
Tempat dimana teman-temanku berada. Mereka memikirkan keadaanku, mereka menghawatirkan ku dan ibuku.
"Apakah Bibi Usagi baik-baik saja?" tanya Tohka khawatir,
"Kenapa kamu mencemaskan nya?" tanya Yo,
"Yah... ini kan sudah satu jam semenjak dia pergi..",
"Memang aneh jika itu benar-benar dipikirkan.".
Setelah kalimat itu dilontarkan, suasananya berubah. Mereka semua mulai mencemaskan ibuku. Tetapi Yo mencoba meyakinkan mereka semua bahwa ibuku akan baik-baik saja.
"Jangan khawatir. Dia bukan wanita yang lemah.... Aku yakin dia pasti akan kembali dengan anaknya kemari.",
"Semoga saja." kata Anna,
"Semoga saja? Apakah kamu tak yakin dengannya?!",
"Tidak. Aku bukannya tak yakin. Melawan penguasa alam semesta memang bisa dibilang mustahil, tetapi bagi Nakano yang mewarisi kekuatan ayahnya itu bukanlah sesuatu yang mustahil.",
"Apa maksudmu?",
"Hmm...? apakah kalian tak mengetahui kalau Sakamaki Nakano itu reinkarnasi dari Nakano Wynox?",
"EEHH?! Kau bohong kan?".
Artoria yang mendengar pembicaraan antara Yo dan Anna mulai ikut campur.
"Buat apa Anna bohong apalagi di situasi seperti ini?",
"Benar kah...? Itu sedikit mengejutkan karena sosoknya berbeda sekali dengan Nakano Wynox. Bagaimana kalian tahu tentang itu?",
"Aku ini istri pertama Nakano Wynox dulu. Sedangkan Artoria itu istri ke dua nya." kata Anna
"Be-begitu ya...",
"Hmm..? Aku kalau tak salah pernah mendengar kalau Nakano Wynox memiliki 3 istri dimasa lalunya mana yang ketiga? Jangan bilang kalau istri ketiganya adalah dik Tohka?!" lanjut Yo,
"Hmmm..? Ya. itu benar kok. Aku adalah istri ketiganya." kata Tohka,
"EEEHH?! BOHONG?! Padahal gambaran mu yang dulu beda jauh dengan yang sekarang.",
"APA KATAMU?!".
Tohka menarik nafas dan mengembuskan nya sebelum melanjutkan perkataannya.
"Yah... harus kuakui kalau aku yang sekarang memang berbeda jauh dengan yang dulu. Tetapi hanya warna rambutku dan nama saja yang berubah. Sisanya tidak." jelas Tohka,
"Ya. itu benar apa kata Tohka. Sama seperti dadanya yang masih tak ada isinya sampai sekarang." tambah Anna.
"Bang!* —Dengan cepat Tohka memukul kepala Anna dengan keras. Tohka menghela nafas dan mulai tenang kembali.
__ADS_1
"Yah... intinya adalah... kami bertiga telah berubah. Tak terlalu banyak tetapi kami telah berada di jalan yang benar. Sakamaki Nakano juga begitu... hanya saja..." Jelas Tohka,
"Hanya saja?" tanya Yo,
"Nakano Wynox telah mengetahui apa yang dilakukan reinkarnasinya, Sakamaki, dan mencoba merebut tubuh Sakamaki dan melakukan hal yang sama kembali... Singkatnya... mereka tak bisa dan tak mau mengakui satu sama lain walaupun takdir memaksa mereka sekalipun." Tambah Tohka,
"Kenapa?",
"Kami tak tahu. Saat kami menanyakannya kepada Sakamaki sendiri, dia menjawabnya dengan tidak jelas walaupun dijelaskan panjang lebar seperti dia menghindari pertanyaan itu dengan caranya sendiri.",
"Begitu ya... Kalian bagaimana?",
"Bagaimana apanya?",
"Kalian berpihak kepada Sakamaki Nakano atau Nakano Wynox?",
"Yah... Itu... Anu...",
"Yah... anu...",
"Itu sih... anu...".
(Mereka ragu kepada pilihannya.).
Yo menghela nafas dan mulai menenangkan pikirannya.
"Sudahlah. Jangan dipikirkan kembali. Menurutku sebaiknya kalian berpihak kepada Sakamaki Nakano karena dia memilih jalan yang tepat. Tapi pilihannya ada ditangan kalian. Kembali menjadi pembunuh atau bertobat, itulah pilihan kalian sekarang." Jelas Yo.
*Tok Tok Tok* suara hentakan kaki yang terdengar terburu-buru. Mereka semua yang berada di ruang tamu istana Pion Putih teralihkan perhatiannya kepada suara itu. Merek melihat ke arah lorong dimana suara itu keluar. Asal suara itu secara perlahan mulai menampakkan dirinya. Seketika... mereka terkejut, terdiam melihat apa yang mereka lihat. Sosok berambut merah memiliki mata waktu di mata kirinya dan yang baru... headset yang menutupi kedua telinganya, benar-benar mirip dengan seseorang yang mereka kenal. Ya, itu aku tentu saja.
