Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 92, Masalah Ketiga


__ADS_3

Hari ini... aku berada di kamarku selama seharian penuh. Setelah yang terjadi kemarin, bahuku masih nyeri tetapi lukanya sudah pulih tanpa sisa. Sumiko selalu ke kamarku semenjak kemarin, hubungan kami mulai membaik sebagai teman. Biasanya dia akan datang ke kamarku untuk berbicara apapun, mungkin semenjak dia kehilangan temannya dia merasa kesepian. Aku jadi penasaran apakah dia memiliki teman lainnya atau tidak, deh apa yang aku pikirkan. Dia itu Sumiko, sudah jelas dia tak memiliki teman lainnya.


Hari ini aku tak tahu harus apa. Aku latihan lebih banyak tadi pagi dari biasanya tetapi setelah itu aku tak tahu harus berbuat apa hari ini. Hari-hari disini penuh kebosanan, entah kenapa aku sekarang malah berharap kalau Sumiko akan ke kamarku seperti biasanya. Tetapi ini aneh, biasanya dia akan ke kamarku secara diam-diam, apakah dia sedang sibuk?


Aku bangkit dan duduk di atas kasur dan berteleportasi ke depan pintu Sumiko. Aku mengetuk pintu sebanyak 3 kali dan jawaban pun keluar dari balik pintu.


"Ya.".


Sumiko membuka pintu dan melihat aku sedang berdiri di depan pintu.


"Ah.. Nakano.. Ayo masuk." katanya.


Aku pun masuk ke dalam. Aku melihat buku berserakan dimana-mana memenuhi ruangan. Aku terkejut sebentar sebelum bertanya.


"Apa yang kamu lakukan hari ini?" tanyaku,


"Aku hanya belajar. Aku kemarin terlalu lama di dalam kamarmu sehingga waktuku untuk belajar aku benar-benar melupakannya. Jadi hari ini aku putuskan untuk menggunakan waktuku untuk belajar. Jadi, apa yang kamu perlukan? Jangan bilang kamu kesepian dan bosan sehingga datang ke kamarku.",


"Memang begitu. Semenjak kamu mengeluarkan peraturan "harus minta izin padamu kalau aku ingin keluar" itu, aku mulai bosan.",


"Kalau begitu aku tak keberatan mencabutnya.",


"......Eh?",


"Aku tak keberatan mencabut peraturan itu.",


"Kamu bersungguh-sungguh?",


"Ya. Karena kamu telah menceritakan alasanmu membutuhkan kekuatanku, aku tak perlu khawatir aku akan kehilangan itu jadi aku tak keberatan mencabutnya jika kamu mau. Aku juga sudah berpikir kalau kamu adalah orang yang baik yang tak bisa merenggut sesuatu yang berharga bagi orang lain secara paksa.",


"Kalau begitu...".


Aku membungkukkan badanku dan berterimakasih.


"Terimakasih banyak!".

__ADS_1


Sumiko menyilang tangannya dan menyandarkan tubuhnya kesamping.


"Aku tak keberatan. Jadi, apa yang mau kamu lakukan?",


"Aku ingin mencari tahu tentang GsK. Alasan kenapa mereka melakukan itu dan aku juga... merasakan firasat buruk tentang mereka. Firasat ku bilang kalau aku membiarkan kelompok ini bergerak, sesuatu yang besar dan buruk akan terjadi.",


"Alasan mereka melakukan itu adalah karena mereka menolak keberadaan tuhan, memangnya ada alasan lain apalagi?",


"Aku hanya merasa ada alasan lainnya dibalik semua ini.",


"....".


Sumiko menghela nafas lalu berbicara.


"Terserah kamu ingin melakukan apa. Tetapi jangan sampai membuat alam semesta ini dalam bahaya ya.",


"Siap!".


Aku langsung berteleportasi ke kamarku, berganti pakaian dan langsung berteleportasi ke kota. Sedangkan Sumiko yang melihatku berteleportasi berpikir kalau aku ini anak aneh yang menarik.


(Anak aneh. Tetapi... begitulah sifat temanku ini...)


(Jika apa yang dikatakan Nakano itu benar, maka aku berharap besar kepadanya. Tidak hanya aku, tetapi alam semesta ini. Semoga sesuatu yang buruk takkan terjadi kepadanya nanti.)


