
"Jadi singkatnya adalah Alam Semesta mu dan kamu dalam bahaya dan butuh pertolongan, sehingga kamu mengirimkan telepati paksa kepada seseorang yang akan menerimanya dan itu tertuju kepada Nakano. Begitu?" kata Anna,
"Ya. Benar." jawab Aoi,
"Begitu ya. Aku mengerti. Aku dan teman-temanku yang lain akan membantumu juga.",
"Eh? Kalau begitu, aku tak memiliki alasan untuk menolaknya.".
Anna tersenyum dan setelah itu dia melihat ke arahku.
"Nakano. Kamu baik-baik saja?",
"Ya. Aku baik-baik saja.",
"Kamu berbohong lagi. Kamu tidak baik-baik saja. Bahkan mata waktu mu tak mau menyembuhkan lukamu dengan cepat.",
"Begitu ya... aku ketahuan mungkin.",
"Tetaplah disini bersama Keiko. Aku dan yang lain akan mencari bahan-bahan sisanya. Berapa sisanya?",
"Sisanya ada 2." jawab Keiko,
"Begitu. Berikan gulungannya kepadaku.".
Keiko berjalan ke arah Anna dengan pelan. Setelah itu, dia memberikan gulungan kertas berisi informasi tentang bahan sisanya. Anna melihatnya dan membacanya sebentar.
"Begitu ya. Kalau begitu tetaplah disini.",
"Ya. Hati-hati. Ada monster bernama "Leviathan" menjaga bahan-bahan itu. Sama seperti sebelumnya." kata Keiko,
"Aku mengerti. Aku akan hati-hati. Terimakasih atas informasinya.".
Anna membalikkan badannya dengan kepala yang masih menghadap ke Keiko.
"Sampai jumpa lagi. Cepatlah sembuh.".
Anna membalikkan kepalanya dan berjalan ke arah teman-temanku yang lain. Mereka berempat meloncat bersamaan menuju ke atas balok besar di atas kami semua.
__ADS_1
-----
Hai. Salam kenal! Aku Sei! Pengganti tokoh utama sementara dalam bab ini! Mungkin ini terlalu mendadak tetapi kumohon agar tetap nyaman ya! Dan juga... aku akan berada dalam beberapa bab kali ini untuk menggantikan Nakano! Kalau begitu ku lanjutkan!
-----
Aku, Murasame Sei, dan teman-temanku yaitu, Artoria, Tohka, dan Anna, pergi ke tempat awal jalan menuju bahan-bahan. Kami telah diberitahu sebelumnya oleh Aoi kalau bahan yang ada di bagian Barat Daya dan Barat Laut telah ada berkat Nakano dan Keiko sebelumnya, karena itu kami mengambil jalan arah Tenggara! Kami berjalan lurus dan bertemu dengan portal yang diceritakan oleh Keiko.
"Jadi ini portal yang dimaksudnya?" tanya Anna,
"Ya. Menurutku begitu. Kalau begitu, yang penting lagi..." kata Tohka,
"Apa yang lebih penting lagi?" tanya Artoria,
"Apakah... kita memiliki benda yang bernama Energy Cube yang dimaksud oleh Keiko sebelumnya?",
"Eh... itu.... belum sih..." kataku,
"Terus bagaimana? Keiko tahu kalau Energy Cube nya habis tetapi tak tahu cara mendapatkannya kembali, bahkan Penguasa Alam Semesta ini sekalipun!",
"Mungkin kita bisa menemukannya di luar tempat 6 Senjata itu lagi." kata Anna,
Kami kembali ke luar ke tempat 6 Senjata lagi. Kami mencari di setiap sudut ruangan 6 Senjata itu. Aku berjalan di antara 6 Senjata itu mencari sesuatu yang rahasia. Aku berjalan mendekat ke tengah 6 Senjata yang posisinya membentuk segi enam itu. Aku berjalan ke tempat yang ditengahnya tak ada apa-apa, melainkan bangunan besar yang membentuk seperti menara.
Aku berjalan ke sisi-sisi bangunan aneh itu dan menemukan tulisan aneh yang tak dapat ku baca. Aku menganggap kalau itu hanyalah bentuk-bentuk aneh yang tidak penting, kemudian aku berjalan mengelilingi bangunan itu. Tiba-tiba, bangunan itu mengeluarkan tangga di setiap sisinya. Sisinya ada 4 dan membentuk segiempat.
