dia... itu dia... Jika aku tidak suka dengan apa yang diberikan alam semesta kepadaku... aku hanya perlu melawannya! Sekarang... bangunlah diriku! Bangun! Bangun payah! Bangun! Ada hari baru yang menungguku!
__ADS_1
Diluar pikiranku, ibuku melihat tanganku mulai bergetar. Dengan perlahan tanganku mulai bergerak mengangkat headset yang aku pegang. Itu mengangkatnya dengan pelan-pelan sampai ke atas kepalaku. Aku menggerakkan nya ke bawah, lebih tepatnya memakai headset itu dengan perlahan. Dan setelah sesaat headset pun terpasang di kedua telingaku.
Badanku mulai bergetar dan aku langsung berdiri mengagetkan ibuku. Mukaku yang kaku itu berusaha tersenyum lebar tanpa kendala seperti yang dilakukan ayahku. Tersenyum sombong tanpa rasa takut. Menikmati semua pertarungan karena itu adalah cara Sakamaki bekerja!
Ibuku terdiam melihat diriku tersenyum sombong dengan tatapan yang mulai hidup. Senyuman itu... mengingatkannya kepada satu hal. Satu hal yang berharga baginya.
"Yo. Ibu." kataku.
Walaupun kata-kata itu agak kasar untuk seorang ibu, tetapi ibuku tak peduli karena kata-kata itu baginya adalah penyemangat. Dia melihat ke arahku dengan mata melebar terkejut. Aku mengulurkan tanganku kepadanya.
"Ayo bangun... dan bertemu yang lainnya." kataku,
"Nakano..." gumamnya.
Dia berdiri mengabaikan uluran tanganku dan langsung memelukku.
"Nakano... Syukurlah..!" katanya.
Aku tersenyum. Aku memang tak bisa merubah ekspresi wajahku secara penuh tetapi hanya sedikit perubahan saja tak apa bukan?
"Kalau begitu ayo..." kataku dan lanjut,
"Ada hari baru yang menunggu kita semua.",
"Ya. Ayo!" jawabnya.
__ADS_1
Headset yang selalu dipakai ayahku, kini dipakai olehku. Rasanya tak benar memakai milik orang lain apalagi aku bukan anak kandung mereka, tetapi headset ini seperti bicara kepadaku memohon untuk kupakai. Ini memang aneh tapi... aku akan menyimpan dan menjaga benda ini dengan baik, atas nama Sakamaki— Tidak. Atas nama... Izayoi.
Dan begitulah perjalananku tak berhenti. Aku takkan berhenti sampai impianku tergapai. Tak hanya demi diriku sendiri, tetapi demi mereka semua yang membantuku meraih impianku. Aku takkan mengecewakan mereka semua, terutama kau, Ayah... Terimakasih karena telah membantuku sedikit meraih impianku. Terimakasih karena kau telah mengajariku untuk menjadi kuat. Semua yang kau berikan kepadaku, aku akan menyimpannya baik-baik. Aku akan menjaga ibu... menjaga Mashiro, dan suatu saat nanti.. aku akan menjaga Alam Semesta mu seperti janjiku sebelumnya. Sekali lagi... terimakasih untuk segalanya... ayahku tersayang...