
Di tengah malam yang gelap. Bulan tertutup oleh awan hitam sehingga tak dapat memancarkan cahayanya. Ditengah malam yang gelap itu semuanya tertidur. Aku tertidur dan bermimpi tentang sesuatu yang tak jelas. Kepalaku tiba-tiba terasa sakit.
Aku bermimpi tentang seorang wanita. Wanita itu meletakkan harapannya kepadaku. Dia seperti bilang sesuatu.
"Aku... akan selalu menunggumu..."
Seketika semuanya menjadi putih. Tak ada apa-apa. Setelah itu, keluar suara misterius.
"Aku... adalah yang... kamu cari..".
Aku pun terbangun dari tidurku dengan cepat. Aku terengah-engah, tak bisa mengontrol nafasku dengan benar. Aku mencoba mengontrol nafasku sekali lagi dan berhasil. Aku kembali tenang.
Tiba-tiba saja, ada sesuatu yang keluar dari balik selimut yang aku pakai. Itu adalah Anna, ini kedua kalinya.
"Hoaamm..." —Anna menguap.
"Nakano... Ada apa..?" tanyanya,
"Tidak. Maaf mengganggu tidurmu.",
"Ka-mu ber-bo-hong!",
"Eh?",
"Aku sudah tahu cara membedakan dirimu yang berbohong dan jujur. Dan aku melihat kamu sedang berbohong kepadaku!",
"Maaf.",
"Jika kamu punya masalah jangan sungkan beritahu kepadaku. Aku mungkin bisa membantu.",
"Maaf merepotkan mu.",
"Yah... aku tidak peduli jika itu... su-a-mi ku~",
"Tidak-tidak. Kita bahkan belum menikah!",
"Kalau begitu... suami masa depanku~".
Aku menghela nafas. Aku tidak terlalu terkejut dengan kemunculan Anna yang telanjang di depan mataku sendiri. Asal tak memunculkan sebuah kesalahpahaman, itu tidak apa. Lagian aku sudah terbiasa dengan tubuh telanjang Anna, walaupun ini kedua kalinya dia berada di ranjang ku.
"Jadi, Kenapa kamu ada disini?" tanyaku,
"Eh.. ya... itu... anu... karena... anu...",
"Apa?",
"Itu karena... kamu ingin pergi.. jadi aku.. mungkin akan rindu kepadamu dalam waktu yang lama. Jadi.. untuk meredakan itu... aku pikir ini... ide bagus..." katanya sambil menyembunyikan rasa malunya.
Aku memeluknya dengan lembut sambil mengelus-elus rambutnya yang putih itu. Dan disaat itu juga, sinar bulan mulai kembali menyinari malam.
"Jangan khawatir. Kalau kamu mau ikut, kamu bisa ikut denganku dalam perjalanan selanjutnya. Aku tak memiliki alasan untuk menolak." kataku. Kata-kata itu menembus hati Anna dan meluluhkan nya. Dia tersenyum bahagia.
"Ya.. tapi aku tidak bisa ikut. Aku ini seorang ratu. Rakyatku membutuhkanku. Lagian ini adalah tugasku. Aku akan selalu menunggumu dan mendukungmu dari sini." katanya.
__ADS_1
Tiba-tiba kepalaku terasa sakit. Aku dengan cepat memegang kepalaku dan merasa kesakitan. Dan suara misterius yang muncul tadi... mulai berbicara lagi.
"Aku menunggumu... selalu...".
Apakah ini semacam sihir telepati? Tidak. Telepati seharusnya tak menimbulkan efek rasa sakit kepala kepada penerimanya. Ini lebih kasar. Seperti... memaksa masuk! Apa ini? Aku belum pernah bertemu semacam ini..
"Nakano?!" teriak Anna,
"Nakano, kamu baik-baik saja?",
"Ya.. aku baik-baik saja.",
"Tuh kan, kamu berbohong lagi!",
"Maaf.."
Seketika sebelum aku menyelesaikan kalimatku, aku mulai kehilangan kesadaran.
"Aku... tidak baik-baik saja...",
"NAKANO?!" Teriak Anna.
Aku pingsan karena hal itu. Apa itu? Apakah semacam kemampuan pasif? atau yang lainnya? Seperti kemampuan ras? Oke-oke tenang diriku... kita harus memecahkan ini satu per satu. Dimulai dari... kenapa timbul efek samping dari ini? Ini hanya hipotesis ku tetapi mungkin saja, Ini bukan kemampuan pasif maupun kemampuan ras ataupun sihir. Terus apa? Aku tidak tahu. Heh, aku mulai gila, menanyakan pertanyaan dariku untuk diriku sendiri.