Dia meregangkan tubuhnya dan mulai belajar kembali.


(Sekarang, aku akan lanjut belajar lagi! Agar aku bisa mengendalikan kekuatan ini dan membantu Nakano nantinya!)


Ditempat ku berada, ditengah kota. Aku melihat ke sekeliling tapi sayangnya tak ada sesuatu yang terjadi di sekitarku. Seketika, ada ledakan kecil yang tak jauh di depanku. Ledakan itu memunculkan asap yang berterbangan di udara. Aku melihat ke asap itu dan langsung berteleportasi dekat dengan asap itu. Betapa beruntungnya aku bisa menemukan masalah di siang bolong.


Saat sampai disana, aku melihat ke arah ledakan itu dan melihat sekelompok pemadam. Mereka adalah yang lalu. Mereka mengatasi monster itu dan mendoakannya.


"Wahai jiwa yang bergentayangan. Akan aku suci kan kau dan membebaskan mu dari penderitaan mu... Accell." kata perempuan berambut pirang itu,


"Accell." kata semua anggota itu.

__ADS_1


Aku melihat mereka terheran-heran, kenapa mereka mendoakan seekor monster. Tiba-tiba ada suara dari belakang menyapaku.


"Kukira siapa ternyata kamu ya." kata suara itu.


Aku melihat ke belakang dan melihat sosok yang kukenal berdiri di hadapanku. Itu.... kalau tak salah namanya.... ah, benar! Sanae!


"Memangnya kenapa? Tak boleh?" tanyaku,


"Kurang lebih. Kalau kamu mau melihat kejadian itu, sebaiknya kamu melihatnya dari kejauhan, atau di jalanan. Jangan di atap, jika kamu berdiri di atap, kamu akan dicurigai.",


"Wah, Apakah kamu tak mencurigai aku lagi?",


"Mana mungkin, aku tetap mencurigai mu. Tetapi selama kamu tak melakukan apapun yang mencurigakan, aku akan membiarkanmu. Karena itu, jangan muncul di kawasan dekat dengan misi kami lagi!",


"Aku bisa saja melakukan apa yang kamu minta yang pertama, tetapi untuk yang kedua aku tak bisa.",


"Hah? Apa maksudmu?",


"Aku ingin tahu alasan kenapa GsK membunuh dewa. Salah satu temanku terlibat dalam masalah ini, dia memiliki sesuatu yang harus dilakukannya kepada GsK. Dan lagi aku juga cukup tertarik dengan masalah GsK ini.",


"Hoh... Sepertinya kamu terlibat cukup jauh.".


Sanae mengeluarkan sebuah buntut api mirip kucing. Buntut itu menyerang ke arahku, aku langsung menghindar mundur ke belakang.


"Kau! Siapapun namamu! Kamu telah dicurigai dari tim GsK!" kata Sanae dengan tegas.


Dicurigai dari tim GsK? Oh bagus. Aku makin terlibat sangat jauh, benar-benar sesuai harapan.


Sanae maju dengan kecepatan bukan manusia, dia menyerangku dengan tangan berpose seperti mencakar. Dia menyerangku sebanyak 6 kali tetapi semuanya terhindar olehku. Serangannya sangat lama untukku, ini menjadi kurang menarik. Sebelum ketertarikan ku terhadap tim GsK punah karena kebosanan ini, lebih baik aku mengakhirinya dengan cepat.


Aku mendorong diriku ke depan Sanae, aku bersiap meninju dan meninju ke wajah Sanae. Hembusan angin keras menarik banyak perhatian, membuat kelompok pemadam di bawah tertarik perhatiannya. Mereka langsung dibuat khawatir dengan itu.


Saat hembusan anginnya selesai, Sanae gemetar ketakutan. Dia langsung jatuh duduk walaupun sebenarnya aku tak meninju wajahnya. Aku meninju tetapi berhenti tepat didepan mukanya. Dia jatuh gemetar ketakutan akan kekuatanku. Aku langsung mengulurkan tanganku membantunya berdiri.


"Kamu baik-baik saja?",

__ADS_1


"...eh...?...",


"Asal kamu tahu saja ya, itu bukanlah kekuatan penuh ku.".


__ADS_2