Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 124, Hubungan yang Hampir Rusak l dan Orang Ke-3


__ADS_3

Di suatu tempat di bumi yang entah ada di alam semesta apa. Hidup sebuah keluarga yang awalnya baik-baik saja, sampai suatu masalah mengancam mereka. Keluarga itu memiliki 2 orang anak satu perempuan dan satu laki-laki yang mana anak laki-laki itu kita kenal dengan nama... Sakamaki... Nakano...


Dipati hari, Nakano bangun dari tidurnya seperti biasanya tetapi... pintunya dibuka paksa oleh seseorang. Pintu itu tak bisa bertahan lama dan Nakano ketakutan. Dan akhirnya pintu itu pun terpental keluar lewat jendela. Nakano melihat kedua orang tuanya yang memasang muka kesal tetapi... hanya buatan.. Mereka datang mendekatinya dan memukulnya dengan panci membuat Nakano pingsan.


Saat dia tersadar... dia sudah ada di ruangan yang panas dan pengap dan juga gelap. Tangan dan kakinya terjerat oleh rantai yang membuatnya tak bisa kemana-mana. Apa yang selanjutnya terjadi? Tunggulah....


 


Dituangkan yang masih sepi, aku sendiri disana berpikir tentang berbagai hal yang barusan terjadi.


Tiba-tiba orang pun masuk ke dalam dan Nakano melihat ke arahnya. Nakano menemukan sosok Anna yang sedang tersenyum manis.


"Nakano... Sarapan dulu..." katanya.


Aku mengabaikannya seolah-olah itu angin yang melewatiku dan kembali berpikir. Anna melihat ke arahku dengan mata yang berkaca-kaca, khawatir kepadaku. Aku melihat ke arahnya dan menyapanya seolah-olah aku baru menyadarinya.


"Ah.. Anna ternyata..." kataku.


Dia tersenyum lalu berjalan ke arahku dengan membawa sarapanku di atas sebuah nampan besi.


"Nakano, makan dulu." katanya.


Dia menaruh makanan yang dia bawa di atas meja yang berada di sampingku. Dia kemudian duduk di sampingku dengan cemberut.


"Nakano... ada apa..? Kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu...",


"Ya... aku memang memikirkan sesuatu tetapi tak berhubungan denganmu jadi tenanglah." kataku.


Anna memalingkan wajahnya ke arah lain. Tanpa kusadari, aku telah mengucapkan sesuatu yang menusuk kepadanya.


"Yah... Maaf Anna! Aku sepertinya melukai perasaanmu..." kataku selagi aku sadar,


"Tidak apa-apa... Jika itu hanya berhubungan denganmu maka aku takkan mengganggunya.." katanya dengan nada sedih.


Apanya yang baik-baik saja? Jelas-jelas kamu cemberut seperti itu. Apakah tak ada orang yang memahami waktu privasi disini?


"Maaf... aku tadi memikirkan masa laluku jadi... tanpa kusadari.. aku bilang semacam itu..",


"Masa lalu? Tentang apa? Magicufer? Nakano Wynox? Atau... kejadian yang membuat Artoria hamil?!",


"Tidak... tak ada hubungannya dengan siapapun disini... baik kau, Magicufer... atau Wynox...",


"Kalau begitu apa?",


"Itu... aku tak bisa bilang...",


"Tak bisa bilang? TAK BISA BILANG?! APAKAH SEBEGITU BESARNYA SAMPAI KAMU BISA MELUPAKANKU DENGAN MUDAHNYA?!!",


"Tenanglah Anna!",


"Bagaimana aku bisa tenang..!" —Dia mulai menangis,

__ADS_1


"...",


"NAKANO BODOH!!! BENCI!!" Kata Anna lalu pergi keluar.


Aku tahu kalau aku salah! Tetapi... apakah kakak tiri ku lebih penting daripada semua tunanganku?! Apakah senyumannya lebih berharga dibandingkan senyuman semua orang yang aku sayangi?! Mana yang kamu pilih Nakano! Kakak atau Tunanganku?!


Tiba-tiba ada seseorang masuk ke kamarku. Perutnya besar seperti sedang mengandung, Yap Artoria.


"Nakano... aku tadi melihat Anna berlari sambil menangis.. Ada apa?" tanyanya,


"Tidak ada..." jawabku langsung,


"...".


Dia berjalan dan duduk di sampingku.