Aku berjalan menaiki tangga yang di sajikan itu. Aku kemudian melihat ada tombol berbentuk segiempat dan tanpa pikir panjang aku menekannya. Dari atas tiba-tiba mengeluarkan laser ke hadapanku. Aku berjalan mundur kebelakang, tetapi karena dibelakang ku tangga dan itu membuatku hampir jatuh, tetapi untung saja Artoria menangkap ku. Dia menggendongku dan membawaku menjauh dari tangga.
Aku dan teman-temanku berkumpul.
"Sei, Kamu baik-baik saja?" tanya Tohka,
"Ya. Aku baik-baik saja berkat Artoria. Terimakasih Artoria." kataku,
"Ya. Sebaiknya kamu berhati-hati. Kita tak tahu bahaya apa yang akan muncul menghadapi kita nanti." jawab Artoria,
"Baiklah.".
__ADS_1
Artoria menurunkan ku dan kami semua melihat ke arah menara yang menjatuhkan laser ke bawah. Menara itu membentuk batu hijau aneh yang besar. Setelah beberapa saat, laser hijau itu berhenti menyambar kan laser nya dan terciptalah batu hijau yang mirip seperti yang dikatakan oleh Keiko.
"Itukah batu hijau yang seperti yang dikatakan Keiko?" tanya Tohka,
"Ya. Mungkin. Menurutku begitu." jawabku.
Kami berempat maju ke sana penuh keraguan. Apa yang akan terjadi kepada kami jika kami mendekat?
Kami berjalan dengan hati-hati mendekati batu hijau itu. Kami masuk di antara 6 Senjata segi enam itu dan tak terjadi apa-apa. Kami merasa lega dan kami menurunkan kewaspadaan kami. Kami berjalan seperti normal ke depan. Kami berjalan naik dengan tangga ke menara yang menyediakan batu hijau itu. Kami naik dengan arah yang berbeda, Anna utara, Tohka timur, Artoria barat, dan Aku selatan. Kami naik tangga dan mendekati batu hijau itu.
Setelah kami mendekat, tak terjadi apa-apa.
"Bagaimana kita mengangkatnya? Kita harus memisahkan ini menjadi 3 bagian!" kata Tohka,
"Ya. Kita sebagai perempuan tak mungkin bisa mengangkat batu ini walaupun itu Artoria dengan fisik paling kuat di antara kita semua sekalipun!" kataku,
"Kita harus memisahkannya menjadi 3 dan yang bisa melakukannya hanya Artoria dengan fisiknya!" kata Anna,
"Kalau begitu pendapat kalian, aku juga tak bisa menentangnya. Akan aku lakukan!" kata Artoria.
Artoria mengeluarkan pedangnya dari saku pedangnya yang ada di sampingnya dan mengangkat pedangnya ke atas. Artoria menghantam batunya dari atas ke bawah dan melakukannya berulang sebanyak 15 kali seperti menambang. Dan setelah beberapa saat berlalu, akhirnya batu itu berpencar menjadi 3 bagian. Anna mengambilnya dan dia menggunakan semacam sihir aneh yang membuka ruang hampa. Kami semua terkejut. Anna memasukkannya ke ruang hampa itu dan menutupnya kembali. Itu pun mengeluarkan efek seperti bayangan dan hilang begitu saja.
"Tunggu-- Anna! Apa yang kamu lakukan!" kataku,
"Oh. Ini sihir baruku. Aku dapat membuka ruang hampa dan menyimpan barang di dalamnya. Tenang saja, ruang hampa ku tak akan menyerap apapun bahkan udara sekalipun dan juga barang yang sudah di masukkan takkan hilang. Percaya kepadaku. Aku telah melakukannya sebelumnya sebanyak 10 kali dan barangnya tak hilang. Dan akhirnya ku namakan sihir itu dengan nama "Penyimpanan Ruang Hampa."." Jelas Anna,
"Begitu? Baguslah." kataku,
""Penyimpanan Ruang Hampa"? Nama yang simpel ya." kata Artoria,
"Kalau begitu. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita!" kataku dengan semangat,
"Ya!",
"Ya!",
"Ya!".
__ADS_1
Jawab mereka berempat secara bersamaan dan kamipun melanjutkan perjalanan.