
"Selamat Datang di Ender Library! Namaku, Amaya Keiko, penjaga perpustakaan agung ini!" kata Gadis itu, Amaya Keiko.
Kami pun terpana ke pada gadis itu. Penampilan layaknya seorang cendekiawan tetapi anehnya bertubuh seperti anak kecil umur tiga belasan. "Jadi kalian siapa?" tanya Anak kecil itu dengan sombong. Sei dan Tohka merasa kesal. Aku pun menjawabnya, "Aku Sakamaki Nakano. Lalu orang yang di samping kanan ku namanya Yamada Tohka dan samping kiri ku namanya Murasame Sei. Dan kami kesini untuk mencari tahu tentang alam semesta Fantasym." Jelas ku,
"Oh begitu. Tapi sebelum itu kalahkan aku dalam suatu permainan. Kalau kalian kalah, kalian harus keluar dari sini. Kalau aku kalah, akan aku kabulkan satu permintaan kalian bertiga yang semampuku. Mengerti?" kata Amaya Keiko,
"Apa-apaan anak kecil ini?! Kami baru datang langsung ditantang?!" pikir Sei,
"Boleh tapi permainan apa?" kataku,
"Eh?! tung-- Nakano!" kata Sei,
"Permainannya adalah permainan tembak sihir!" kata Keiko,
"Tembak sihir?" Tanya Tohka penasaran,
"Permainannya mudah, dipermainan ada target yang bergerak sejauh 2 meter dari sini. Makin banyak kamu mengenai target, poinmu makin banyak." jelas Keiko,
"Jadi singkatnya permainan ini adalah permainan yang bergantung dengan banyaknya poin yang kamu dapat?" tanya ku,
"Tepat!!" kata Keiko,
"Aku tidak bagus dalam hal yang berjarak jauh, apalagi kecocokanku dengan sihir jarak jauh sangatlah kecil." kataku,
"Aku bisa jarak jauh tapi... jaraknya terlalu jauh bagiku.." kata Tohka,
"Aku bisa tapi.. aku buruk kalau targetnya bergerak." kata Sei,
"Kalau begitu... Aku serahkan padamu ya, Sei!" kata Tohka,
"Aku juga. Aku percaya padamu Sei." Kataku,
"Eh? tapi.." kata Sei dengan tidak percaya diri.
__ADS_1
Pikiran Sei hancur berantakan. Banyak pertanyaan yang muncul. "Bagaimana ini?" pikir Sei,
"Nakano dan Tohka percaya padaku.." pikir Sei,
"Sei.. Berusahalah, walaupun gagal tapi tak apa kok.." kataku,
"Eh?" kata Sei,
"Benar, walaupun kau gagal, yang penting kita bisa ke sana." kata Tohka,
"T-Tidak boleh begitu!! ini adalah perjalanan kita! baiklah, aku akan bermain!" kata Sei,
"Benar-benar! ini bukan waktunya putus asa! Ini waktunya melampaui batasan ku! demi Tohka dan juga demi Nakano!" pikir Sei dan maju ke depan bilang, "Aku yang akan bermain!" dengan percaya diri,
"Oh begitu sebenarnya satu pemain hanya memiliki 3 kesempatan. Jika itu meleset satu saja kesempatannya mengurang. Artinya kalau kau meleset sebanyak 3, kau tidak bisa bermain lagi.Tapi karena aku kagum dengan semangat percaya dirimu itu, aku akan menaikkan kesempatannya menjadi 5! Gunakan baik-baik. Oh iya aku lupa memberitahu kalian, batas waktunya 7 Menit!" Jelas Keiko,
"Baiklah!" kata Sei,
"Baiklah kalau begitu ayo ke atas melewati tangga disana." kata Keiko,
"Yang tidak ikut juga boleh ke atas kok!" Kata Keiko.
Kami pun berjalan menaiki tangga hingga ke bangunan paling atas. Di paling atas, ada lapangan terbuka luas kosong. Yang ada hanyalah struktur bangunan dari batu Elsy yang berwarna ungu. Kami berjalan hingga ke paling ujung bangunan tersebut. "Oh iya, ada minimal poinnya ya! yaitu 130 poin. Satu target sama dengan 5 poin." kata Keiko,
"Katamu tadi permainan ini tergantung oleh banyaknya poin?" kata Tohka,
"Benarkah? Yah aku gak peduli sih. Kalian saja yang main, aku malas melakukannya." Kata Keiko dengan santai,
"Terus, kenapa permainan ini diadakan?" tanya Sei,
"Hanya untuk bersenang-senang. Yah, lagian ini gak ada hubungannya denganku. Aku hanya ingin hiburan. Lagian, aku gak bisa keluar dari perpustakaan ini." Jelas Keiko,
"Kenapa?" tanyaku,
__ADS_1
"Itu karena aku ini terikat dengan perpustakaan ini. Yah bisa dibilang.. Terkutuk." kata Keiko,
"Nah.. Ayo mulai sekarang ini dia targetnya!" kata Keiko.
