
"Penghancur Alam Semesta?..Apa maksudmu?" tanyaku,
"Jangan pura-pula lupa kau bodoh!" teriak Si Raja,
"Kau telah menghancurkan satu alam semesta dan beserta penghuninya!",
"Maksudmu apa? jelaskan padaku!",
"Kau dijuluki Penghancur Alam Semesta karena kau telah menghancurkan salah satu dari 34 alam semesta, yaitu Bimasakti.",
"Bimasakti..?",
"Ya, Bimasakti. Bimasakti adalah alam semesta yang paling berbahaya dari semua alam semesta. Semenjak penguasanya mati dan menghilang, alam semesta itu kacau karena salahmu!",
"Sa...lah...ku?" kataku dengan rasa bersalah yang berat yang tiba-tiba muncul di hatiku.
"Penguasa alam semesta itu tiada karena dibunuh oleh mu dan sejak itu kau menjadi penguasanya disana. Tapi kau meninggalkan kewajiban mu dan menyamar menjadi mesin pembantai berdarah dingin. Awalnya aku mengagumi kekuatanmu yang luar biasa itu, tapi kau sudah keterlaluan. Dan suatu hari, kau telah melenyapkan sekitar 150 Juta nyawa orang tak bersalah. Dan aku sadar, seharusnya aku mengagumi orang yang salah. Kau membuat semua penguasa berurusan hanya untuk menyingkirkanmu dari kursi penguasa alam semesta. Tapi suatu hari, kami syok saat menyaksikan mu membawa satu perempuan berambut hitam panjang. Kami pikir kau sudah sadar akan kesalahanmu dan kami sedikit senang. Tapi keesokan harinya, perempuan itu menjadi istrimu dan menjadi sosok yang sama sepertimu. Dan saat itu juga kamu dijuluki sebagai Si Penghancur Alam Semesta dan Ancaman Terbesar Galaksi. Tapi suatu hari kau dibunuh oleh anakmu sendiri. Awalnya kami sudah mempersiapkan sambutan hangat dan penghargaan terbesar kepadanya tapi sayangnya anakmu juga sama sepertimu, pembantai. Tapi yang berbeda adalah, kau membutuhkan kepercayaan dan kau mendapatkannya sedangkan anakmu tak membutuhkan yang namanya kepercayaan. Dia masih hidup sampai sekarang tapi kami tidak tahu dia dimana, dan sekarang Bimasakti tak memiliki penguasa karena persyaratan yang tinggi.".
Semua orang diistana Netherwath terdiam, dan terkejut kalau aku adalah Si Penghancur Alam Semesta.
"Tidak...! Tidak mungkin! TIDAK MUNGKIN. NAKANO ADALAH TEMAN PENJALANANKU BUKAN MESIN PEMBANATAI! DIA BUKAN ORANG YANG KAU CERITAKAN! DIA.... dia adalah.... Orang yang paling kupercayai. Dialah Sakamaki Nakano!" teriak Tohka.
Aku melihat kearah Tohka yang memperlihatkan wajah yang tak percaya akan suatu hal.
" Kau... Siapa Namamu?" tanyaku ditengah suasana canggung itu,
"Aku?.. Aku adalah Murasame Mayase. Raja Netherwath generasi ke-43." Kata si Raja, Murasame Mayase,
"Orang itu mana...?" Tanyaku,
"Siapa?",
"Orang yang memiliki Crystal Futures...",
"Oh itu... Itu Kakekku, dia masih ada sampai sekarang.",
"Bawa dia kemari...",
"Emang kau ingin apakan dia? Pembunuh.",
"Orang itu telah membunuh ibuku dan menjajah Ender End dulu.",
__ADS_1
"Oh begitukah. Baiklah aku akan membawanya kemari.",
"Benarkah?",
"Bercanda.".
Orang itu menarik pedang yang ada di samping kursinya dan mengeluarkan api dari ujung kaki bagian belakang. Dengan sekejap orang itu berpindah ke depanku dan mengarahkan pedang tajamnya ke hadapanku.
"Aku akan membunuhmu dengan cepat dan tak akan terasa sakit.".
Dengan cepat pedang itu dia tarik ke samping atasnya dan dengan cepat mencoba menebas ku tepat dileher. Aku berteleportasi dan menerima goresan kecil dileher. Tapi entah kenapa jarum yang ada di mata waktuku mengarah ke arah Utara dalam satu detik dan kembali ke arah selatan. Dan saat itu juga luka di leherku hilang.
Pedang ku disita dan disimpan dengan ketat oleh para penjaga, tapi mereka tak tahu kemampuanku. Aku meminta Pedangku agar berteleportasi ke padaku dan dia meresponnya.
