Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 48, Pertarungan Terakhir dan Tombak.


__ADS_3

Ditempat ku dan Wynox berada, yaitu tengah kota Abyss. Aku berteleportasi ke belakang Wynox. Wynox menggunakan Wind Wall untuk menghentikan seranganku, tetapi aku menghancurkannya. Aku berputar dan bersiap menyerang lagi. Aku menyerang Wynox, tetapi dia menunduk.


Aku berteleportasi ke atas kepala Wynox dengan pedangku, Excusifer di atas kepalaku. Aku mengayunkan pedangku kebawah. Tetapi, tanah di bawahku membentuk jarum yang mencoba menyerangku. Setelah itu, Wynox melakukan putaran ke belakang.


Aku berteleportasi lagi ke depannya. Dari samping, aku mengayunkan pedangku menyerangnya lagi. Serangan pertamaku ditangkis olehnya dengan belatinya. Aku melakukan serangan kedua, ketiga hingga keenam, tetapi semuanya ditangkis oleh Wynox. Aku berteleportasi ke samping kanan Wynox dan menyerangnya. Wynox meloncat ke depan. Aku berteleportasi ke tempat Wynox meloncat dan menyerangnya, tetapi itu ditangkis oleh belatinya.


Aku berteleportasi dan terus menyerang. Berteleportasi ke samping kanan, kemudian ke belakangnya, dan kemudian samping kiri. tetapi tertangkis semua. Aku berteleportasi ke depannya dan dengan cepat menendangnya. Wynox tak menyadari serangan itu karena dia telah dibuat lengah karena serangan cepat milikku barusan.


Wynox terlempar jauh ke belakang. Lemparannya menghancurkan bangunan-bangunan yang ada di sekitar. Dia kemudian meloncat ke atas bangunan yang paling tinggi.


Sementara di kota bagian Utara, Selatan, Timur, dan barat. Semua penduduknya terheran-heran tentang ledakan yang terjadi di istana yang ada di ujung kota Abyss. Istananya hancur berkeping-keping. Kemudian, penduduknya dibuat terkejut karena ada ledakan besar di dekat kota utama. Kemudian dimasing-masing wilayah, ada yang berteriak kepada mereka.


"SEMUANYA LARI KE ARAH SINI!" Teriak seorang wanita kepada penduduk di kota bagian Utara. Semua penduduk disana teralihkan kearah seorang wanita itu, Tohka! Semuanya menurut ke perkataan Tohka karena melihat hal itu. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dan lebih memilih mengikuti perkataannya. Begitu juga yang terjadi di kota bagian Barat, Timur, dan Selatan, semuanya menuruti perkataan teman-temanku.


Tiba-tiba ada suatu cahaya merah yang bersinar terang di langit malam. Pergerakan mereka semua terhenti. Semuanya terpacu kepada cahaya merah itu. Cahaya merah itu berasal dari belati milik Wynox, Sabit Merah.


Ditempat ku berada. Aku juga tidak tahu apa ingin yang dilakukan oleh Wynox. Sinar bulan merah yang berada dibelakangnya, menyinari belatinya. Tiba-tiba, belatinya menghilang. Bulan mulai di tutupi dengan awan-awan hitam sehingga aku tak bisa melihatnya lagi.


Wynox mengangkat tangannya ke atas. Seketika, dibalik awan-awan hitam itu ada sinar berwarna merah. Sinar itu semakin terang dan terang.


Tiba-tiba awan-awan itu membuat sebuah lingkaran besar di langit dengan semacam tombak cahaya merah di tengahnya. Tombak itu sangat besar, saking besarnya itu bisa menghancurkan kota ini. Aku mulai paham. Tujuan Wynox adalah... menghancurkan kota dan membunuh seisinya, termasuk aku dan penguasanya. Singkatnya... dia ingin menghancurkan alam semesta ini.


Aku teringat oleh sesuatu. Aku sadar dari semacam mode penyerangan ku. Aku tahu harus berbuat apa... melindungi alam semesta ini! Tapi bagaimana? Dengan kekuatanku yang sekarang, aku tak akan bisa! Tidak, aku bisa! Aku perlu mencoba!


"SELAMAT TINGGAL DIRIKU!" Teriak Wynox. Kemudian dia mengayunkan tangannya kebawah.

__ADS_1


Dengan perlahan, Tombak itu bergerak. Semakin cepat dan cepat. Aku tak bisa berpikir lebih panjang.