Aku berjalan dari balik bayangan lorong dengan ibuku di sampingku. Aku berjalan dengan senyuman sombong yang terpapar di wajahku, ibuku berpikir kalau itu membuatku terlihat makin mirip dengan ayahku.
"Nakano!" panggil Sei,
"Nakano!" panggil Tohka bersamaan dengan Sei.
Teman-temanku— Bukan. Calon-calon istriku berlari ke arahku dan langsung memelukku. Itu membuatku sedikit terkejut tetapi aku langsung memeluk mereka kembali. Setelah beberapa detik, kami melepaskan pelukan kami satu sama lain.
Setelah itu, Sei menatapku dengan mata penuh kecemasan.
"Nakano... Kamu baik-baik saja kah..?" tanyanya dengan suara polos seperti anak kecil.
Aku melihat ke arah Sei dan entah kenapa aku malah menyadari sesuatu yang mesum. Dada besar yang menggoda dan wajah tembem seperti bayi, benar-benar menggoda. Wajahku entah kenapa seperti memaksaku tersenyum sendiri. Aku pun langsung memalingkan wajahku ke arah yang lain.
"Y-Ya... aku baik-baik saja..." kataku.
Sei melangkah, bergerak lebih dekat ke arahku.
"Benar kah..?".
Mataku tiba-tiba seperti ingin melihat ke arah Sei tetapi aku bersikeras untuk menolak dan mengarahkannya ke arah yang lain. Apakah ini efek dari headset itu atau... ini adalah kebiasaan ayah?!
__ADS_1
"Ya.. aku benar-benar baik-baik saja." kataku dengan mata yang menghadap ke arah lain menolak godaan tubuh Sei yang besar.
Setelah aku melontarkan jawabanku. Sei melangkah 2 langkah lebih jauh dariku.
"Begitu ya... kalau begitu baguslah!" katanya.
Apa-apaan tadi itu? Kenapa mataku tertarik dengan tubuh mungil Sei?! Apakah ini efek headset itu... atau ini adalah kebiasaan dulu ayah? Apakah ayahku seorang lolicon?!
"Kalau begitu bagus ya. Nakano! Kita bisa melanjutkan perjalanan kita besok!" kata Artoria secara tiba-tiba.
Aku melirik ke arah Artoria dan menjawabnya.
"Ya. Itu benar— eekk?!" jawabku.
Lagi-lagi mataku melirik kepada sesuatu yang mesum, sekarang adalah dada besar Artoria. Wajahku memaksaku mengeluarkan senyuman mesum yang aku tahan barusan. Bahkan ke Artoria yang dewasa dan disiplin juga?! Cih! DASAR AYAH MESUUUMMMM!!!!
Artoria yang mendengar ku mengeluarkan suara aneh barusan mulai penasaran.
"Nakano..?" panggilnya,
"A-Ada apa?" tanyaku,
"Tidak.... Apakah kamu baik-baik saja..? Ini bukan berarti aku peduli kepadamu ya! Hmph!" katanya sambil memalingkan wajahnya diakhir kalimat.
"Y-Ya Aku baik-baik saja..." jawabku.
....Mungkin.....
"Be-begitu ya. Baguslah!" kata Artoria dengan wajah merona sebelumnya.
Tsundere memang beda ya. Hanya menanyai tentang keadaan saja harus ditutup-tutupi, apalagi dengan wajah merona. Yah... tak apalah. Lagian juga saat dia mengeluarkan sifatnya itu, dia kelihatan imut.
"Yosh. Besok, kita akan melanjutkan perjalanan kita ke Alam Semesta Machinery!" kataku dengan semangat,
"Jarang sekali melihatmu penuh semangat, Nakano..." kata Tohka,
"Yosha!" kata teman-temanku dan aku secara bersamaan.
Yo yang mendengar hal itu, terkejut sebentar dan langsung berbicara.
"Kalian akan pergi ke Alam Semesta Machinery?!" tanya Yo,
"Ya. Karena itulah... mohon bantuannya ya! Bibi Yo!" kataku dengan senyum lebar di wajah.
Seketika saat Yo melihat senyuman itu, dia mengingat seseorang. Ayahku. Dia mengingat senyuman itu yang mirip dengan senyuman yang selalu dipaparkan oleh ayahku. Dia mengedipkan matanya sekali dan tersenyum serta menjawab kata-kataku.
"Ya. Kalian akan disambut! Kita akan pergi besok ya!" kata Yo dengan semangat,
"Yosh!" jawab kami semua.
Sementara itu di Ender End. Keiko yang selesai membaca buku ke-1034 nya. Dia menutup bukunya dan menghela nafas, melihat ke atas. Dia mulai berbicara kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Nakano depresi ya.... Huff... Aku padahal ingin ke sana tetapi... hal yang sama juga terjadi disini. Apakah Nakano tahu tentang hal ini atau tidak ya?".