Setelah itu, ada sesuatu berwarna kuning bening dan berbentuk lingkaran layaknya perisai yang melayang-layang. "Harus aku lakukan!" pikir Sei,
"Karena Nakano aku disini. Paling tidak aku harus membantunya! Karena temanku, Tohka, ada disini menemaniku dalam gelap! Aku disini karena mereka berdua. Setidaknya aku berguna bagi mereka berdua!" pikir Sei,
"Yosh!" kata Sei penuh percaya diri.
Sei maju ke depan hingga ke bagian paling ujung. "Ngomong-ngomong, peraturannya sedikit berubah. Pertama, kesempatanmu tetap 5 tidak boleh lebih dari itu. Dua, waktunya berkurang dari 7 menit menjadi 4 menit! Hanya itu." kata Keiko,
"Itu masih cukup menguntungkan ku." Pikir Sei.
Sei pun melakukan serangan pertama. Dia menggunakan Fire Arrow untuk mengenai target. Dia memiringkan tongkatnya, meletakkan tangan kirinya di bola kristal dan bilang, "Fire Arrow!". Setelah itu mengarahkan bola di tongkatnya ke arah yang ingin dia tuju dan sebagai targetnya. "Ngomong-ngomong, api itu kurang bagus dalam hal ini. Kau memerlukan sesuatu yang lebih jika kau ingin menang." Kata Keiko.
Sei pun mulai menembak Fire Arrow nya ke target. Fire Arrow memiliki kecepatan yang cukup lambat. Sedangkan target yang terbuat dari sihir cahaya itu lebih cepat jadi sangat susah untuk dibidik. Saat Fire Arrow itu datang ke arah target, target itu bergerak cepat karena terbuat dari cahaya. Fire Arrow tak mengenainya.
Sei melakukan hal yang sama hingga sisa kesempatannya hanya tersisa satu kesempatan lagi. Dia mulai putus asa. "Ah.. Sudah tidak ada harapan.." pikir Sei,
"Sei! Lampaui batasan mu. Jika kamu tak memiliki sihir lain, berusahalah menciptakan sihir baru! itu layak dicoba!" kata Tohka,
"Itu mustahil! butuh waktu lama untuk membangun sihir baru!" kata Sei yang putus asa,
"Tak ada yang mustahil di alam semesta ini! jika kamu menyerah sekarang, kamu mungkin akan kehilangan semuanya!" kata Tohka.
Sei melihat ke arahku dan aku menganggukkan kepalaku pertanda kalau ucapan Tohka itu benar. Tiba-tiba, ada energi sihir emas mengelilingi Sei, setelah itu menghilang seketika. Sei pun mulai melihat kearah semua target, karena hanya ada satu kesempatan. Sei mengetukkan tongkatnya ketanah dengan keras dan bilang, "Sihir Senjata: Unlimited Weapon!". Seketika, ada 10 portal emas di samping Sei dan itu mengeluarkan senjata. Satu portal mengeluarkan senjata yang berbeda-beda dan tanpa batas.
"Aku disini untuk bertarung! Bertarung disisi Nakano dan juga Tohka! Mana mungkin aku akan menyerahkan itu.. Aku tidak akan menyerahkan kebahagiaanku begitu saja?!" Teriak Sei penuh semangat.
Senjata-senjata itu mengarah ke target dengan cepat sehingga si target tak memiliki kesempatan untuk kabur. Tapi ada beberapa yang meleset. Tapi itu kembali ke arah target seolah-olah target itu telah diincar oleh Sei. Dan hasilnya kemenangan untuk Sei, sisa waktu hanya 30 detik, poin yang didapat 230, dua kali lebih banyak dibandingkan yang ditargetkan. Aku sedikit terkejut atas kemampuan baru Sei.
Dia melihat ke arahku dan Tohka sambil tersenyum.
__ADS_1