"Kau ingin bertarung denganku? Baiklah aku akan meladenimu!" kataku.
Kami pun bertatapan dan mulai menyerang secara bersamaan. Mayase menyerangku dengan kakinya tapi aku menyadari nya dan berpindah sebelum itu melukaiku. Tapi serangannya cepat, aku terkena luka ringan yang dengan cepat pulih berkat mata waktuku itu.
"Oh, kau beregenerasi karena mata itu ya... Kalau begitu aku akan mengincar mata itu dulu!" kata Mayase.
Dia kemudian menaikkan kecepatannya dan mulai bergerak. Ada sesuatu gambaran yang muncul kalau dia akan menyerang dari arah kiri, dan itu benar terjadi. Aku berpindah dengan kecepatanyang meningkat.
"Kau berhasil menghindari serangan itu ya... Kalau begitu bagaimana dengan yang ini?!".
Mayase kelelahan. Kekuatannya tak seberapa jika dibandingkan ayahku, itu bagiku.
.
"Kenapa kamu tak menyerangku?" tanyanya, "Karena bagiku kemampuanmu masih belum sebanding..".
Diapun marah besar dan meningkatkan kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. Tapi anehnya bagiku kecepatan itu masih belum terhitung cepat. Masih banyak celah untuk menyerang.
Aku pun melihat celah besar yang terletak di bagian dadanya. Aku pun mulai menyerang ya dengan pedang Excusifer di bagian celah besar itu. Mayase mundur kebelakang karena luka fatal yang diterimanya.
"Kalau luka itu tak segera ditangani, kamu akan mati loh." Kataku,
"Eh?" gumamnya.
Dia kemudian pingsan. Para penjaga membawanya ke ruang medis agar segera ditangani. Seseorang pun muncul setelah Mayase dibawa pergi.
"Ada ribut-ribut ini?!" teriaknya.
__ADS_1
Orang itu masih sekitar 35 tahun seumuran dengan ayahku. Dia memegang tongkat yang ada di telapak tangannya. Di bagian atas tongkat itu ada bola kristal.Pasti itu adalah Crystal Futures yang kakak maksud.
"Kau... Kau pasti yang telah membuat perang dahsyat antara Ender End dan Netherwath ya?" kataku,
"Itu benar...." katanya,
"Siapa kau?" kata Tohka,
"Aku adalah Murasame Yagami. Pemilik Crystal Futures." kata orang itu, Yagami,
"Baginda Raja, dia adalah si Penghancur Alam Semesta. Dan juga yang telah melukai cucu anda tuan!" Kata salah satu prajurit,
"Tidak hanya itu... dia juga The Last Ender Wish." kata Yagami,
"Apa yang kau bicarakan Orang tua?!" kata Tohka,
"Gak sopan sekali. Baiklah aku akan menjelaskannya. Aku adalah orang yang telah membunuh Miyaniku Asuha, ibunya orang ini.." kata Yagami,
"Ibu....ku?" kataku terkejut,
"Ya benar ibumu. Ibumu bilang kalau ada dua Ender Wish yang akan mengalahkan ku. Dan itu adalah dia dan juga gadis itu!",
"Aku?!" kata Tohka,
"Ya benar. Baiklah aku punya penawaran. Pertama serahkan pedang Excusifer dan kalian bisa pergi dari sini. Atau Dua, kau bisa pergi dari sini bersama pedang itu tapi serahkan gadis itu padaku. Atau yang ketiga? Yaitu menyerahkan nyawamu dan aku akan membiarkan gadis itu dan pedang itu pergi." kata Yagami,
"Apa?" kata Tohka.
Kami berdua tak tahu harus berbuat apa. Yagami melanjutkan penawarannya.
"Atau keempat, Kau menikahlah dengan putriku dan aku akan membiarkan gadis itu. Ayo pilih, keputusan itu ada di tanganmu, Nakano",
"Menikah...?"tanya Tohka. Itu membuat Tohka iri hati dan ketakutan bila itu sampai terjadi.
"Atau kelima, Aku akan membunuhmu dengan pedang ini dan juga bantuan dari temanku.." kataku dengan percaya diri,
"Sudah kuduga akan seperti ini.. Baiklah aku akan memilih pilihan kelima. Sekarang, Ayo bertarung!" Kata Yagami,
"Baiklah... Ayo Tohka. Kita beri pelajaran kepada orang tua ini!" kataku.
"Baiklah.".
__ADS_1
"Sekarang, waktunya bertarung!!" kata kami bertiga.