Esok paginya, aku pun membuka mataku. Yang kulihat untuk pertama kalinya saat itu adalah tentu saja teman-temanku.
"Nakano!" Teriak mereka secara bersamaan,
"Kamu tiba-tiba pingsan di kamarmu. Aku sempat panik. Tetapi dengan tenang, aku memanggil para pelayan untuk segera datang dan kamu pun berakhir disini.." jelas Anna,
"Dimana... ini...?",
"Disini adalah ruangan pengobatan istana. Karena begitu mendadak, mereka membawamu kesini dengan cepat." jelas suara seseorang yang ku kenali, Amaya Keiko.
"Kenapa.. kamu--" —Keiko memotong kalimatku ditengah-tengah.
"Jangan memaksakan dirimu untuk berbicara. Beristirahatlah dengan cukup karena akan ada banyak pertanyaan dariku setelah itu dan kau... harus menjawab semuanya dengan jujur!" kata Keiko dengan tegas.
Kenapa dia bersikap seperti itu? Ada yang tidak beres. Aku pun menutup mataku dan menunda perjalananku. Aku kembali beristirahat. Kemudian, aku membuka mataku kembali.
"Nakano... Kamu baik-baik saja?" tanya Sei,
"Ya... aku baik-baik saja." jawabku.
Tentu saja aku tahu kalau Anna tahu aku berbohong, tetapi aku tak mau semuanya mengkhawatirkan ku. Anna juga memikirkan hal yang sama pasti dan memilih diam dibandingkan memberitahu ke yang lain kalau aku berbohong. Aku... tidak baik-baik saja.
Setelah itu, aku beristirahat beberapa menit. Setelah itu, aku bisa berbicara seperti biasanya. Tubuhku kembali seperti semula.
Keiko yang sebelumnya keluar ruangan, dia masuk ke ruangan. Tetapi sebelum masuk, dia meminta kepada yang lainnya untuk keluar.
"Semuanya yang ada disini, kecuali Nakano, aku minta untuk segera keluar." mintanya.
Aku dan teman-temanku tak tahu apa yang dia rencanakan, tetapi kami tahu kalau hal ini pasti sangat dirahasiakan. Teman-temanku keluar dari ruangan. Keiko kemudian menutup pintu dan menguncinya.
__ADS_1
"Sekarang... Nakano... Tadi sebelum kamu pingsan, kamu menerima beberapa kalimat yang tak bisa didengar orang lain ya kan?",
"Ya.. Kenapa kamu tahu?",
"Aku tahu dari mana itu urusanku. Sekarang, apakah kamu itu berasal dari mana?",
"Tidak. Itu bukan semacam sihir maupun kemampuan seperti kemampuan pasif.",
"Apakah kamu merasakan rasa sakit saat kamu menerimanya?",
"Ya.",
Perbincangan ini semakin menegangkan. Keiko mengehela nafas dan melanjutkan penjelasannya.
"Tak salah lagi.",
"Apa maksudmu?",
"Aku tak tahu yang kamu terima itu berasal dari mana tetapi yang bisa aku bilang adalah orang itu berharap sesuatu kepadamu.",
"Berharap... sesuatu.... seperti apa?",
"Aku tidak tahu.. Aku kekurangan informasi sehingga aku tidak tahu apa yang pesan itu maksud.",
"Apakah kamu pernah mengalaminya?",
"Tidak, aku tidak pernah. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendengar itu, termasuk dirimu, Nakano.",
"Apakah... ini pernah terjadi sebelumnya?",
"Ya.. tetapi hanya pernah terjadi sekali. Karena itulah, aku tak bisa mengungkapkan tentang hal ini.",
"Kalau begitu... apakah itu akan terus menerus datang untuk menyampaikan pesan kepadaku sepanjang hidupku?",
"Entahlah.".
Apa yang pesan ini inginkan dariku? Harapan macam apa yang diletakkan padaku?
Tiba-tiba, kepalaku terasa sakit lagi.
"Sakit!" kataku,
"Nakano? Bertahanlah!".
Setelah itu, suara itu muncul lagi dan menyampaikan pesannya kepadaku.
"Akulah... orang yang kamu... cari...".
Pesan itu hilang dari kepalaku. Rasa sakitnya terhenti. Apa yang dia inginkan?
Entah bagaimana, aku berhasil bertahan karena hal itu. Keiko dengan cepat, berlari keluar dan mencari teman-temanku. Setelah beberapa saat, teman-temanku, dengan terburu-buru, lari masuk ke ruangan dan mendekatiku. Semuanya mencemaskan ku.
Sebenarnya apa yang diinginkan suara ini dariku? Kenapa hanya aku yang bisa mendengarkannya?
__ADS_1