"Nakano dengar, aku tak tahu apa masalahmu dengan Anna tetapi kalian ini tunangan. Kalian harus berbaikan karena memiliki masalah diantara kedua tunangan itu dapat berakibat buruk.",


".. Mhm.. Yah.. aku tahu itu...",


"... Nakano... seriuslah!",


"Aku sudah serius...",


"Tidak kamu tidak serius. Kamu menyepelekan hak tadi bukan? Kamu menganggap perkataan ku barusan hanyalah angin yang melewati telingamu bukan?!",


"Tidak.. aku tidak—",


"Sudah cukup! Aku tahu sekarang kenapa Anna marah padamu. Sifatmu.. berubah... menjadi lebih buruk!".


Aku turun dari kasur dan mengejar Artoria yang barusan keluar. Beruntungnya dia tidak lari seperti Anna tadi. Aku berlari mendekatinya dan menyentuh pundaknya.


"Artoria tunggu!".


Artoria melihat ke arahku dengan mata basah yang siap mengeluarkan air mata.


"Artoria... Maaf! Aku sudah mengagaikan perkataanmu tadi! Aku benar-benar minta maaf! Sifatku tiba-tiba berubah dan aku harus memperbaikinya... karena itu... Terimalah rasa permintaan maaf ku!" kataku dengan nada bersalah sambil membungkukkan badan.


Artoria memegang kepalaku dengan lembut. Aku langsung melihat ke arahnya dan menemukan dia sedang tersenyum bahagia.


"Syukurlah kamu mengakuinya dengan cepat... Sekarang, kejarlah Anna!",


"Mhm.. baiklah!" jawabku sambil mengangguk.


Aku berlari lurus ke depan menuju ke kamar Anna.


Sesampainya disana, aku terengah-engah tentu saja karena staminaku belum pulih sepenuhnya. Aku mendorong masuk pintu yang cukup besar itu dan menemukan Anna sedang berbaring di atas kasur sambil menangis.


"Hiks... Hiks.." suaranya menangis.


Aku berjalan mendekatinya sambil meminta maaf.

__ADS_1


"Anna maaf... Aku seharusnya tak merahasiakannya.. Maafkan aku..",


"KAMU BARU MENYADARINYA?!!" Tanyanya dengan keras,


"...".


Aku melihat ke arah Anna dengan muka bersalah. Wajahnya kini meneteskan air mata dan sangat bersedih yang dicampur marah.


"Anna.. maaf...",


"MAAF SAJA BELUM CUKUP!!!",


"... Kalau begitu kamu mau apa?",


"...?",


"Kau mau apa? Aku akan mengabulkannya semuanya untukmu bahkan jika itu merusak harga diriku dan mengancam nyawaku. Aku akan melakukan apapun yang kamu minta! Apapun.",


"... Kenapa? Kenapa kamu bicara seperti itu? Rahasia yang kamu jaga itu lebih penting dariku bukan?! Jika aku tak bisa mengetahuinya maka aku takkan bisa berada di sisimu!".


Perempuan ini seperti stalker. Bahkan memaksaku bilang rahasianya, memangnya aku ini tak memiliki ruang privasi apa disini?


"Singkatnya kamu mau tahu rahasiaku bukan?" tanyaku,


"Mhm.." jawabnya sambil mengangguk.


Aku berjalan mendekati Anna dan berdiri didepannya.


"Kau... benar-benar ingin tahu?",


"Eh?",


"....",


"Ya. Aku ingin tahu!",


"Baiklah... sebelumnya aku bilang bukan apa yang aku pikirkan ini terkait dengan masa laluku?",


"Mhm..",


"Masa lalu itu tak terkait dengan keluarga kandungku, Wynox, kamu, ataupun Magicufer, apakah aku pernah bilang begitu?",


"Ya...",


"Kalau begitu ini jawabannya.. aku sedang memikirkan masa laluku... yang mana itu sendiri terkait dengan... penderitaan masa kecilku...",


"Penderitaan masa kecilmu?",


"Apakah aku sudah pernah bercerita tentang ini kepadamu? Karena sejauh yang kuingat aku hanya menceritakan ini kepada Mashiro dan Tohka.",


"Belum...",

__ADS_1


"Kalau begitu inilah.. ceritanya... Cerita sebelum aku yang ada di depanmu ini muncul.".


Aku pun menceritakannya kepada Anna, dengan begini ada 3 orang yang mengetahui masa laluku...


__ADS_2