Aku meloncat ke arah tombak dan menutup mataku. Selamat tinggal dunia... selamat tinggal semuanya... selamat tinggal... impianku... Seketika aku melihat semua kenangan indah dan buruk yang sudah aku alami sebelumnya. Aku sudah bersenang-senang.


Aku mengayunkan pedangku ke tombak itu. Aku tak bisa menahan kekuatan tombak itu lebih lama. Dan di genggamanku, Pedang Excusifer hancur tak bersisa. Sisanya hanyalah diriku.


Tiba-tiba, ada yang seperti memelukku. Pelukan yang hangat dan lembut, penuh kasih sayang. Aku terdorong ke belakang. Aku membuka mataku... aku masih hidup!


Aku membuka mataku melihat ke arah bawah, melihat seorang wanita yang berpakaian mirip seorang ninja. Aku melihat ke arah mukanya dan melihat wajah Tohka. Aku melihat ke arah badannya.


"AAAAAAAAA!!!!" Teriakku dengan sangat keras. aku melihat Tohka tertusuk oleh tombak itu. Tombak itu mengincarku. Aku panik tak bisa tenang. Terus menerus berteriak.


Tohka membuka matanya dan melihat ke arahku. Dia mengucapkan beberapa kata.


"Syukurlah... kau baik-baik saja...." katanya sambil tersenyum bahagia.


"Semuanya... aku... senang... kalian... baik-baik saja..." katanya. Anna cepat bertindak.


"Tohka bertahanlah!" kata Anna,


"Maaf... aku.. sudah ingin... pergi...",


"BERTAHANLAH! Kau akan baik-baik saja!" kata Artoria menyela,


"Aku berterimakasih... karena kau... sudah... mencemaskan ku.. Tetapi... sudah terlambat... aku akan segera pergi...".

__ADS_1


Aku meneteskan air mataku... untuk pertama kalinya... Tangan Tohka bergerak ke wajahku dan mengusap air mataku.


"Jangan... menangis... ya?" katanya,


"Selamat tinggal... Nakano... Aku sudah bahagia... bisa bertemu... denganmu..." —sambil tersenyum. Kemudian dia tak bergerak lagi. Tangannya turun dari wajahku, tetapi aku menangkapnya.


*Hisk Hisk* suaraku dan yang lainnya. Aku memanggil namanya berkali-kali.


"Tohka! Tohka! Ini bercanda kan? Tohka! Tohka!" kataku. Aku menundukkan kepalaku dan menggenggam erat tangannya. Air mataku mengalir deras. Beberapa jatuh ke wajah Tohka. Aku mengangkat kepalaku dan meneriaki namanya.


"TOHKAAAA!!!".


Aku berhenti menangis. Aku meletakkan Tohka di tanah dengan perutnya yang bolong karena tombak. Mataku tertutup oleh rambutku yang lebat. Aku berjalan ke arah Wynox dengan pelan-pelan dan tak seimbang layaknya orang yang mabuk. Petir hitam biru menyambar ke tangan kananku dengan dahsyat. Setelah itu, ada cahaya biru berada di tanganku. Sebuah pedang terbentuk, dan pedang itu adalah Excusifer.


"Nakano?" kata Sei yang menangis.


Wynox melihat ke arahku dengan sinis dan tajam. Aku berpindah ke belakangnya tanpa dia sadari. Tiba-tiba lengannya putus tanpa dia ketahui penyebabnya. Tetapi dengan membalikkan waktu, dia membuat tangannya pulih. Dia tak tahu apa yang dia lewati sebelumnya. Yang dia tahu adalah kalau aku berpindah bukan karena kemampuan pasifku melainkan berlari.


Seketika, Wynox merasa ada yang menusuk tubuhnya. Dia melihat ke bawah dan melihat pedangku menusuk tubuhnya. Dia membuat satu kesalahan. Karena kesalahan tersebut. Dia harus berurusan dengan seekor monster yang melebihi kekuatannya.


Tubuhnya mulai memudar dan akhirnya dia menghilang. Kemudian aku berteleportasi ke hadapan Tohka yang tertidur dan mengangkatnya.


"Nakano?" sapa Anna,


"Maaf Tohka. Semuanya... kita harus mencari tahu cara untuk membangkitkan orang mati." kataku dengan santai,

__ADS_1


"Tapi bagaimana?" tanya Sei,


"Hanya satu orang yang tahu... Amaya Keiko."


__ADS_2